Peluang "window dressing" di pasar modal masih terbuka
Kamis, 20 November 2014 23:48 WIB
Jakarta (ANTARA Sumsel) - Pengamat pasar modal Andreas Yasakasih menilai peluang "window dressing" di pasar modal masih terbuka meski dibayangi harapan kinerja yang tidak terlalu optimis menyusul adanya dampak negatif jangka pendek dari kenaikan bahan bakar minyak (BBM) subsidi dan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate).
"Pelaku pasar sedang melakukan 'adjustment risk' dampak dari kenaikan BBM dan BI rate. Jika dampak dari kebijakan pemerintah itu tidak panjang maka potensi 'window dressing' terbuka," ujar Andreas Yasakasih yang juga Direktur Investasi PT Valbury Capital Management di Jakarta, Kamis.
Menurut dia, dampak negatif jangka pendek dari kebijakan itu belum terasa pada sektor riil. Diharapkan dalam kurun waktu sepekan ke depan pascakenaikan BBM dan BI rate itu dampaknya sudah terasa sehingga penyesuaian risiko oleh pelaku pasar modal dapat lebih cepat.
"Jika melihat psikologis investor lokal maupun asing saat ini, cenderung cukup optimis memandang fundamental ekonomi nasional ke depan," ujarnya.
Kondisi itu, lanjut Andreas Yasakasih, maka dapat mendorong investor untuk masuk ke pasar saham sehingga fenomena "window dressing" di pasar modal bisa terjadi menjelang akhir tahun 2014 ini.
Ia mengemukakan "window dressing" dapat diartikan sebagai usaha untuk mempercantik nilai portofolio investor atau pengelola investasi (manajer investasi) pada akhir tahun agar laporan keuangan terlihat bagus. Secara umum, "window dressing" terjadi menjelang tutup buku akhir tahun.
Analis Asjaya Indosurya Securities William Suryawijaya menambahkan bahwa menjelang akhir tahun ini, fenomena "window dressing" berpotensi terjadi menyusul masih adanya aksi beli investor asing terhadap saham-saham di dalam negeri.
"Kondisi itu menjadi salah satu petanda, 'window dressing' akan marak pada tahun ini," katanya.
Sementara itu tercatat, dalam data perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia per 20 November 2014, pelaku pasar saham asing membukukan beli bersih (foreign net buy) sebesar Rp48,938 triliun.
"Pelaku pasar sedang melakukan 'adjustment risk' dampak dari kenaikan BBM dan BI rate. Jika dampak dari kebijakan pemerintah itu tidak panjang maka potensi 'window dressing' terbuka," ujar Andreas Yasakasih yang juga Direktur Investasi PT Valbury Capital Management di Jakarta, Kamis.
Menurut dia, dampak negatif jangka pendek dari kebijakan itu belum terasa pada sektor riil. Diharapkan dalam kurun waktu sepekan ke depan pascakenaikan BBM dan BI rate itu dampaknya sudah terasa sehingga penyesuaian risiko oleh pelaku pasar modal dapat lebih cepat.
"Jika melihat psikologis investor lokal maupun asing saat ini, cenderung cukup optimis memandang fundamental ekonomi nasional ke depan," ujarnya.
Kondisi itu, lanjut Andreas Yasakasih, maka dapat mendorong investor untuk masuk ke pasar saham sehingga fenomena "window dressing" di pasar modal bisa terjadi menjelang akhir tahun 2014 ini.
Ia mengemukakan "window dressing" dapat diartikan sebagai usaha untuk mempercantik nilai portofolio investor atau pengelola investasi (manajer investasi) pada akhir tahun agar laporan keuangan terlihat bagus. Secara umum, "window dressing" terjadi menjelang tutup buku akhir tahun.
Analis Asjaya Indosurya Securities William Suryawijaya menambahkan bahwa menjelang akhir tahun ini, fenomena "window dressing" berpotensi terjadi menyusul masih adanya aksi beli investor asing terhadap saham-saham di dalam negeri.
"Kondisi itu menjadi salah satu petanda, 'window dressing' akan marak pada tahun ini," katanya.
Sementara itu tercatat, dalam data perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia per 20 November 2014, pelaku pasar saham asing membukukan beli bersih (foreign net buy) sebesar Rp48,938 triliun.
Pewarta : Oleh: Zubi Mahrofi
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Banjir terjang 5 kecamatan di Kabupaten Tangerang, ketinggian air capai 1,5 meter
08 March 2026 7:22 WIB
Toyota klaim dominasi pasar otomotif Indonesia 2025 dengan pangsa pasar 31,2 persen
07 March 2026 7:52 WIB
Pemkot Palembang subsidi Rp10 Ribu per paket sembako di pasar murah Ramadhan
25 February 2026 10:45 WIB
Mantan Wali Kota Palembang Harnojoyo dituntut 3,5 tahun penjara kasus korupsi Pasar Cinde
23 February 2026 19:10 WIB
Tembus pasar Eropa dan Malaysia, harga kayu manis petani Agam justru dinilai terlalu rendah
22 February 2026 16:35 WIB
Bupati Askolani instruksikan razia makanan berbahaya di seluruh pasar Banyuasin
22 February 2026 16:23 WIB
Cabai rawit merah di Jakarta melonjak hingga Rp140 ribu per kg, Bulog koordinasi dengan pengusaha
22 February 2026 9:25 WIB
Tiket mudik menipis, KAI tambah 16 perjalanan KA dari Gambir dan Pasar Senen
22 February 2026 9:05 WIB
Terpopuler - Makro & Mikro
Lihat Juga
Desa Bukit Makmur raih penghargaan 15 desa terbaik nasional Program BRILiaN 2025
11 November 2025 15:18 WIB
Pusri resmikan Rumah Kompos di Desa Tebat Benawa, dukung pengembangan kopi lokal
18 July 2025 16:03 WIB
Gapki: Tanaman kelapa sawit di Sumsel butuh peremajaan untuk tingkatkan produksi
21 March 2025 11:00 WIB