30 tahun bergelut dengan cincau
Minggu, 5 Agustus 2012 12:35 WIB
Pembuatan cincau di Pabrik Haji Kohar di Jalan Pangki Usman Lorong Lebak Seberang Ulu I Palembang. (Foto Antarasumsel.com/Feny Selly)
Palembang (ANTARA Sumsel) - Haji Effendi Kohar (62 thn) salah satu pengusaha di Kota Palembang yang hampir tiga puluh tahun lebih bergelut dengan memproduksi cincau hitam.
Sejak awal tahun 1980-an Kohar memang sudah memulai usaha ini setelah berhenti dari sebuah pabrik pembuat cincau di Pasar Ubi 26 Ilir Palembang milik seorang pengusaha asal Jawa Barat.
"Saya berhenti bekerja karena pabrik terbakar dan pemilik tak sanggup mengupah kami lagi," ujar dia.
Berkat dorongan mantan bosnya, ia pun memberanikan diri untuk memulai usaha pembuatan cincau hitam. tepat sekitar awal tahun 1981 memulai dengan kecil-kecilan di rumahnya Jalan Pangki Uusman Lorong Lebak
Seberang Ulu I. Cincau produksinya pun diberi merk 1 yang berarti Cincau seberang Ulu I.
Semua ilmu yang dia dapatkan dari tempat kerja terdahulu ia praktikkan di pabrik miliknya sendiri. Sementara bahan rumput cincau diperoleh melalui kenalan di Ponorogo.
"Tanaman ini berada di daerah pegunungan Ponorogo sehingga kami pasok dari sana," ungkapnya.
Ia kini memproduksi kurang lebih 800 loyang dan ratusan kaleng cincau per hari. Di bulan Ramadan ini produksi meningkat hingga 1000 loyang perhari. Oleh karena itu tiap memasuki bulan suci ia selalu menerima
pekerja tambahan dari Tugumulyo untuk membantu produksi.
Harga cincau cukup terjangkau yaitu per loyangnya Rp14.000, sedangkan untuk kaleng Rp 75.000.
Pelanggan cincau hitam Haji Kohar kini sangat banyak terutama para pedagang dari Pasar Induk Jakabaring, Pasar Kuto, Pasar Lemabang, Pasar Plaju, Kertapati, hingga luar kota seperti Curup, Kabupaten Rejang Lebong (Bengkulu) dan Tanjung Enim.
Selama beberapa tahun terakhir usahanya pun sempat diterpa isu miring tentang penggunaan formalin.
"Saya jamin tidak ada sedikit pun bahan formalin masuk ke cincau produksi saya," ungkap pria dengan lima anak dan 14 cucu ini.
Ia pun tak segan-segan menjelaskan proses pembuatan cincau hitam. Pertama yang dilakukan adalah memilah rumput dan mencucinya karena proses pertama itu cukup mendasar.
Setelah dicuci rumput pun direbus pada panci tong yang dipanaskan dengan kayu bakar dan sudah diisi air. Setelah matang rumput diperas dan saripatinya disaring dengan saringan berbentuk kain.
Setelah itu saripati rumput cincau dimasak lagi hingga mendidih. Kemudian air pati tadi ditambahkan air sagu untuk membantu mengentalkan saripati.
Dengan usaha cincaunya itu Haji Kohar telah berhasil menyekolahkan kelima anaknya bahkan bisa naik haji dengan biaya sendiri. Ke depan besar harapannya salah satu anakanya bisa mewarisi usaha yang puluhan tahun sudah
dijalaninya itu. (Fn)
Sejak awal tahun 1980-an Kohar memang sudah memulai usaha ini setelah berhenti dari sebuah pabrik pembuat cincau di Pasar Ubi 26 Ilir Palembang milik seorang pengusaha asal Jawa Barat.
"Saya berhenti bekerja karena pabrik terbakar dan pemilik tak sanggup mengupah kami lagi," ujar dia.
Berkat dorongan mantan bosnya, ia pun memberanikan diri untuk memulai usaha pembuatan cincau hitam. tepat sekitar awal tahun 1981 memulai dengan kecil-kecilan di rumahnya Jalan Pangki Uusman Lorong Lebak
Seberang Ulu I. Cincau produksinya pun diberi merk 1 yang berarti Cincau seberang Ulu I.
Semua ilmu yang dia dapatkan dari tempat kerja terdahulu ia praktikkan di pabrik miliknya sendiri. Sementara bahan rumput cincau diperoleh melalui kenalan di Ponorogo.
"Tanaman ini berada di daerah pegunungan Ponorogo sehingga kami pasok dari sana," ungkapnya.
Ia kini memproduksi kurang lebih 800 loyang dan ratusan kaleng cincau per hari. Di bulan Ramadan ini produksi meningkat hingga 1000 loyang perhari. Oleh karena itu tiap memasuki bulan suci ia selalu menerima
pekerja tambahan dari Tugumulyo untuk membantu produksi.
Harga cincau cukup terjangkau yaitu per loyangnya Rp14.000, sedangkan untuk kaleng Rp 75.000.
Pelanggan cincau hitam Haji Kohar kini sangat banyak terutama para pedagang dari Pasar Induk Jakabaring, Pasar Kuto, Pasar Lemabang, Pasar Plaju, Kertapati, hingga luar kota seperti Curup, Kabupaten Rejang Lebong (Bengkulu) dan Tanjung Enim.
Selama beberapa tahun terakhir usahanya pun sempat diterpa isu miring tentang penggunaan formalin.
"Saya jamin tidak ada sedikit pun bahan formalin masuk ke cincau produksi saya," ungkap pria dengan lima anak dan 14 cucu ini.
Ia pun tak segan-segan menjelaskan proses pembuatan cincau hitam. Pertama yang dilakukan adalah memilah rumput dan mencucinya karena proses pertama itu cukup mendasar.
Setelah dicuci rumput pun direbus pada panci tong yang dipanaskan dengan kayu bakar dan sudah diisi air. Setelah matang rumput diperas dan saripatinya disaring dengan saringan berbentuk kain.
Setelah itu saripati rumput cincau dimasak lagi hingga mendidih. Kemudian air pati tadi ditambahkan air sagu untuk membantu mengentalkan saripati.
Dengan usaha cincaunya itu Haji Kohar telah berhasil menyekolahkan kelima anaknya bahkan bisa naik haji dengan biaya sendiri. Ke depan besar harapannya salah satu anakanya bisa mewarisi usaha yang puluhan tahun sudah
dijalaninya itu. (Fn)
Pewarta :
Editor : Indra Gultom
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Harga jual emas di Pegadaian, dua produk buatan Galeri24 dan UBS kompak stabil
26 January 2026 10:08 WIB
Harga emas terus meroket, produk UBS di Pegadaian jadi Rp2.956.000 juta/gram.
24 January 2026 8:48 WIB
Bursa harga emas di Pegadaian Minggu ini, dua produk logam mulia kompak turun
16 November 2025 9:39 WIB
Produk Kilang Plaju Breezon MC-32 digunakan di Lapangan Jambaran Tiung Biru Jawa Timur
13 November 2025 12:04 WIB
Terpopuler - Lipsus
Lihat Juga
Gelamai dan Lepat Binti, penganan khas Bengkulu diminati pasar Malaysia dan Singapura
31 October 2022 21:22 WIB, 2022