Logo Header Antaranews Sumsel

OECD peringatkan era baru pertumbuhan rendah

Jumat, 21 Februari 2014 17:27 WIB
Image Print
Ilustrasi - Wakil Menteri Keuangan Mahendra Siregar (kiri) dan Deputi Sekretaris Jenderal OECD Rintaro Tamaki (kanan) saat memberikan keterangan pers di Palembang, Kamis (29/8). (Foto Antarasumsel.com/13/Feny Selly/Aw)
...Perlambatan yang meluas dalam produktivitas sejak krisis (keuangan global) bisa pertanda awal dari sebuah era baru pertumbuhan rendah...

Sydney (Antara/AFP) - OECD pada Jumat memperingatkan produktivitas global yang sedang menurun akan mengantar era baru pertumbuhan yang rendah dan berkepanjangan, kecuali ada reformasi struktural besar.

Dalam laporan terbarunya bertajuk "Going for Growth", OECD mengidentifikasi kekurangan infrastruktur dan kegiatan perdagangan yang sedang melambat sebagai masalah utama -- isu-isu yang akan menjadi fokus pada pertemuan para menteri keuangan dan gubernur bank sentral G20 di Sydney akhir pekan ini.

"Perlambatan yang meluas dalam produktivitas sejak krisis (keuangan global) bisa pertanda awal dari sebuah era baru pertumbuhan rendah," Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) mengatakan.

"Momentum ekonomi global tetap lamban, mempertinggi kekhawatiran bahwa telah terjadi sebuah pergeseran turun struktural dalam tingkat pertumbuhan dibandingkan dengan tingkat sebelum krisis."

"Kekhawatiran ini, sudah umum di kalangan negara-negara OECD maju untuk beberapa waktu, sekarang mencakup ekonomi negara-negara berkembang dan didorong pula oleh pengangguran tinggi dan partisipasi angkatan kerja yang sedang turun di banyak negara."

Laporan itu menyerukan investasi dalam keterampilan untuk meningkatkan partisipasi angkatan kerja, dan pendekatan baru untuk mendorong investasi swasta dalam infrastruktur untuk membantu meningkatkan pertumbuhan.

"Salah satu perkembangan mengkhawatirkan adalah perlambatan yang nyata dalam kegiatan perdagangan global relatif terhadap produksi dunia," katanya.

"Selain dari peran mendasarnya sebagai vektor difusi teknologi dan pengetahuan, perdagangan internasional meningkatkan produktivitas melalui tekanan kompetisi yang lebih kuat pada pasar domestik."

"Dan kekhawatiran terkait perdagangan diperbesar oleh investasi lemah di pabrik baru, mesin dan peralatan serta kurangnya aset-aset tangible (berwujud) seperti penelitian dan pengembangan atau proses bisnis baru dan pelatihan tenaga kerja, yang diperlukan untuk membuat sebagian besar dari teknologi baru."

OECD mengatakan bahwa tingkat investasi perusahaan di sebagian besar negara maju berada di bawah apa yang akan diperlukan untuk mempertahankan tren tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi.

"Di beberapa negara berkembang -- terutama Brazil, India dan
Indonesia -- investasi infrastruktur tidak memadai untuk mendukung industrialisasi dan urbanisasi tingkat tinggi, menghambat pertumbuhan potensial."

G20 memiliki sesi tentang strategi ekonomi dan pertumbuhan global, yang telah diprioritaskan oleh pimpinan pertemuan puncak Australia dengan Menteri Keuangan Joe Hockey minggu ini mengatakan "infrastruktur akan menjadi kunci saat kami mencoba untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan menciptakan lapangan kerja".

Data OECD yang dirilis Kamis menunjukkan pertumbuhan di negara maju sedikit melambat pada 2013 menjadi 1,3 persen dari 1,5 persen pada 2012.

Tingkat 12-bulan tertinggi berpaling ke Inggris dengan pertumbuhan 2,8 persen, diikuti oleh Jepang dan Amerika Serikat dengan pertumbuhan 2,7 persen.



Pewarta:
Editor: Yudi Abdullah
COPYRIGHT © ANTARA 2026