Mengintip sisa-sisa kejayaan dunia sinema lokal

id bioskop senen,bioskop legendaris,film,berita sumsel, berita palembang, antara sumsel, antara palembang, antara hari ini, jembatan ampera, wong palemba

Mengintip sisa-sisa kejayaan dunia  sinema lokal

Proyeksionis Dani Mulyana memperlihatkan salah satu gulungan pita film analog koleksi Bioskop Grand dan Mulia Agung, Senen, Jakarta Pusat, Sabtu (27/7/2019) (ANTARA News/Adnan Nanda)

Walau tak lagi mendapatkan upah dari pekerjaannya merawat peninggalan bioskop, Dani acuh dan tidak mau meninggalkan hobinya itu
Jakarta (ANTARA) - Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.

Itu peribahasa yang memberi analogi betapa pentingnya peran keluarga inti terhadap pembentukan karakter seorang anak.

Sejak kecil, Dani Mulyana gemar mengutak-atik berbagai perangkat elektronik. Salah satu barang yang kerap menjadi bahan eksperimennya adalah mesin pemutar pita film milik sang kakek yang bekerja untuk sebuah perusahaan bioskop.

Siapa sangka, rasa ingin tahu Dani kecil terhadap mesin analog tersebut yang akhirnya membuat dirinya jatuh hati pada film seluloid dan menjadikannya bagian dari takdir kehidupan.

Dani Mulyana lahir di Garut, Jawa Barat, empat puluh sembilan tahun silam. Masa kecilnya banyak ia habiskan di dunia seni gambar bergerak alias film bioskop, sesuatu yang pada masa itu tengah mendulang masa jaya di Indonesia dan menjadi amat digemari oleh semua orang.

Menginjak usia remaja, ia kerap kabur-kaburan dari sekolah, hanya untuk memuaskan dahaganya menonton film di bioskop bernama Sumber Sari yang berlokasi di Jalan Ahmad Yani, Garut, Jawa Barat.

Kebetulan lokasi bioskopnya tidak jauh dari rumah orang tuanya. Apalagi ayahnya juga bekerja sebagai petugas tiket dan kakeknya proyeksionis di Bioskop Cikuray.

"Kecintaan saya terhadap film analog memang berawal dari keluarga,” buka Dani.

Mencuri diam-diam ilmu dari sang kakek, Dani mulai mengerti skema kerja mesin proyektor analog pemutar film. Tidak jarang ia kena omel lantaran sang kakek khawatir alat tersebut rusak.

Namun kegigihan Dani mempelajari proyektor membuatnya dipercaya untuk menggantikan peran kakek menjadi seorang proyeksionis di Bioskop Cikuray pada tahun 1995.

Selepas Bioskop Cikuray bangkrut, Dani beberapa kali pindah bioskop hingga akhirnya hijrah ke ibu kota pada tahun 2005.

Sempat merasakan bekerja sebagai pengangkut jeruk di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, Dani tetap tidak bisa melepaskan rasa cintanya terhadap gulungan pita film.

“Masih kepikiran bioskop. Lucunya, sewaktu saya mengantar jeruk ke daerah Pasar Senen, perhatian saya langsung tertuju pada bioskop yang ada di persimpangan jalan,' katanya.

 Itulah awal dia mengajukan diri untuk bekerja sebagai proyeksionis di Bioskop Grand dan Mulia Agung.  Dani pun kembali ke dunia bioskop mulai pada 2007.



Bioskop Mulia Agung adalah salah satu saksi sejarah zaman keemasan dunia film Tanah Air.

Menurut informasi yang Dani dengar dari kalangan orang tua setempat, bioskop tersebut sudah ada sejak era 1930-an. Pada 1950-an, bioskop milik Belanda itu diambilalih oleh pengusaha asal China dan berganti nama menjadi Bioskop Kramat dengan tiga studio.

Barulah kemudian Bioskop Grand hadir pada era 1980-an yang memiliki dua studio dan dapat menampung hingga 1.500 orang.

Dalam sehari, bioskop ini menggelar empat kali pertunjukan. Yaitu pukul 15.00 WIB, 17.00 WIB, 19.00 WIB dan 20.00 WIB.

Biasanya, Dani berangkat ke Bandung pada pagi-pagi sekali untuk mengambil gulungan film. Kemudian kembali ke Jakarta beberapa jam sebelum pemutaran film dimulai.

Satu judul film bisa bertahan selama dua mingguan.


           Tergerus zaman
Lain dulu, lain sekarang. Bioskop legendaris ini mesti mengalah pada zaman.

Sejak 31 Desember 2015, Bioskop Grand dan Mulia Agung resmi berhenti beroperasi. Sang pemilik memutuskan untuk mengakhiri bisnis hiburan tersebut karena semakin minimnya jumlah pengunjung, besarnya biaya operasional, sulitnya mendapatkan film seluloid dan tingginya pajak.

Dua film terakhir yang diputar bioskop tersebut adalah sebuah laga mandarin tahun 1990-an dan film nasional berjudul Akibat Pergaulan Bebas 2.

Saat itu, harga tiket di Bioskop Grand adalah Rp5.000 pada hari biasa. Sedangkan pada hari Sabtu dan Minggu harganya dipatok Rp10.000.

Sedikit berbeda karena ruangannya menggunakan air conditioner (AC) bukan kipas seperti di Grand, harga tiket di Mulia Agung Rp8.000 untuk hari biasa dan Rp15.000 untuk show akhir pekan.

Kini, Grand dan Mulia Agung praktis hanya menjadi rumah baru yang nyaman bagi gerombolan tungau, tikus dan partikel-partikel debu yang menggantung di udara.

Di bagian lobi bekas loket pembelian tiket film, tampak deretan mesin ATM usang. Di dalam studio, kursi-kursi berdebu tak terurus masih berjejer pada tempatnya ditingkahi kesunyian yang menyergap sehingga menimbulkan kesan mistis yang amat kuat.

Kata orang sih bangunan ini angker. "Tapi menurut saya mah tidak, itu pendapat orang saja," katanya.

Ada juga yang bilang bioskop ini menjadi tempat mesum berbagai jenis pasangan. Ya memang benar berdasarkan penjelasan pihak keamanan.

"Tapi selama saya bertugas nggak pernah melihat secara langsung hal-hal semacam itu,” kata Dani dengan logat Sunda. Meski bobrok, tanda sisa-sisa kejayaan bangunan tersebut masih terlihat. Misalnya, tulisan yang menerangkan jadwal pemutaran film dan tumpukan poster film beraneka genre, masa dan negara.

Dani juga menjaga dua mesin proyektor analog ukuran film 16 milimeter dan satu unit mesin ukuran film 35 milimeter yang masih bisa bekerja sesuai dengan fungsinya seperti kali pertama benda itu digunakan tahun 1980-an.

Sampai sekarang dia masih memutar mesin proyektor, mengecek pelumas, lampu-lampu dan gulungan film seluloid. "Istilahnya memanaskan mesinlah agar tidak rusak,” kata Dani yang enggan meninggalkan "kesayangan"-nya itu.

Walau tak lagi mendapatkan upah dari pekerjaannya merawat peninggalan bioskop, Dani acuh dan tidak mau meninggalkan hobinya itu.

Sambil tetap merawat mesin proyektor dan tidur di salah satu ruangan bekas kantor pengelola bioskop, kini Dani berjualan keping DVD bajakan persis di teras bioskop sambil sesekali sebagai pengemudi ojek.

“Lumayan asal ada uang untuk makan sehari-hari dan membeli rokok. Saya tidak bisa meninggalkan bioskop dan alat-alat di sini karena kecintaan saya terhadap ini semua,” kata Dani.

Menurut Dani, runtuhnya bioskop legendaris di kawasan Senen, Jakarta Pusat, itu hanya tinggal menunggu waktu. Sang pemilik berencana merapikan tempat tersebut dan mengubahnya menjadi bangunan perkantoran dalam waktu dekat.

Terkadang bila jenuh dan rasa rindunya membuncah, Dani memutar film-film kesukaan dan menikmatinya sendiri sambil mengenang betapa nakalnya ia semasa kecil.

Ia berandai-andai, apa jadinya ya kalau semasa kecil ia dibesarkan oleh keluarga pelaut, keluarga politisi, keluarga bankir atau keluarga Istana?