"Smash", ruang kemarahan tempat warga Beijing melepas stres
Selasa, 15 Januari 2019 11:26 WIB
Smash (ist)
Jakarta (ANTARA News Sumsel) - Pengunjung Smash bernama Qiu Siyu beberapa kali mengayunkan tongkat baseball untuk menghancurkan apa yang terlihat seperti radio mobil tua, setelah dua temannya memukul telepon, pelantang, mesin penanak nasi bahkan manekin.
Ketiganya membayar 158 yuan atau Rp330.000 untuk setengah jam di "ruang kemarahan" Beijing, di mana para pengunjung mengenakan alat pelindung dan memakai palu serta pentungan untuk menyalurkan rasa frustasi pada barang-barang rumah tangga, sementara staf memainkan musik latar pilihan mereka.
Qiu, siswa 16 tahun, seperti dilansir Reuters, mengatakan dia berada di sana untuk menyalurkan kemarahan tentang sekolah.
"Rasanya lega setelah menghancurkan botol-botol itu," kata dia seraya tersenyum.
Sejak dibuka pada September lalu, pengunjung sudah menghancurkan sekitar 15.000 botol per bulan, kata Jin Meng (25) yang mendirikan Smash dengan teman-temannya.
Tanpa bertujuan mempromosikan kekerasan, Smash didirikan untuk membantu orang menghadapi tekanan hidup di kota besar seperti Beijing, ujar Jin, menambahkan target pengunjung mereka adalah orang berusia antara 20 hingga 35 tahun.
Pengunjung lain, Lui Chao (32), terlihat santai dan senang setelah gilirannya selesai.
"Jika kau punya uang, kau bisa menghancurkan apapun -- TV, komputer, botol anggur, perabotan, manekin, tapi satu-satunya yang tidak boleh adalah memukul manusia," kata Liu.
Tempat serupa sudah ada di negara lain, termasuk AS.
Jin mengatakan ada sekitar 600 orang berkunjung ke Smash tiap bulan.
"Seorang perempuan membawa foto pernikahannya ke sini, lalu memecahkan semuanya. Kami memperbolehkan orang untuk membawa barang mereka sendiri," ujar Jin.
"Setiap kali kami menemukan kasus seperti ini, mereka menguatkan kepercayaan kami bahwa kami memberikan tempat aman untuk meluapkan energi negatif."
Di Beijing, Jin mengatakan langkah selanjutnya adalah membuka ruang kemarahan di pusat perbelanjaan di mana orang bisa rihat dari belanja untuk memecahkan satu atau dua botol.
Ketiganya membayar 158 yuan atau Rp330.000 untuk setengah jam di "ruang kemarahan" Beijing, di mana para pengunjung mengenakan alat pelindung dan memakai palu serta pentungan untuk menyalurkan rasa frustasi pada barang-barang rumah tangga, sementara staf memainkan musik latar pilihan mereka.
Qiu, siswa 16 tahun, seperti dilansir Reuters, mengatakan dia berada di sana untuk menyalurkan kemarahan tentang sekolah.
"Rasanya lega setelah menghancurkan botol-botol itu," kata dia seraya tersenyum.
Sejak dibuka pada September lalu, pengunjung sudah menghancurkan sekitar 15.000 botol per bulan, kata Jin Meng (25) yang mendirikan Smash dengan teman-temannya.
Tanpa bertujuan mempromosikan kekerasan, Smash didirikan untuk membantu orang menghadapi tekanan hidup di kota besar seperti Beijing, ujar Jin, menambahkan target pengunjung mereka adalah orang berusia antara 20 hingga 35 tahun.
Pengunjung lain, Lui Chao (32), terlihat santai dan senang setelah gilirannya selesai.
"Jika kau punya uang, kau bisa menghancurkan apapun -- TV, komputer, botol anggur, perabotan, manekin, tapi satu-satunya yang tidak boleh adalah memukul manusia," kata Liu.
Tempat serupa sudah ada di negara lain, termasuk AS.
Jin mengatakan ada sekitar 600 orang berkunjung ke Smash tiap bulan.
"Seorang perempuan membawa foto pernikahannya ke sini, lalu memecahkan semuanya. Kami memperbolehkan orang untuk membawa barang mereka sendiri," ujar Jin.
"Setiap kali kami menemukan kasus seperti ini, mereka menguatkan kepercayaan kami bahwa kami memberikan tempat aman untuk meluapkan energi negatif."
Di Beijing, Jin mengatakan langkah selanjutnya adalah membuka ruang kemarahan di pusat perbelanjaan di mana orang bisa rihat dari belanja untuk memecahkan satu atau dua botol.
Pewarta : ANTARA
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
KSAL beri sinyal beli alutsista China selepas dampingi RI 1 ke Beijing
12 November 2024 11:51 WIB, 2024
Jelang pemutaran film Avatar, bioskop di Beijing batalkan syarat PCR
08 December 2022 12:00 WIB, 2022
Kasus kematian COVID-19 di China bertambah, Beijing lockdown parsial
21 November 2022 14:12 WIB, 2022