
Hafidz Tohir minta warga Sumsel bantu bebaskan lahan

Palembang (ANTARA News Sumsel) - Ketua Komisi XI DPR Achmad Hafiz Tohir meminta masyarakat Sumatera Selatan membantu dalam tiap pembebasan lahan yang diperuntukkan pembangunan jalan dan jembatan.
"Sekarang ini permasalahan pembangunan insfrastruktur jalan dan jembatan di Sumsel banyak terkendala lahan karena sering berbenturan dengan wilayah penduduk, namun hendaknya masyarakat juga sadar serta bisa membebaskan lahannya, sebab jalan-jembatan tersebut juga untuk kepentingan rakyat banyak," kata Hafidz Tohir usai rapat Evaluasi Asian Games 2018 di Palembang, Rabu.
Menurutnya pertumbuhan ekonomi di Sumsel meningkat setelah Asian Games, peningkatan tersebut harus terus dikebut dengan membangun sarana jalan dan jembatan guna mendukung percepatan distribusi barang dan jasa, termasuk jalan Tol dari Palembang ke Pagaralam yang saat ini baru sampai Indralaya.
Meskipun belakangan memang bidang olahraga yang paling berkembang di Sumsel, namun tidak berarti pemda mengurangi perhatian terhadap bidang lain, seperti pertanian dan industri.
"Dengan perkembangan olahraga belakangan ini, apakah dampaknya benar-benar menguntungkan semua sektor? Bagaimana dengan sektor industri? Faktanya ekspor masih kalah dengan Impor, jadi hendaknya pemda terus fokus mengembangkan semua sektor dan meningkatkan nilai ekspor," ujar Hafidz.
Pihaknya juga mengisyaratkan pemda agar mulai mengembangkan industri karet demi menyelamatkan sektor pertanian karet Sumsel yang beberapa tahun terakhir diombang-ambing harga pasar dunia, padahal Sumsel termasuk penghasil karet terbesar di dunia.
"Harga karet hari ini yang menentukan pasar dunia, akibatnya petani hanya bisa mengikuti harga pasar di tengah terus menurunya komoditas tersebut, kami usulkan ke pemerintah buatlah road map hilirisasi karet, kalau bisa karet-karet yang ada di olah sendiri, jangan lagi jual ke luar, buatlah pabrik ban atau apapun untuk mengolah karet menjadi barang jadi, ingat 55 persen masyarakat Sumsel itu petani karet," jelasnya.
Pewarta: Aziz Munajar
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
