Jakarta (ANTARA Sumsel) - Surya Institute merupakan rintisan universitas berbasis riset dengan 300 doktornya dengan tujuan mengubah peran perguruan tinggi yang tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan saja, tetapi mampu memberikan kontribusi penelitian, penemuan dan pengembangan ilmu pengetahuan.

"Kenyataan yang ada saat ini perguruan tinggi sekadar menjadi tempat belajar saja, sedangkan risetnya lemah. Lembaga pendidikan tidak akan maksimal memberi kontribusi kepada masyarakat dan negara jika hanya bergelut dalam pendalaman suatu materi ajar saja," kata pendiri Surya Institute, Yohanes Surya di Grand Indonesia, Jakarta, Rabu.

Dalam upaya tersebut Yohanes berupaya mendayagunakan para doktor yang telah berpengalaman melakukan riset.

"Pertimbangan melibatkan banyak doktor adalah potensi mereka yang bisa membimbing mahasiswanya untuk melakukan penelitian. Dalam lima tahun ke depan kami menargetkan mampu melibatkan dosen bergelar doktor hingga seribu orang," tukasnya.

Yohanes berharap kurikulum pendidikan yang diterapkan di institut miliknya dapat ditiru oleh perguruan tinggi lainnya, termasuk lembaga pendidikan negeri.

"Memang beberapa universitas negeri memiliki reputasi yang baik di Indonesia. Akan tetapi, mereka lemah dalam mengembangkan riset dalam proses pendidikannya. Maka tidak heran jika mahasiswa yang datang ke kampus hanya mendapatkan teori saja," ucapnya.

Meski begitu, masih menurut dia, pengajar doktor bukan modal utama dalam menggiatkan riset di kampus. Karena para dosen juga harus memiliki metode mengajar yang baik seperti cara pendekatan dengan mahasiswa.

"Kekuatan riset bernilai sangat tinggi dan luar biasa berkontirbusi bagi kemajuan suatu bangsa. Indonesia sejatinya masih kalah dengan Malaysia dan Singapura terkait riset. Itu belum termasuk banyaknya riset yang telah mereka patenkan," ujarnya.

Dia mencontohkan Suku Indian di masa lalu sempat menguasai sebagian besar Benua Amerika. Namun, tanpa riset dan pengembangan ilmu pengetahuan akhirnya mereka mampu ditaklukkan oleh penjajah dari Eropa.

Selain itu, Amerika Serikat dan Jepang mampu menjadi negara maju berkat perkembangan riset yang baik.

"AS pada tahun 1800-an jauh tertingal dari Argentina dan Kuba. Tapi melalui riset kini mereka mampu menjadi negara adidaya. Begitu juga dengan Jepang yang pada tahun 1960-an memiliki barang-barang produksi berkualitas buruk, namun kini telah merajai dunia teknologi berkualitas baik," tuturnya.

Yohanes menambahkan, kekayaan suatu negara akan juga tidak menjamin kejayaan suatu negara dalam jangka waktu yang lama.

"Kamboja pada tahun 1200-an adalah negara yang kaya, tetapi lama-kelamaan kejayaan mereka meredup karena tidak ada pengembangan ilmu pengetahuan," tandasnya.

Masih ada waktu bagi Indonesia untuk mengejar berbagai ketertinggalan dari negara lain.

"Kita memiliki bonus demografi yang besar, terutama generasi muda, sehingga potensi keilmuan dan riset masih bisa untuk dikembangkan. Saya yakin jika pendidikan berbasis riset berkembang dalam beberapa tahun ke depan maka dalam 25 tahun ke depan Indonesia mampu menjadi salah satu negara maju di dunia," katanya.