Dalam sejarah permainan kelereng sudah ada sejak abad ke 12, saat itu Perancis memainkannya dengan nama 'Bille' yang artinya sebagai bola-bola kecil.

Namun jauh mundur kebelakang ternyata keberadaan kelereng sudah ada pada peradaban Mesir kuno tepatnya pada tahun 3000 SM. saat itu pembuatan kelereng menggunakan bahan batu dan tanah liat.

Permainan yang akrab dengan nama kelereng ini ternyata mempunyai berbagai macam nama disetiap daerah di Indonesia, seperti di Jawa menamakan kelereng dengan sebutan 'Neker', Orang Betawi menyebut "Gundu, Sunda 'Kaleci', Banjar "Kleker" dan Palembang, Sumsel akrab menyebut 'ekar'.

Pembuatan kelereng di Indonesia biasanya memakai bahan yang terbuat dari kaca, tanah liat dan agare dengan ukuran yang umumnya (1.25 cm). Namun ada juga ukuran kelereng yang lebih besar tiga kali lipat dari kelereng biasa.

Pada era teknologi cangkih sekarang banyak membawa dampak perubahan yang signifikan, tidak bisa dipungkuri lagi, peran ilmu dan teknologi ini banyak mengubah pola pikir manusia untuk mencari yang lebih praktis, asik dan mudah. Seperti halnya banyak ditemui smartphone (handphone pintar) yang mewabah di Indonesia.

Melihat perkembangan teknologi dewasa ini, smartphone salah satu dari hasil kecanggihan teknologi yang diminati masyarakat Khususnya Indonesia. karena dinilai lebih mudah, cepat dan efisien. Tidak bisa dihindari lagi tentu berdampak pada kehidupan sehari-hari, salah satunya pada dunia permainan tradisional.

Bergesernya permainan tradisional terutama di kota-kota besar termasuk di Kota Palembang dan umumnya di Sumatera Selatan sudah sangat jarang terlihat di kalangan anak-anak yang memainkan permainan tradisional seperti kelereng.

Permainan yang cukup mudah dimainkan dan makin berkurang peminatnya dikalangan masyarakat kota, karena lebih memilih smartphone canggih dengan banyak permainan didalamnya.

Namun bagi masyarakat desa justru menyukai seperti di Desa Rasuan, kecamatan Madang Suku 1, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, Sumatera selatan.

Masyarakat Desa Rasuan menjadikan permainan tradisional ini sebagai yang mengasyikan dan memiliki tantangan memenangkan pertandingan atau lomba sehingga cukup diminati mulai anak-anak hingga orang dewasa.

Tolal (60), salah satu warga Desa Rasuan yang dulunya penggemar berat permainan tradisional kelereng, menuturkan, permainan kelereng di Desa Rasuan ini sejak dulu hingga sekarang masih amat diminati mulai anak-anak hingga orang dewasa.

"Dari dulu permainan tradisional kelereng ini sangat diminati masyarakat di sini, meski saat ini  era serba canggih dengan banyak teknologi yang hadir," katanya.

Menurut dia, jika didalam permainan smartphone (handphone pintar) ini banyak memiliki jenis permainan yang baru, namun sangat minim manfaat.

"Manfaat bermain kelereng sangat banyak, salah satunya kita dapat mengatur emosi, melatih kesabaran, menambah kemampuan berpikir, dapat bersosialisasi antarlawan main, dan juga dapat meningkatkan kemampuan berkompetisi," katanya.

Salah satu pemain kelereng Rendi di Desa Rasuan mengatakan, permainan kelereng ini merupakan permainan favorit bagi anak desa di sini.

"Cara bermainnya sederhana, yang pasti harus mengenai sasaran kelereng musuh.tidak memerlukan alat khusus untuk bermain, hanya perlu lapangan yang bersih saja. Namun memiliki keseruan yang tidak dimiliki dari permainan dalam gadget," katanya.

Ia mengatakan, permainan tradisional kelereng ini memiliki banyak macam cara, salah satunya main panahan dan pot-potan atau sipotan yaitu  (nama permainan kelereng dari Desa Rasuan).

Senada dengan penjelasan di atas, Siti Nur Zazila yang juga merupakan pemain kelereng lainnya  mengatakan, cara bermain kelereng itu sangat mudah, seperti sebuah pertarungan atau kompetisi yang harus mempunyai modal kelereng.

"Dalam satu pertandingan pot-potan atau sipotan itu minimal  tiga sampai tujuh orang pemain," katanya, lalu menambahkan, permainan kelereng ini tidak hanya anak-anak saja yang mengikuti, tetapi juga orang dewasa.

Pewarta : Muhamad Syafei
Editor : Indra Gultom
Copyright © ANTARA 2024