Korban gempa mengungsi ke Buleleng
Selasa, 21 Agustus 2018 10:28 WIB
Arsip- Sejumlah korban gempa bumi berada di tenda pengungsian SDN 1 Obel-Obel, Kecamatan Sambelia, Selong, NTB, . (ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi)
Singaraja, Bali (ANTARA News Sumsel) - Seorang warga Gili Trawangan, Desa Gili Indah, Kecamatan Pemenang, Lombok Utara, yakni Maulidin (33), terpaksa memboyong keluarganya untuk mengungsi hingga ke wilayah Seririt, Buleleng, karena trauma terhadap gempa yang mengguncang wilayahnya.
"Hampir setiap hari, kami khawatir dengan gempa, karena itu kami mengungsi ke Kecamatan Seririt sejak Rabu (15/8) dan menumpang di rumah orangtua sampai kondisi di Lombok Utara dinyatakan kondusif," kata Maulidin di Singaraja, Selasa.
Maulidin yang mengungsi ke Seririt bersama istri dan dua orang anaknya itu menjelaskan ia bekerja sebagai pedagang nasi campur di Lombok, namun gempa yang terjadi beberapa kali menyebabkan rumahnya rusak.
"Beberapa bagian tembok rumah saya retak, hingga tidak berani untuk masuk, apalagi tidur di dalam rumah," katanya.
Saat gempa pertama terjadi pada Minggu (5/8) malam, ia bersama istri dan anaknya sempat mengungsi ke bukit Gili Trawangan. Mereka berjalan kaki dari rumah menuju ke bukit tersebut sejauh kurang lebih 1 kilometer.
"Kami takut adanya bencana tsunami. Di bukit, kami tidur beratapkan langit, alasnya hanya seprei. Belum ada tenda waktu itu. Anak saya yang nomor dua, umurnya masih 1 tahun 8 bulan, kedinginan karena tidak bawa jaket sampai akhirnya jatuh sakit, dia batuk dan flu," katanya.
Dari Gili Trawangan, ia pindah lokasi pengungsian di Lapangan Sambi Bongkol, Kecamatan Bayan, Lombok Utara. Karena masih takut, karena hampir setiap hari gempa mengguncang wilayah Lombok Utara, maka ia akhirnya mengajak anak dan istrinya mengungsi ke rumah orangtuanya di Kecamatan Seririt, Buleleng.
"Saya tetap akan kembali ke Lombok, karena mata pencaharian saya ada di sana, tapi tidak dalam waktu dekat ini," katanya.
Secara terpisah, Lurah Seririt, I Gusti Bagus Sarpa Wijaya mengatakan pihaknya akan melaporkan adanya pengungsi dari Lombok Utara itu kepada Dinas Sosial atau Badan Penanggulangan Bencana Derah (BPBD) Kabupaten Buleleng.
"Siapa tahu nanti pengungsi ini bisa diberi bantuan. Secepatnya akan saya setorkan data dari keluarga Maulidin ini. Sejauh ini baru keluarga Maulidin yang terpantau mengungsi ke Seririt," katanya.
"Hampir setiap hari, kami khawatir dengan gempa, karena itu kami mengungsi ke Kecamatan Seririt sejak Rabu (15/8) dan menumpang di rumah orangtua sampai kondisi di Lombok Utara dinyatakan kondusif," kata Maulidin di Singaraja, Selasa.
Maulidin yang mengungsi ke Seririt bersama istri dan dua orang anaknya itu menjelaskan ia bekerja sebagai pedagang nasi campur di Lombok, namun gempa yang terjadi beberapa kali menyebabkan rumahnya rusak.
"Beberapa bagian tembok rumah saya retak, hingga tidak berani untuk masuk, apalagi tidur di dalam rumah," katanya.
Saat gempa pertama terjadi pada Minggu (5/8) malam, ia bersama istri dan anaknya sempat mengungsi ke bukit Gili Trawangan. Mereka berjalan kaki dari rumah menuju ke bukit tersebut sejauh kurang lebih 1 kilometer.
"Kami takut adanya bencana tsunami. Di bukit, kami tidur beratapkan langit, alasnya hanya seprei. Belum ada tenda waktu itu. Anak saya yang nomor dua, umurnya masih 1 tahun 8 bulan, kedinginan karena tidak bawa jaket sampai akhirnya jatuh sakit, dia batuk dan flu," katanya.
Dari Gili Trawangan, ia pindah lokasi pengungsian di Lapangan Sambi Bongkol, Kecamatan Bayan, Lombok Utara. Karena masih takut, karena hampir setiap hari gempa mengguncang wilayah Lombok Utara, maka ia akhirnya mengajak anak dan istrinya mengungsi ke rumah orangtuanya di Kecamatan Seririt, Buleleng.
"Saya tetap akan kembali ke Lombok, karena mata pencaharian saya ada di sana, tapi tidak dalam waktu dekat ini," katanya.
Secara terpisah, Lurah Seririt, I Gusti Bagus Sarpa Wijaya mengatakan pihaknya akan melaporkan adanya pengungsi dari Lombok Utara itu kepada Dinas Sosial atau Badan Penanggulangan Bencana Derah (BPBD) Kabupaten Buleleng.
"Siapa tahu nanti pengungsi ini bisa diberi bantuan. Secepatnya akan saya setorkan data dari keluarga Maulidin ini. Sejauh ini baru keluarga Maulidin yang terpantau mengungsi ke Seririt," katanya.
Pewarta : Made Adnyana dan Naufal Fikri Yusuf Kembali
Editor : Aang Sabarudin
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pembangunan kereta gantung di jalur pendakian Lombok Tengah dibatalkan, investor asal China kabur
04 July 2025 8:38 WIB
Jalur pendakian Gunung Rinjani Lombok sudah bisa dilalui, libatkan 17 personel TNGR
22 May 2025 7:18 WIB
PWI kecam arogansi oknum kepada wartawan meliput MBG di Lombok Timur
15 January 2025 12:21 WIB, 2025
Pria tanpa lengan di NTB dipolisikan atas aduan asusila ke mahasiswi
02 December 2024 10:32 WIB, 2024
Terpopuler - Lintas Daerah
Lihat Juga
Prakiraan cuaca Jakarta Rabu 11 Maret 2026, waspadai hujan ringan pada siang hari
11 March 2026 8:41 WIB
Daftar wilayah banjir Jakarta Minggu ini: Pela Mampang jadi titik terdalam hingga 150 cm
08 March 2026 8:13 WIB
Banjir terjang 5 kecamatan di Kabupaten Tangerang, ketinggian air capai 1,5 meter
08 March 2026 7:22 WIB