Harga ikan gabus belum naik jelang lebaran
Kamis, 16 Agustus 2012 11:35 WIB
Harga ikan gabus jelang lebaran belum naik (FOTO ANTARA)
Palembang (ANTARA Sumsel) - Harga ikan air tawar jenis gabus di sejumlah pasar tradisional Kota Palembang, Kamis tercatat Rp35.000 per kilogram, atau belum mengalami kenaikan berarti meski sudah mendekati lebaran.
Rudi, pedagang di Pasar Perumnas mengatakan harga masih bertahan disebabkan warga Palembang yang menahan keinginan untuk membeli tidak berlebihan, sehingga berimbang dengan stok tersedia.
Menurut dia, ikan gabus sebagai bahan utama membuat makanan khas Palembang "pempek" itu akan lebih baik diolah ketika satu atau dua hari menjelang Lebaran.
"Kemungkinan besar, pada 17 Agustus baru banyak yang membeli dan diperkirakan harga akan naik seperti pengalaman pada tahun lalu," ujarnya.
Ia memprediksi, harga ikan yang dikenal dengan nama kutuk di Jawa atau kocolan di Betawi itu akan menembus angka Rp50.000 hingga Rp70.000 per kiligram.
"Malahan pada Lebaran tahun lalu menembus angka Rp85.000 per kilogram, namun setelah Hari Raya akan merosot tajam menjadi Rp30.000 hingga Rp35.000 per kilogram," katanya.
Sementara, Bella, warga Palembang, mensiasati kenaikan harga ikan gabus itu dengan membeli saat masih murah untuk disimpan di lemari pendingin.
"Sebenarnya mudah saja, cukup disimpan di "freezer" lalu dikeluarkan saat akan memasaknya. Kondisi ikan masih baik dan segar," ujarnya.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumsel Nasrun Umar mengatakan, meskipun harga ikan gabus itu mahal tapi tetap diburu warga Palembang yang merayakan Lebaran.
Ikan gabus bagi masyarakat Palembang merupakan bahan utama pembuatan makanan khas pempek. Sementara, pempek kerap kali menjadi menu utama saat berlebaran.
"Tingginya permintaan ikan gabus karena masyarakat Palembang lebih memilih bahan baku pempek dari ikan sungai, dibandingkan ikan laut," ujarnya.
Alasannya, ikan sungai tidak terlalu amis dibandingkan ikan laut, dan tidak terasa gatal di mulut.
"Sebelumnya, ikan sungai digunakan yakni ikan belida, tapi karena sudah jarang didapatkan akibat banyak lahan rawa-rawa yang ditimbun, maka sejak tahun 1990-an, warga Palembang lebih sering menggunakan ikan gabus," katanya.(Dolly)
Rudi, pedagang di Pasar Perumnas mengatakan harga masih bertahan disebabkan warga Palembang yang menahan keinginan untuk membeli tidak berlebihan, sehingga berimbang dengan stok tersedia.
Menurut dia, ikan gabus sebagai bahan utama membuat makanan khas Palembang "pempek" itu akan lebih baik diolah ketika satu atau dua hari menjelang Lebaran.
"Kemungkinan besar, pada 17 Agustus baru banyak yang membeli dan diperkirakan harga akan naik seperti pengalaman pada tahun lalu," ujarnya.
Ia memprediksi, harga ikan yang dikenal dengan nama kutuk di Jawa atau kocolan di Betawi itu akan menembus angka Rp50.000 hingga Rp70.000 per kiligram.
"Malahan pada Lebaran tahun lalu menembus angka Rp85.000 per kilogram, namun setelah Hari Raya akan merosot tajam menjadi Rp30.000 hingga Rp35.000 per kilogram," katanya.
Sementara, Bella, warga Palembang, mensiasati kenaikan harga ikan gabus itu dengan membeli saat masih murah untuk disimpan di lemari pendingin.
"Sebenarnya mudah saja, cukup disimpan di "freezer" lalu dikeluarkan saat akan memasaknya. Kondisi ikan masih baik dan segar," ujarnya.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumsel Nasrun Umar mengatakan, meskipun harga ikan gabus itu mahal tapi tetap diburu warga Palembang yang merayakan Lebaran.
Ikan gabus bagi masyarakat Palembang merupakan bahan utama pembuatan makanan khas pempek. Sementara, pempek kerap kali menjadi menu utama saat berlebaran.
"Tingginya permintaan ikan gabus karena masyarakat Palembang lebih memilih bahan baku pempek dari ikan sungai, dibandingkan ikan laut," ujarnya.
Alasannya, ikan sungai tidak terlalu amis dibandingkan ikan laut, dan tidak terasa gatal di mulut.
"Sebelumnya, ikan sungai digunakan yakni ikan belida, tapi karena sudah jarang didapatkan akibat banyak lahan rawa-rawa yang ditimbun, maka sejak tahun 1990-an, warga Palembang lebih sering menggunakan ikan gabus," katanya.(Dolly)
Pewarta :
Editor : M. Suparni
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Operasi serentak di Jakarta Timur jaring 7,63 kuintal ikan sapu-sapu dari Sungai Ciliwung
17 April 2026 9:40 WIB
Kisah ibu di pinggiran Singkarak, cetak anak jadi polisi dan sarjana dari ikan bilih
21 February 2026 19:33 WIB
Terpopuler - Info Bisnis
Lihat Juga
Kopi Tebat Benawa, saat tradisi dan inovasi Pusri bertemu di kaki Gunung Dempo
22 April 2026 16:45 WIB