Populasi satwa di Taman Nasional Gunung Halimun Salak berkembang

id elang jawa,taman nasional,gunung halimun

Populasi satwa di Taman Nasional Gunung Halimun Salak berkembang

Burung elang jawa, salah satu satwa liar yang diketahui memiliki habitat di Taman Nasional Gunung Halimun Salak. (ANTARA FOTO/Regina Safri)

Lebak, Banten (ANTARA News Sumsel) - Populasi spesies satwa liar langka dan dilindungi di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TN GHS) dipastikan berkembang karena petugas polisi hutan mengoptimalkan patroli maupun sosialisasi kepada masyarakat setempat.

"Beberapa tahun terakhir ini tidak ditemukan pelaku perburuan satwa liar yang dilindungi itu," kata Zul (45), seorang petugas TN GHS wilayah Kabupaten Lebak saat ditemui di gerai Pameran Pekan Ekonomi Kreatif Lebak, Banten, Sabtu (1/12).

Menurut dia, populasi satwa yang dilindungi di kawasan TN GHS relatif baik, karena kesadaran masyarakat cenderung meningkat.

Masyarakat juga menjaga populasi satwa tersebut agar berkembang tidak semakin langka dan tidak punah.

Populasi satwa yang dilindungi di kawasan TN GHS antara lain macan tutul jawa, kucing hutan, owa jawa, surili, lutung, ajag atau anjing hutan dan sigung.

Selain itu, juga terdapat jenis mamalia di antaranya, ciung mungkal jawa, celepuk jawa, dan luntur gunung serta burung predator, burung elang jawa. "Semua populasi satwa yang dilindungi itu berkembang," katanya.

Ia mengatakan, saat ini jumlah populasi satwa yang terdapat di kawasan TN GHS membawahi wilayah Kabupaten Lebak, Kabupaten Bogor dan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat antara lain kelompok mamalia sebanyak 61 jenis dan burung 244 jenis.

Begitu juga populasi satwa amfibi 30 jenis, reptilia 49 jenis, ikan 50 jenis, moluska 36 jenis, kupu-kupu 75 jenis, semut 110 jenis, capung 26 jenis, kumbang kumis panjang 128 jenis, dan belalang, jangkrik dan kecoa 60 jenis.

Saat ini, petugas selama 24 jam melaksanakan pengamanan agar satwa yang ada berkembang dan tidak ada pemburuan.

"Kami menindak tegas jika ditemukan pelaku pemburuan satwa dan diproses secara hukum," ujarnya pula.

Ia juga menambahkan, petugas setiap tahun melaksanakan pemasangan jebakan kamera untuk mengetahui jejak gambar satwa langka khususnya macan tutul, owa jawa, dan elang jawa (Spizaetus bartelzii).

"Kami berharap populasi satwa langka itu tetap lestari dan berkembang," katanya.
Pewarta :
Editor: Erwin Matondang
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar