Paris (ANTARA/AFP) - Samudera yang bertambah asam karena emisi pembakaran bahan bakar fosil, dapat memperkuat pemanasan global dengan mengeluarkan lebih sedikit gas yang membantu melindungi Bumi dari radiasi, kata sebuah studi pada Minggu.

Dan para peneliti memperingatkan efek besar yang mereka temukan saat ini belum memperhitungkan proyeksi perubahan iklim.

Para ilmuwan mengatakan bahwa emisi karbondioksida yang dihasilkan manusia berkontribusi terhadap pemanasan global dengan membiarkan hawa panas matahari memasuki atmosfer namun menahan energi panas yang dipantulkan kembali dari Bumi, sehingga menyebabkan efek rumah kaca.

Emisi itu juga menurunkan keseimbangan pH samudera di dunia, membuatnya menjadi lebih asam, dan menghambat produksi dimetil sulfida (DMS), sebuah senyawa sulfur, yang dihasilkan plankton, kata penelitian tersebut.

DMS yang dikeluarkan ke atmosfer membantu memantulkan radiasi matahari yang masuk, mengurangi suhu permukaan bumi.

Dengan menggunakan simulasi iklim, tim itu mengatakan penurunan 18 persen DMS pada 2100 akan menyebabkan kenaikan 0,48 derajat Celcius terhadap suhu global.

“Setahu kami, kami adalah yang pertama meyoroti potensi dampak iklim yang diakibatkan perubahan dalam siklus sufur global yang dipicu oleh pengasaman samudera,” tulis peneliti tersebut.

“Hasilnya menekankan bahwa potensi mekanisme dampak iklim akibat pengasaman samudera itu harus dipertimbangkan untuk dijadikan proyeksi perubahan iklim di masa mendatang.”

Mereka memperingatkan bahwa pengasaman samudera juga bisa jadi memiliki dampak lain, yang tidak terlihat, terhadap biota laut yang bisa memancing penurunan lebih jauh dalam emisi DMS.(mu/ik)


Pewarta :
Editor : Awi
Copyright © ANTARA 2026