OECD pangkas proyeksi pertumbuhan China dan AS
Selasa, 3 September 2013 21:34 WIB
Wakil Menteri Keuangan Mahendra Siregar (kiri) dan Deputi Sekretaris Jenderal OECD Rintaro Tamaki (kanan) saat memberikan keterangan pada pers di Palembang, Kamis (29/8). (Foto Antarasumsel.com/13/Feny Selly/Aw)
Paris (Antara/AFP) - OECD memangkas proyeksi pertumbuhan untuk China dan Amerika Serikat pada Selasa, memperingatkan bahwa pemulihan yang sedang berlangsung masih belum kuat meskipun terjadi "rebound" di beberapa negara.
Sebuah pusat risiko terhadap pemulihan yang berkelanjutan adalah bagaimana Federal Reserve AS mengurangi kebijakan uang longgarnya, Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) mengatakan, sebuah kekhawatiran yang telah mengganggu beberapa negara berkembang.
"AS perlu terus mendukung permintaan, termasuk melalui kebijakan moneter konvensional, dalam rangka meminimalkan risiko pemulihan gagal," katanya dalam Penilaian Ekonomi Interim.
OECD mendukung rencana Federal Reserve untuk secara bertahap mulai mengurangi stimulus moneternya, menyuntikkan sebesar 85 miliar dolar AS per bulan ke dalam ekonomi AS.
Dikatakan Jepang harus menjaga upaya stimulusnya sampai deflasi berakhir, sementara zona euro harus siap untuk melakukan pelonggaran moneter lebih lanjut jika pemulihan gagal untuk terus bertahan.
OECD mengatakan Bank Sentral Eropa (ECB) mungkin perlu untuk melakukan langkah-langkah meningkatkan pinjaman yang lesu seperti "memberikan insentif langsung kepada bank untuk memperpanjang kredit ke sektor ekonomi riil."
Meskipun tekanan inflasi terkendali di China, OECD merekomendasikan hati-hati atas pelonggaran moneter jika pertumbuhan melambat karena peningkatan cepat dalam pinjaman.
Sebuah pusat risiko terhadap pemulihan yang berkelanjutan adalah bagaimana Federal Reserve AS mengurangi kebijakan uang longgarnya, Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) mengatakan, sebuah kekhawatiran yang telah mengganggu beberapa negara berkembang.
"AS perlu terus mendukung permintaan, termasuk melalui kebijakan moneter konvensional, dalam rangka meminimalkan risiko pemulihan gagal," katanya dalam Penilaian Ekonomi Interim.
OECD mendukung rencana Federal Reserve untuk secara bertahap mulai mengurangi stimulus moneternya, menyuntikkan sebesar 85 miliar dolar AS per bulan ke dalam ekonomi AS.
Dikatakan Jepang harus menjaga upaya stimulusnya sampai deflasi berakhir, sementara zona euro harus siap untuk melakukan pelonggaran moneter lebih lanjut jika pemulihan gagal untuk terus bertahan.
OECD mengatakan Bank Sentral Eropa (ECB) mungkin perlu untuk melakukan langkah-langkah meningkatkan pinjaman yang lesu seperti "memberikan insentif langsung kepada bank untuk memperpanjang kredit ke sektor ekonomi riil."
Meskipun tekanan inflasi terkendali di China, OECD merekomendasikan hati-hati atas pelonggaran moneter jika pertumbuhan melambat karena peningkatan cepat dalam pinjaman.
Pewarta :
Editor : Yudi Abdullah
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Yusril: RI bisa tindak pejabat asing terlibat suap jika gabung OECD
11 February 2025 15:17 WIB, 2025
Indonesia komitmen perangi praktik suap guna dukung proses aksesi OECD
10 February 2025 15:36 WIB, 2025
Indikator komposit OECD menunjukkan stabilisasi ekonomi di negara anggota
09 July 2014 5:56 WIB, 2014
Terpopuler - Makro & Mikro
Lihat Juga
Desa Bukit Makmur raih penghargaan 15 desa terbaik nasional Program BRILiaN 2025
11 November 2025 15:18 WIB
Pusri resmikan Rumah Kompos di Desa Tebat Benawa, dukung pengembangan kopi lokal
18 July 2025 16:03 WIB, 2025
Pusri tampilkan produk UMKM binaan di Pameran Produk Unggulan Sumsel 2025
03 July 2025 10:28 WIB, 2025