Petani panen padi organik seluas 25 hektare
Rabu, 30 Mei 2012 23:49 WIB
ilustrasi petani panen padi (antarasumsel.com/istimewa)
Lubuklinggau (ANTARA Sumsel) - Para petani yang tergabung dalam kelompok tani unggul Kecamatan Lubuklinggau Barat I, Kota Lubuklinggau, Sumatra Selatan, saat ini panen padi organik di lahan sawah seluas 25 hektare.
"Luas tanaman padi organik yang dikembangkan kelompok tani tersebut saat ini mulai dipanen mencapai 25 hektare," kata Kepala Dinas Tanaman Pangan, Perikanan, Perkebunan, dan Kehutanan Pemerintah Kota Lubuklinggau Setia Budi, Rabu.
Padi organik yang mereka panen, katanya, merupakan tanaman perdana dengan menggunakan 'system rice of intensication" (SRI).
Ia menjelaskan, pengembangan padi organik itu merupakan pertama kali setelah petani setempat melihat pelaksanaan program itu di Kecamatan Lubuklinggau Selatan II.
Hasil uji coba padi organik itu, katanya, ternyata cukup memuaskan. Panen setiap hektare bisa mencapai delapan ton gabah kering giling (GKG).
Ia mengatakan, budi daya padi organik yang ramah lingkungan dengan sistem SRI akan terus dikembangkan dengan areal yang lebih luas supaya bisa mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia.
Petugas Pengamat Hama dan Penyakit Tanaman Pangan dan Holtikultura Wilayah Tugumulyo, Lahat, Pagar Alam, Empat Lawang, dan Kota Lubuklinggau, Ngapio, mengatakan, pengembangan tanaman padi organik dengan menggunakan SRI efektif meningkatkan produktivitas petani.
Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Provinsi Sumsel, katanya, saat ini menggalakkan pengembangan tanaman padi organik di 15 kabupaten dan kota di daerah itu.
Selain itu juga memberikan pelatihan pengelolaan dan berbagai cara penanganan hama serta penyakit dengan memanfaatkan bahan baku alam yang ramah lingkungan.
Ia mengharapkan, pada masa mendatang program itu terus dikembangkan oleh masing-masing daerah sehingga peningkatan produksi beras Sumsel untuk mendukung program swasembada pangan nasional dapat dicapai.
(nmd)
"Luas tanaman padi organik yang dikembangkan kelompok tani tersebut saat ini mulai dipanen mencapai 25 hektare," kata Kepala Dinas Tanaman Pangan, Perikanan, Perkebunan, dan Kehutanan Pemerintah Kota Lubuklinggau Setia Budi, Rabu.
Padi organik yang mereka panen, katanya, merupakan tanaman perdana dengan menggunakan 'system rice of intensication" (SRI).
Ia menjelaskan, pengembangan padi organik itu merupakan pertama kali setelah petani setempat melihat pelaksanaan program itu di Kecamatan Lubuklinggau Selatan II.
Hasil uji coba padi organik itu, katanya, ternyata cukup memuaskan. Panen setiap hektare bisa mencapai delapan ton gabah kering giling (GKG).
Ia mengatakan, budi daya padi organik yang ramah lingkungan dengan sistem SRI akan terus dikembangkan dengan areal yang lebih luas supaya bisa mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia.
Petugas Pengamat Hama dan Penyakit Tanaman Pangan dan Holtikultura Wilayah Tugumulyo, Lahat, Pagar Alam, Empat Lawang, dan Kota Lubuklinggau, Ngapio, mengatakan, pengembangan tanaman padi organik dengan menggunakan SRI efektif meningkatkan produktivitas petani.
Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Provinsi Sumsel, katanya, saat ini menggalakkan pengembangan tanaman padi organik di 15 kabupaten dan kota di daerah itu.
Selain itu juga memberikan pelatihan pengelolaan dan berbagai cara penanganan hama serta penyakit dengan memanfaatkan bahan baku alam yang ramah lingkungan.
Ia mengharapkan, pada masa mendatang program itu terus dikembangkan oleh masing-masing daerah sehingga peningkatan produksi beras Sumsel untuk mendukung program swasembada pangan nasional dapat dicapai.
(nmd)
Pewarta :
Editor : Indra Gultom
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Petani di Aceh digaji negara selama pemulihan lahan sawah terdampak bencana
17 January 2026 9:19 WIB
Nyala harapan dari Rejosari, petani naik kelas berkat pelatihan wirausaha Pertamina EP
23 December 2025 11:17 WIB
PT Bumi Andalas Permai salurkan bantuan mesin pemotong rumput ke desa binaan Kabupaten OKI
19 December 2025 9:23 WIB
Pasca bencana, Mentan beli 40 ton cabai petani Aceh dikirim ke Jakarta via Hercules
18 December 2025 9:09 WIB