Akademisi: Tanaman jagung rentan penyakit saat musim hujan
Kamis, 10 Januari 2019 10:03 WIB
Arsip- Petani memanen jagung kebun jagung. (ANTARA News Sumsel/dok. Medco/I016/18/)
Purwokerto (ANTARA News Sumsel) - Saat musim hujan tanaman jagung rentan terserang jamur dan juga beberapa penyakit lainnya, antara lain karat daun, bulai, busuk pangkal, hingga busuk tongkol, kata akademisi dari Universitas Gadjah Mada, Bayu Dwi Apri Nugroho, PhD.
Bayu di Purwokerto, Rabu menjelaskan, pada musim hujan, percikan air hujan memudahkan spora jamur untuk berpindah dari satu tanaman ke tanaman lain.
"Perpindahan spora jamur bisa melalui daun atau tanah," kata ahli agrometeorologi sekaligus kepala Laboratorium Biofisik, Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem Fakultas Teknologi Pertanian UGM itu.
Dia menambahkan, kondisi ini diperparah dengan angin yang kencang menyebabkan gesekan antardaun tanaman.
"Luka akibat gesekan inilah yang menjadi pintu masuk spora jamur, keadaan yang memperparah serangan jamur," katanya.
Dia mengatakan, pengendalian jamur secara preventif bisa melakukan penanaman varietas yang tahan hawar seperti Bisma, Pioner-2, Pioner-14, Semar-2 dan Semar-5.
"Pengaturan kondisi lingkungan sangatlah penting, misalnya jarak tanam haruslah lebar, drainase yang baik, dan pemupukan yang tepat dosis," katanya.
Sebelumnya, Kelompok Tani Sri Rejeki, Desa Datar, Kabupaten Banyumas mengeluhkan tanaman jagung mereka terserang jamur mulai dari pangkal batang hingga ke daun.
Ketua Kelompok Tani Sri Rejeki, Warsito mengatakan pihaknya mengkhawatirkan pertumbuhan tanaman jagung nantinya tidak normal atau bahkan banyak yang mati.
Menurut dia, serangan penyakit akibat jamur itu memiliki gejala serangan awal berupa bercak kecil berbentuk oval.
Bercak muncul pertama kali pada daun terbawah kemudian berkembang ke atas.
Bayu di Purwokerto, Rabu menjelaskan, pada musim hujan, percikan air hujan memudahkan spora jamur untuk berpindah dari satu tanaman ke tanaman lain.
"Perpindahan spora jamur bisa melalui daun atau tanah," kata ahli agrometeorologi sekaligus kepala Laboratorium Biofisik, Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem Fakultas Teknologi Pertanian UGM itu.
Dia menambahkan, kondisi ini diperparah dengan angin yang kencang menyebabkan gesekan antardaun tanaman.
"Luka akibat gesekan inilah yang menjadi pintu masuk spora jamur, keadaan yang memperparah serangan jamur," katanya.
Dia mengatakan, pengendalian jamur secara preventif bisa melakukan penanaman varietas yang tahan hawar seperti Bisma, Pioner-2, Pioner-14, Semar-2 dan Semar-5.
"Pengaturan kondisi lingkungan sangatlah penting, misalnya jarak tanam haruslah lebar, drainase yang baik, dan pemupukan yang tepat dosis," katanya.
Sebelumnya, Kelompok Tani Sri Rejeki, Desa Datar, Kabupaten Banyumas mengeluhkan tanaman jagung mereka terserang jamur mulai dari pangkal batang hingga ke daun.
Ketua Kelompok Tani Sri Rejeki, Warsito mengatakan pihaknya mengkhawatirkan pertumbuhan tanaman jagung nantinya tidak normal atau bahkan banyak yang mati.
Menurut dia, serangan penyakit akibat jamur itu memiliki gejala serangan awal berupa bercak kecil berbentuk oval.
Bercak muncul pertama kali pada daun terbawah kemudian berkembang ke atas.
Pewarta : Wuryanti Puspitasari
Editor : Aang Sabarudin
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Polda Sumsel produksi 186.273 ton jagung, turut jaga ketahanan pangan 2025
31 December 2025 22:01 WIB
Siti Hediati Soeharto dan empat pejabat negara dapat gelar adat Komering
27 September 2025 20:37 WIB
Terpopuler - Makro & Mikro
Lihat Juga
Desa Bukit Makmur raih penghargaan 15 desa terbaik nasional Program BRILiaN 2025
11 November 2025 15:18 WIB
Pusri resmikan Rumah Kompos di Desa Tebat Benawa, dukung pengembangan kopi lokal
18 July 2025 16:03 WIB