Aksesoris eceng gondok jadi rebutan di Malaysia
Kamis, 5 April 2018 12:39 WIB
Seorang perajin merajut kerajinan dari enceng gondok di Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat, belaum lama ini. (Antara Aceh/Syifa)
Meulaboh, Aceh (ANTARA News Sumsel) - Aksesoris berbahan eceng gondok Kelompok Usaha Produksi (KUP) Perempuan Desa Peulanteu, Kecamatan Arongan Lambalek, Kabupaten Aceh Barat, menjadi rebutan pada kegiatan Archipelago Exhibition (Archex) di Malaysia.
Nelli Mutia, perwakilan KUP yang dihubungi dari Meulaboh, Kamis mengatakan, promosi produksi kerajinan dari Aceh itu diikut sertakan pada expo yang berlangsung selama dua hari di Aula Hasanuddin Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur.
"Kerajinan eceng gondok yang kami bawa menjadi rebutan warga di Malaysia. Selama dua hari dipromosikan semua aksesoris yang kami bawa habis terjual," katanya melalui sambungan telepon saat berada di Kuala Lumpur, Malaysia.
Kegiatan Archipelago Exhibition (Archex) yang berlangsung pada 3 - 4 April 2018 itu, dilaksanakan KBRI Kuala Lumpur untuk meningkatkan akses pasar produk Indonesia serta mendorong investasi asing dan wisatawan mancanegara asal Malaysia.
Selama kegiatan berlangsung, sebut Nelli, peminat yang berkunjung bukan hanya melihat, namun membeli bermacam aksesoris kerajinan tangan dari Aceh Barat yang dikumpul dengan semua produk Indonesia di Negara Jiran itu.
"Peminat ramai namun barang yang kami bawa tidak banyak hanya beberapa bentuk sample atau contoh yang kami buat di Aceh Barat. Kerajinan kita juga jadi trending topik di medsos, mungkin pada kesempatan ke depan akan ada gerai di sini," sebutnya.
Lebih lanjut disampaikan, adapun jenis-jenis aneka aksesoris dari bahan baku eceng gondok kerajinan perempuan Aceh Barat yang dipromosikan itu masih berupa tas, kotak tisu, tempat bulpen, vas bunga, sandal dan dompet.
Kehadiran produk kerajinan tangan dari Aceh pada kegiatan tersebut difasilitasi oleh Kementrian Desa Pembangunan Daerah tertinggal dan Transmigrasi (KPDT) RI, sebab desa di Kecamatan Arongan Lambalek salah satu daerah perhatian pemerintah.
Nelli Mutia menyampaikan, kemampuan KPU Perempuan Desa Peulanteu memproduksi kerajinan tangan selama ini mendapat pendampingan dari Mahasiswa Universitas Islam Ar-Raniry Banda Aceh, lewat program Universitas Masuk Kampung (UMD) pada 2017.
Kegiatan pembinaan kelompok perempuan Aceh Barat itu, juga merupakan intervensi program Kolaborasi Masyarakat dan Partisipasi untuk Kesejahteraan (Kompak) yang didanai oleh Departement Foreigh of Affair And Trade (DFAT Pemerintah Australia.
(T.KR-ANW/H.D. Suryatmojo)
Nelli Mutia, perwakilan KUP yang dihubungi dari Meulaboh, Kamis mengatakan, promosi produksi kerajinan dari Aceh itu diikut sertakan pada expo yang berlangsung selama dua hari di Aula Hasanuddin Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur.
"Kerajinan eceng gondok yang kami bawa menjadi rebutan warga di Malaysia. Selama dua hari dipromosikan semua aksesoris yang kami bawa habis terjual," katanya melalui sambungan telepon saat berada di Kuala Lumpur, Malaysia.
Kegiatan Archipelago Exhibition (Archex) yang berlangsung pada 3 - 4 April 2018 itu, dilaksanakan KBRI Kuala Lumpur untuk meningkatkan akses pasar produk Indonesia serta mendorong investasi asing dan wisatawan mancanegara asal Malaysia.
Selama kegiatan berlangsung, sebut Nelli, peminat yang berkunjung bukan hanya melihat, namun membeli bermacam aksesoris kerajinan tangan dari Aceh Barat yang dikumpul dengan semua produk Indonesia di Negara Jiran itu.
"Peminat ramai namun barang yang kami bawa tidak banyak hanya beberapa bentuk sample atau contoh yang kami buat di Aceh Barat. Kerajinan kita juga jadi trending topik di medsos, mungkin pada kesempatan ke depan akan ada gerai di sini," sebutnya.
Lebih lanjut disampaikan, adapun jenis-jenis aneka aksesoris dari bahan baku eceng gondok kerajinan perempuan Aceh Barat yang dipromosikan itu masih berupa tas, kotak tisu, tempat bulpen, vas bunga, sandal dan dompet.
Kehadiran produk kerajinan tangan dari Aceh pada kegiatan tersebut difasilitasi oleh Kementrian Desa Pembangunan Daerah tertinggal dan Transmigrasi (KPDT) RI, sebab desa di Kecamatan Arongan Lambalek salah satu daerah perhatian pemerintah.
Nelli Mutia menyampaikan, kemampuan KPU Perempuan Desa Peulanteu memproduksi kerajinan tangan selama ini mendapat pendampingan dari Mahasiswa Universitas Islam Ar-Raniry Banda Aceh, lewat program Universitas Masuk Kampung (UMD) pada 2017.
Kegiatan pembinaan kelompok perempuan Aceh Barat itu, juga merupakan intervensi program Kolaborasi Masyarakat dan Partisipasi untuk Kesejahteraan (Kompak) yang didanai oleh Departement Foreigh of Affair And Trade (DFAT Pemerintah Australia.
(T.KR-ANW/H.D. Suryatmojo)
Pewarta : Anwar
Editor : Aang Sabarudin
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Kementerian Lingkungan Hidup cabut izin 28 perusahaan di Aceh, Sumut dan Sumbar
26 January 2026 16:08 WIB
Pemkot Palembang ajak warga kembangkan usaha daur ulang sampah, tambah penghasilan keluarga
16 November 2025 9:18 WIB
Sambil kuliah, warga Palembang berhasil jadi agen Lion Parcel dan raup omzet ratusan juta rupiah
11 November 2025 20:08 WIB
Terpopuler - Makro & Mikro
Lihat Juga
Desa Bukit Makmur raih penghargaan 15 desa terbaik nasional Program BRILiaN 2025
11 November 2025 15:18 WIB
Pusri resmikan Rumah Kompos di Desa Tebat Benawa, dukung pengembangan kopi lokal
18 July 2025 16:03 WIB
Gapki: Tanaman kelapa sawit di Sumsel butuh peremajaan untuk tingkatkan produksi
21 March 2025 11:00 WIB