Indonesia siap bangun reaktor nuklir kecil-menengah
Senin, 19 Agustus 2013 14:41 WIB
Inti nuklir di dalam kolam reaktor riset nuklir (FOTO ANTARA)
Jakarta (ANTARA Sumsel) - Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Djarot Wisnubroto, menyatakan bahwa Indonesia siap untuk membangun reaktor nuklir kecil-menengah (Small Medium Reactor - SMR).
"Sembilan puluh lima persen, apapun yang kita hadapi itu reaktor besar atau pun kecil kita sudah siap," ujar Djarot di Jakarta, Senin.
Hal tersebut dikatakan oleh Djarot berdasarkan pengalaman BATAN yang melakukan studi kelayakkan tapak untuk pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di Bangka.
"Kita mampu melakukan studi kelayakan, bahkan di Bangka kita bisa langsung lakukan pendataan," tambah Djarot.
Studi mengenai SMR di Indonesia sudah dimulai sejak 2001, dengan mempelajari reaktor daya terapung KLT-40 dan reaktor baterai.
BATAN saat ini juga sedang melakukan penelitian untuk mengembangkan SMR, salah satunya adalah reaktor gas yang dikenal dengan RGTT200 yaitu reaktor gas temperatur tinggi dengan daya 200 MW.
"Biasanya, untuk reaktor besar memiliki daya sekitar 1.000 MW," jelas Djarot.
Selanjutnya Djarot menjelaskan bahwa ada dua alasan utama yang menjadikan BATAN tertarik dengan SMR.
"Ada beberapa entitas pemerintah, bagaimana kalau kita memulai tidak langsung skala besar, tapi dari yang kecil, sehingga ini menjadi lebih efisien," jelas Djarot.
Selain itu SMR memiliki daya yang lebih kecil, sehingga tepat untuk diaplikasikan di wilayah yang membutuhkan listrik namun dengan daya yang tidak terlalu besar, seperti di wilayah Sumatera, Kalimantan, Papua, dan pulau-pulau kecil.
SMR merupakan teknologi yang dikembangkan untuk menjawab tantangan kebutuhan energi bagi negara-negara yang kapasitas jaringan listrik yang belum memadai untuk PLTN skala besar.(rr)
"Sembilan puluh lima persen, apapun yang kita hadapi itu reaktor besar atau pun kecil kita sudah siap," ujar Djarot di Jakarta, Senin.
Hal tersebut dikatakan oleh Djarot berdasarkan pengalaman BATAN yang melakukan studi kelayakkan tapak untuk pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di Bangka.
"Kita mampu melakukan studi kelayakan, bahkan di Bangka kita bisa langsung lakukan pendataan," tambah Djarot.
Studi mengenai SMR di Indonesia sudah dimulai sejak 2001, dengan mempelajari reaktor daya terapung KLT-40 dan reaktor baterai.
BATAN saat ini juga sedang melakukan penelitian untuk mengembangkan SMR, salah satunya adalah reaktor gas yang dikenal dengan RGTT200 yaitu reaktor gas temperatur tinggi dengan daya 200 MW.
"Biasanya, untuk reaktor besar memiliki daya sekitar 1.000 MW," jelas Djarot.
Selanjutnya Djarot menjelaskan bahwa ada dua alasan utama yang menjadikan BATAN tertarik dengan SMR.
"Ada beberapa entitas pemerintah, bagaimana kalau kita memulai tidak langsung skala besar, tapi dari yang kecil, sehingga ini menjadi lebih efisien," jelas Djarot.
Selain itu SMR memiliki daya yang lebih kecil, sehingga tepat untuk diaplikasikan di wilayah yang membutuhkan listrik namun dengan daya yang tidak terlalu besar, seperti di wilayah Sumatera, Kalimantan, Papua, dan pulau-pulau kecil.
SMR merupakan teknologi yang dikembangkan untuk menjawab tantangan kebutuhan energi bagi negara-negara yang kapasitas jaringan listrik yang belum memadai untuk PLTN skala besar.(rr)
Pewarta :
Editor : AWI-SEO&Digital Ads
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Perjanjian New START Berakhir, Indonesia desak AS-Rusia cegah perlombaan senjata nuklir
08 February 2026 9:36 WIB
Terpopuler - Makro & Mikro
Lihat Juga
Desa Bukit Makmur raih penghargaan 15 desa terbaik nasional Program BRILiaN 2025
11 November 2025 15:18 WIB
Pusri resmikan Rumah Kompos di Desa Tebat Benawa, dukung pengembangan kopi lokal
18 July 2025 16:03 WIB
Gapki: Tanaman kelapa sawit di Sumsel butuh peremajaan untuk tingkatkan produksi
21 March 2025 11:00 WIB