Rizwi: B20 tingkatkan performa kendaraan
Rabu, 10 Juli 2019 14:02 WIB
Sample Bahan Bakar Nabati campuran 30 persen atau B30. (ANTARA/Afut Syafril)
Jakarta (ANTARA) - Direktur Pembinaan Usaha Hilir Migas Kementerian ESDM, Muhammad Rizwi Jinalisaf Hisjam menyebutkan bahwa dalam pengimplementasian B20 justru memberikan manfaat dari sisi performa kendaraan.
"Manfaat dari B20 secara bahan bakar performanya lebih bagus. Secara kelemahan, nilai kalornya dari BBN ini lebih rendah dari BBM, tapi secara performance bahan bakar lebih bagus, benefitnya lebih banyak", ungkap Rizwi dalam informasi yang dihimpun Antara di Jakarta, Rabu.
Setelah B20, Pemerintah pun serius mengembangkan B30. Riswi menyampaikan bahwa baru-baru ini ini Pemerintah meluncurkan road test B30 dengan memberangkatkan 3 unit truk dan 8 unit kendaraan penumpang berbahan bakar B30 yang masing-masing akan menempuh jarak 40 ribu dan 50 ribu kilometer.
Hal ini sebagai bagian promosi ke masyarakat bahwa B30 memiliki performa yang baik dan ramah lingkungan.
"Kenapa kita mau mengembangkan terus B30 hingga ke B100? B100 ini kedepannya bukan artinya seluruhnya B100 dari BBN, tapi bahan bakunya menjadi bahan baku refinery. Jadi solar dicampurnya langsung di bahan bakunya. B20, B30 itu campuran 2 produk akhir yaitu FAME dicampur BBM Solar. Kalau B100 bahan bakunya yang dicampur dengan crude oil di proses di refinery, dan sudah ada campuran BBN disitu," jelas Rizwi.
Belum lama ini, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) juga telah meluncurkan Road Test Penggunaan Bahan Bakar B30 (campuran biodiesel 30 persen pada bahan bakar solar) pada kendaraan bermesin diesel, yang akan mulai diimplementasikan untuk transportasi pada 2020 nanti.
United States Department of Agriculture (USDA) mencatat, semenjak tahun 2015, Indonesia merupakan negara penghasil terbesar sawit dengan presentase 54 persen dari produksi dunia, yakni sekitar 32 juta Metrik Ton per tahun, diikuti oleh Malaysia. Indonesia dan Malaysia mengusai market share kelapa sawit dunia sebesar 84 persen.
Kebijakan mandatori biodiesel yang telah dicanangkan Pemerintah sejak Agustus 2015 pun sangat bermanfaat. Kebijakan tersebut telah berhasil menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 13,6 juta ton CO2e, meningkatkan demand terhadap CPO, penggunaan biodiesesl dari sawit sebesar 9,12 juta KL, pajak yang dibayarkan kepada negara Rp 2,47 trilliun dan penghematan devisa akibat tidak perlu import solar hingga Rp51,5 trilliun.
"Manfaat dari B20 secara bahan bakar performanya lebih bagus. Secara kelemahan, nilai kalornya dari BBN ini lebih rendah dari BBM, tapi secara performance bahan bakar lebih bagus, benefitnya lebih banyak", ungkap Rizwi dalam informasi yang dihimpun Antara di Jakarta, Rabu.
Setelah B20, Pemerintah pun serius mengembangkan B30. Riswi menyampaikan bahwa baru-baru ini ini Pemerintah meluncurkan road test B30 dengan memberangkatkan 3 unit truk dan 8 unit kendaraan penumpang berbahan bakar B30 yang masing-masing akan menempuh jarak 40 ribu dan 50 ribu kilometer.
Hal ini sebagai bagian promosi ke masyarakat bahwa B30 memiliki performa yang baik dan ramah lingkungan.
"Kenapa kita mau mengembangkan terus B30 hingga ke B100? B100 ini kedepannya bukan artinya seluruhnya B100 dari BBN, tapi bahan bakunya menjadi bahan baku refinery. Jadi solar dicampurnya langsung di bahan bakunya. B20, B30 itu campuran 2 produk akhir yaitu FAME dicampur BBM Solar. Kalau B100 bahan bakunya yang dicampur dengan crude oil di proses di refinery, dan sudah ada campuran BBN disitu," jelas Rizwi.
Belum lama ini, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) juga telah meluncurkan Road Test Penggunaan Bahan Bakar B30 (campuran biodiesel 30 persen pada bahan bakar solar) pada kendaraan bermesin diesel, yang akan mulai diimplementasikan untuk transportasi pada 2020 nanti.
United States Department of Agriculture (USDA) mencatat, semenjak tahun 2015, Indonesia merupakan negara penghasil terbesar sawit dengan presentase 54 persen dari produksi dunia, yakni sekitar 32 juta Metrik Ton per tahun, diikuti oleh Malaysia. Indonesia dan Malaysia mengusai market share kelapa sawit dunia sebesar 84 persen.
Kebijakan mandatori biodiesel yang telah dicanangkan Pemerintah sejak Agustus 2015 pun sangat bermanfaat. Kebijakan tersebut telah berhasil menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 13,6 juta ton CO2e, meningkatkan demand terhadap CPO, penggunaan biodiesesl dari sawit sebesar 9,12 juta KL, pajak yang dibayarkan kepada negara Rp 2,47 trilliun dan penghematan devisa akibat tidak perlu import solar hingga Rp51,5 trilliun.
Pewarta : Afut Syafril Nursyirwan
Editor : Aang Sabarudin
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dorong implementasi biodiesel B50 dan bioetanol E20
27 April 2026 20:31 WIB
Indonesia stop impor solar mulai 1 Juli 2026, Mentan Amran: Siap transisi ke B50
19 April 2026 18:07 WIB
Prabowo instruksikan rasio utang dijaga 40 persen dan defisit APBN maksimal 3 persen
09 April 2026 8:37 WIB
Pupuk Indonesia usulkan bangun dua pabrik metanol dukung program Biodiesel B50
03 April 2026 7:12 WIB