Paris (Antara/AFP) - OECD memangkas proyeksi pertumbuhan untuk China dan Amerika Serikat pada Selasa, memperingatkan bahwa pemulihan yang sedang berlangsung masih belum kuat meskipun terjadi "rebound" di beberapa negara.
         
Sebuah pusat risiko terhadap pemulihan yang berkelanjutan adalah bagaimana Federal Reserve AS mengurangi kebijakan uang longgarnya, Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) mengatakan, sebuah kekhawatiran yang telah mengganggu beberapa negara berkembang.
         
"AS perlu terus mendukung permintaan, termasuk melalui kebijakan moneter konvensional, dalam rangka meminimalkan risiko pemulihan gagal," katanya dalam  Penilaian Ekonomi Interim.
         
OECD mendukung rencana Federal Reserve untuk secara bertahap mulai mengurangi stimulus moneternya, menyuntikkan sebesar 85 miliar dolar AS per bulan ke dalam ekonomi AS.
         
Dikatakan Jepang harus menjaga upaya stimulusnya sampai deflasi berakhir, sementara zona euro harus siap untuk melakukan pelonggaran moneter lebih lanjut jika pemulihan gagal untuk terus bertahan.
         
OECD mengatakan Bank Sentral Eropa (ECB) mungkin perlu untuk melakukan langkah-langkah meningkatkan pinjaman yang lesu seperti "memberikan insentif langsung kepada bank untuk memperpanjang kredit ke sektor ekonomi riil."
    
Meskipun tekanan inflasi terkendali di China, OECD merekomendasikan hati-hati atas pelonggaran moneter jika pertumbuhan melambat karena peningkatan cepat dalam pinjaman.