Bulog baru serap 30 ribu ton beras
Jumat, 18 Agustus 2017 21:24 WIB
Ilustrasi Padi (ANTARA)
Palembang (ANTARA Sumsel) - Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik Divisi Regional Sumatera Selatan dan Bangka Belitung hingga sekarang baru bisa menyerap sekitar 30 ribu ton beras petani dari target 100 ribu ton.
"Serapan beras hingga hari ini kalau dibandingkan periode sama dengan tahun lalu masih stagnan, karena dari target 100 ribu ton, baru tercapai 30 ribu ton," kata Kepala Perum Bulog Divre Sumatera Selatan dan Bangka Belitung Bakhtiar AS di Palembang, Jumat.
Menurut dia, artinya ada penurunan dan kondisi harga di tingkat petani sudah mulai tinggi, sementara HPP Rp7.300 perkilogram.
"Kemarin ada kebijakan bahwa ada subsidi dari pemerintah akan disesuaikan menjadi Rp8.030. Sekarang lagi kita proses mekanismenya," katanya.
Ia berharap, mudah-mudahan dengan ada penambahan harga itu serapan bisa ditingkatkan pula.
Ia menegaskan, kalau produksi padi khusus Sumatera Selatan sebenarnya secara produksi surplus.
Hanya saja, lanjutnya beras yang ada di Sumsel ini bahwa daerah-daerah di lingkaran Sumsel seperti Jambi, Riau sebagian kemudian Lampung, Bengkulu semua tumpuannya di Sumatera Selatan sehingga ada permintaan tinggi otomatis berlaku hukum ekonomi berpengaruh dengan harga beras itu.
Ia menuturkan, hal ini yang menjadi kesulitan mereka, disamping kualitas beras juga, karena waktu panen awal masih musim hujan.
Mudah-mudahan dengan penambahan harga itu serapan beras bisa ditingkatkan.
Sementara untuk ketersediaan beras sendiri ia menyampaikan, tidak ada masalah, karena sampai hari ini Bulog masih memiliki 40 ribu ton yang tersimpan di gudang.
"Jadi, kalau rata-rata penyaluran kita hanya 5.732 ton berarti masih ada kekuatan sekitar 6-7 bulan sehingga masyarakat tidak perlu khawatir," katanya.
"Serapan beras hingga hari ini kalau dibandingkan periode sama dengan tahun lalu masih stagnan, karena dari target 100 ribu ton, baru tercapai 30 ribu ton," kata Kepala Perum Bulog Divre Sumatera Selatan dan Bangka Belitung Bakhtiar AS di Palembang, Jumat.
Menurut dia, artinya ada penurunan dan kondisi harga di tingkat petani sudah mulai tinggi, sementara HPP Rp7.300 perkilogram.
"Kemarin ada kebijakan bahwa ada subsidi dari pemerintah akan disesuaikan menjadi Rp8.030. Sekarang lagi kita proses mekanismenya," katanya.
Ia berharap, mudah-mudahan dengan ada penambahan harga itu serapan bisa ditingkatkan pula.
Ia menegaskan, kalau produksi padi khusus Sumatera Selatan sebenarnya secara produksi surplus.
Hanya saja, lanjutnya beras yang ada di Sumsel ini bahwa daerah-daerah di lingkaran Sumsel seperti Jambi, Riau sebagian kemudian Lampung, Bengkulu semua tumpuannya di Sumatera Selatan sehingga ada permintaan tinggi otomatis berlaku hukum ekonomi berpengaruh dengan harga beras itu.
Ia menuturkan, hal ini yang menjadi kesulitan mereka, disamping kualitas beras juga, karena waktu panen awal masih musim hujan.
Mudah-mudahan dengan penambahan harga itu serapan beras bisa ditingkatkan.
Sementara untuk ketersediaan beras sendiri ia menyampaikan, tidak ada masalah, karena sampai hari ini Bulog masih memiliki 40 ribu ton yang tersimpan di gudang.
"Jadi, kalau rata-rata penyaluran kita hanya 5.732 ton berarti masih ada kekuatan sekitar 6-7 bulan sehingga masyarakat tidak perlu khawatir," katanya.
Pewarta : Susilawati
Editor : Ujang
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Stok beras Bulog Sumsel-Babel tersedia hingga Idul Fitri 2026, capai 79 ribu ton
25 February 2026 17:16 WIB
Cabai rawit merah di Jakarta melonjak hingga Rp140 ribu per kg, Bulog koordinasi dengan pengusaha
22 February 2026 9:25 WIB
Bulog tembus pasar Saudi, dapur Haji Makkah-Madinah diperintah pakai beras nasional
22 February 2026 9:02 WIB
Sebanyak 86 ribu lebih warga OKU Raya terima bantuan pangan beras dan minyak goreng
04 December 2025 20:21 WIB
Terpopuler - Makro & Mikro
Lihat Juga
Desa Bukit Makmur raih penghargaan 15 desa terbaik nasional Program BRILiaN 2025
11 November 2025 15:18 WIB
Pusri resmikan Rumah Kompos di Desa Tebat Benawa, dukung pengembangan kopi lokal
18 July 2025 16:03 WIB
Gapki: Tanaman kelapa sawit di Sumsel butuh peremajaan untuk tingkatkan produksi
21 March 2025 11:00 WIB