Titik api di Sumsel mulai meluas
Senin, 1 Juli 2013 18:01 WIB
Ilustrasi - Titik Api (Antarasumsel.com/BMKG)
Palembang (ANTARA Sumsel) - Titik api atau "hotspot" di wilayah Sumatera Selatan yang terpantau Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika melalui satelit mulai meluas.
"Titik api yang sebelumnya terdeteksi di dua kabupaten yakni Musi Banyuasin dan Banyuasin, kini mulai terlihat di wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir," kata Kasi Observasi dan Informasi Stasiun Klimatologi Kenten BMKG Sumatera Selatan Indra Purnama di Palembang, Senin.
Menurutnya, berdasarkan hasil pemantauan melalui satelit "Terra dan Aqua", beberapa hari terakhir terpantau titik api di wilayah Kabupaten Musi Banyuasin dan Banyuasin, dengan jumlah berfluktuatif maksimal 10 titik api.
Namun sekarang ini mulai terdeteksi di daerah lain yakni Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) walaupun jumlahnya hanya satu titik.
Sementara di wilayah 12 kabupaten dan kota Sumsel lainnya masih nihil atau belum terdeteksi satupun titik api, katanya.
Dijelaskannya, meski keberadaan titik api mulai meluas, namun jumlahnya masih tergolong normal dan belum mengkhawatirkan berpotensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan yang dapat merusak lingkungan serta menimbulkan gangguan kesehatan manusia.
Musim kemarau di wilayah Sumsel yang mulai terjadi sejak awal Juni 2013, diprediksi hingga Juli ini masih terdapat cukup banyak peluang hujan, hal tersebut dipengaruhi suhu permukaan laut di sekitar perairan Indonesia masih hangat.
Berdasarkan kondisi tersebut, secara umum wilayah provinsi yang memiliki 15 kabupaten dan kota ini cukup aman dari ancaman kebakaran hutan.
Namun melihat perkembangan iklim yang beberapa hari terakhir cenderung panas serta keberadaan titik api mulai meluas, sehingga diimbau kepada masyarakat yang tinggal di daerah rawan "hotspot" agar meningkatkan kewaspadaan kemungkinan terjadinya kebakaran hutan, lahan perkebunan, dan pertanian.
Beberapa daerah yang tergolong rawan "hotspot" seperti Kabupaten Musi Banyuasin, Banyuasin, Ogan Ilir, dan Kabupaten Ogan Komering Ilir, karena daerah tersebut terdapat banyak lahan gambut serta lahan perkebunan, kata Indra.
Sementara Koordinator Taruna Siaga Bencana (Tagana) Sumatera Selatan MS Sumarwan mengatakan, memasuki musim kemarau tahun ini, pihaknya telah menyiagakan sekitar 800 orang relawan guna mengantisipasi terjadinya bencana yang dapat menimbulkan berbagai permasalahan sosial.
Walaupun sekarang ini belum terdapat titik api yang berpotensi menyebabkan kebakaran hutan dan lahan, namun pihaknya bersama instansi terkait terus siaga pada daerah yang cukup rawan timbulnya bencana dampak musim kemarau itu, kata Sumarwan yang juga menjabat sebagai Kabid Bantuan dan Jaminan Sosial Dinas Sosial Sumsel itu.
"Titik api yang sebelumnya terdeteksi di dua kabupaten yakni Musi Banyuasin dan Banyuasin, kini mulai terlihat di wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir," kata Kasi Observasi dan Informasi Stasiun Klimatologi Kenten BMKG Sumatera Selatan Indra Purnama di Palembang, Senin.
Menurutnya, berdasarkan hasil pemantauan melalui satelit "Terra dan Aqua", beberapa hari terakhir terpantau titik api di wilayah Kabupaten Musi Banyuasin dan Banyuasin, dengan jumlah berfluktuatif maksimal 10 titik api.
Namun sekarang ini mulai terdeteksi di daerah lain yakni Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) walaupun jumlahnya hanya satu titik.
Sementara di wilayah 12 kabupaten dan kota Sumsel lainnya masih nihil atau belum terdeteksi satupun titik api, katanya.
Dijelaskannya, meski keberadaan titik api mulai meluas, namun jumlahnya masih tergolong normal dan belum mengkhawatirkan berpotensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan yang dapat merusak lingkungan serta menimbulkan gangguan kesehatan manusia.
Musim kemarau di wilayah Sumsel yang mulai terjadi sejak awal Juni 2013, diprediksi hingga Juli ini masih terdapat cukup banyak peluang hujan, hal tersebut dipengaruhi suhu permukaan laut di sekitar perairan Indonesia masih hangat.
Berdasarkan kondisi tersebut, secara umum wilayah provinsi yang memiliki 15 kabupaten dan kota ini cukup aman dari ancaman kebakaran hutan.
Namun melihat perkembangan iklim yang beberapa hari terakhir cenderung panas serta keberadaan titik api mulai meluas, sehingga diimbau kepada masyarakat yang tinggal di daerah rawan "hotspot" agar meningkatkan kewaspadaan kemungkinan terjadinya kebakaran hutan, lahan perkebunan, dan pertanian.
Beberapa daerah yang tergolong rawan "hotspot" seperti Kabupaten Musi Banyuasin, Banyuasin, Ogan Ilir, dan Kabupaten Ogan Komering Ilir, karena daerah tersebut terdapat banyak lahan gambut serta lahan perkebunan, kata Indra.
Sementara Koordinator Taruna Siaga Bencana (Tagana) Sumatera Selatan MS Sumarwan mengatakan, memasuki musim kemarau tahun ini, pihaknya telah menyiagakan sekitar 800 orang relawan guna mengantisipasi terjadinya bencana yang dapat menimbulkan berbagai permasalahan sosial.
Walaupun sekarang ini belum terdapat titik api yang berpotensi menyebabkan kebakaran hutan dan lahan, namun pihaknya bersama instansi terkait terus siaga pada daerah yang cukup rawan timbulnya bencana dampak musim kemarau itu, kata Sumarwan yang juga menjabat sebagai Kabid Bantuan dan Jaminan Sosial Dinas Sosial Sumsel itu.
Pewarta : Oleh Yudi Abdullah
Editor : Yudi Abdullah
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Tim Satgas padamkan karhutla 8,5 hektare di Desa Merbau Ogan Komering Ulu
07 September 2026 22:41 WIB
Karhutla Gunung Bromo: Titik api Probolinggo padam, Pasuruan masih dipadamkan
12 August 2026 11:34 WIB
Karhutla hanguskan 10 hektare lahan di Muara Enim, tim gabungan gencarkan pemadaman
07 August 2026 20:10 WIB
Terpopuler - Info Sumsel
Lihat Juga
Polda Sumsel gunakan cairan khusus X-Fire Slog padamkan karhutla di Muara Enim
11 September 2026 21:13 WIB
Satgas Karhutla Sumsel kendalikan kebakaran 90 hektare di SM Padang Sugihan
11 September 2026 11:09 WIB