Palembang (ANTARA News Sumsel) - Pengusaha pempek di Kota Palembang mengaku tertekan dan merugi akibat  kenaikan tarif bagasi pesawat yang dibarengi naiknya harga bahan baku. 

Salah satu pemilik usaha pempek Pak Raden, Nuhasanah mengatakan omset usahanya bahkan menurun hingga 80 persen, terutama kios penjualan di Bandara SMB II Palembang. 

"Sangat terasa sekali pasca kenaikan bagasi lion air sejak tanggal 22 Januari, kami terpaksa merugi karena omset menurun sampai 80 persen," ujar Nurhasanah Kepada Antara News Sumsel, Kamis. 

Menurutnya kondisi tersebut juga dirasakan hampir seluruh pengusaha pempek di Kota Palembang, banyak usaha pempek merugi bahkan terancam gulung tikar. 

Dia menerangkan  usahanya pun terpaksa mulai mengurangi produksi hingga 50 persen dari biasanya, sebelumnya pempek Pak Raden bisa memproduksi 200-300 kilogram pempek perhari, namun saat ini kurang dari 100 kilogram. 

Padahal pada saat yang sama harga bahan baku pempek seperti sagu dan ikan juga tengah bergerak naik, kondisi tersebut membuat pengusaha pempek terhimpit. 

"Ikan gabus saja sudah Rp 120.000 perkilogram, sagu juga naik walaupun bertahap, di satu sisi kami tidak bisa menaikkan harga, jadi sementara ini kami mencoba bertahan dengan agak mengatur ukuran pempeknya," ujar Nurhasanah. 

Nurhasanah yang juga pembina Asosiasi Pengusaha Pempek berharap pemerintah Kota Palembang bisa membantu jalan keluar kondisi tersebut, karena secara tidak langsung jumlah pempek yang keluar Sumsel ikut berkurang. 

"Walaupun di beri pempek gratis orang tetap tidak mau bawa, karena mereka melihatnya hitungan bagasi yang mahal itu, artinya pembeli pempek untuk  oleh-oleh  makin berkurang. Pelancong juga pasti kecewa karena tidak bisa bawa banyak pempek lagi," jelas Nurhasanah.