Proyek infrastruktur dikebut berjatuhan

id kecelakaan kerja,berita palembang,berita sumsel,pembangunan infratruktur,program kerja pemerintah,k2, waskita,becakyu,waskita,hutamakarya

Arsip- Pembangunan Jembatan . (ANTARA Sumsel/Nova Wahyudi/dol/17)

....Presiden berharap kesalahan-kesalahan pekerjaan konstruksi dapat dihindari....
Jakarta (ANTARA News Sumsel) - Pemerintahan Presiden Joko Widodo telah menghentikan seluruh proyek pembangunan infrastruktur jalan yang melayang menyusul kecelakaan kerja dalam proyek Jalan Tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu) pada Selasa (20/2).

Proyek Jalan Tol Becakayu merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional yang diatur melalui Peraturan Presiden Nomor 58 tahun 2017.
     
Peraturan tersebut adalah kelanjutan dari Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional.

Proyek Jalan Tol Becakayu dikerjakan oleh PT Waskita Karya mulai 2014 dengan nilai kontrak Rp7,23 triliun dan memiliki panjang ruas 11 kilometer.

Setelah kecelakaan di yang menakibatkan tujuh pekerja mengalami luka-luka itu, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat langsung menghentikan seluruh proyek dan meminta kontraktor pelaksana dan pemilik pekerjaan mengajukan kembali metode kerja dan pengawasan prosedur kerja.

Presiden Jokowi telah memerintahkan agar pengerjaan proyek infrastruktur yang berada di bawah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat diawasi lebih ketat.

"Pengawasan terhadap infrastruktur, terutama yang konstruksinya di atas memerlukan pengawasan yang lebih ketat karena pembangunan tidak hanya di satu tempat, di banyak sekali tempat. Ada yang 'flyover', LRT , jalan tol layang. Perlu pengawasan rutin dan ketat," kata Presiden.

Dengan penghentian sementara dan pengawasan yang lebih ketat, Presiden berharap kesalahan-kesalahan pekerjaan konstruksi dapat dihindari.

Pengerjaan proyek konstruksi adalah pekerjaan yang detail sehingga tidak bisa diawasi sambil lalu. Pengerjaan komponen-komponen yang mendukung konstruksi harus benar-benar diawasi satu persatu agar tidak terjadi kelalaian atau kesalahan.

Presiden mengatakan harus ada "management control" untuk menghindari kesalahan dan kelalaian yang berakibat fatal. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat harus melakukan evaluasi total karena ada banyak pengerjaan proyek infrastruktur.

"Ada yang ditargetkan selesai 2023, 2020, ada yang mengejar Asian Games. Apa pun pekerjaan, baik yang dikerjakan normal atau yang cepat, semuanya perlu 'management control' yang detail," tuturnya.

Pemerintahan Presiden Joko Widodo memang sedang melakukan proyek pembangunan besar-besaran di banyak tempat seolah-olah penyediaan infrastruktur untuk masyarakat dikebut.
   
              Kejar setoran

Pengerjaan proyek infrastruktur yang ngebut, hingga akhirnya, roboh dan menimbulkan korban itu sempat dikritik keras oleh Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia bagaikan sopir angkutan kota yang "kejar setoran".

Tulus Abadi mengibaratkan pengerjaan proyek infrastruktur bagaikan sopir angkutan kota yang mementingkan pekerjaan selesai, tanpa mengutamakan keselamatan, keamanan dan kenyamanan penumpangnya.

Apalagi, kejadian kecelakaan dalam pengerjaan  infrastruktur bukan hanya terjadi dalam proyek Jalan Tol Becakayu saja. Kecelakaan di Jalan Tol Becakayu adalah kejadian ke-12 sepanjang 2017 hingga awal 2018.

Kecelakaan dalam pengerjaan konstruksi merupakan kegagalan konstruksi yang membuktikan proyek tersebut tidak direncanakan matang atau diawasi secara ketat dan konsisten.

Karena itu, Tulus meminta pemerintah membentuk tim investigasi untuk melakukan audit terhadap seluruh proyek infrastruktur.

"Tim investigasi sangat mendesak untuk mengaudit ulang seluruh proyek infrastruktur yang sedang berjalan," katanya.

Audit terhadap seluruh proyek juga penting agar kejadian serupa tidak terjadi atau terulang ketika infrastruktur tersebut sudah digunakan oleh masyarakat.

"Akan ada korban massal bila kecelakaan akibat kegagalan konstruksi terjadi saat infrastruktur itu digunakan masyarakat," ujarnya.
   
              Lima kejadian
Sepanjang 2018, dari Januari hingga 20 Februari, telah terjadi lima kecelakaan dalam pengerjaan infrastruktur yang masuk dalam Proyek Strategis Nasional. Kecelakaan di Jalan Tol Becakayu adalah yang kelima.

Kecelakaan pertama yang terjadi pada 2018 adalah beton girder proyek Jalan Tol Depok-Antarasari di Jakarta Selatan yang jatuh pada Selasa (2/1). Beton girder jatuh pada pukul 10.00 WIB, diduga karena tersenggol alat berat.

Tidak ada korban dalam kecelakaan dalam proyek yang dikerjakan PT Citra Marga Nusaphala melalui anak usahanya PT Citra Waspphutowa dan bekerja sama dengan PT Girder Indonesia itu. Kerugian sementara akibat kejadian itu diperkirakan mencapai Rp2 miliar.

Kejadian kedua terjadi pada Senin (22/1) pada proyek Light Rail Transit (LRT) di Pulogadung, Jakarta Timur milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Beton girder untuk konstruksi proyek tersebut roboh dan menyebabkan lima pekerja luka-luka.

Proyek tersebut dikerjakan PT Jakarta Propertindo dengan pengerjaan konstruksi lintasan oleh PT Wijaya Karya. Belum ada kepastian berapa kerugian akibat kejadian tersebut.

Pada Minggu (4/2), "crane" pengangkut beton untuk Proyek "Double-Double Track" (DDT) di Jalan Matraman Raya, Jakarta Pusat ambruk dan menyebabkan empat pekerja meninggal dunia sementara sejumlah pekerja lain luka-luka.

Proyek tersebut milik Kementerian Perhubungan dan dikerjakan PT Hutama Karya, PT Adhi Karya dan PT Wijaya Karya dengan proyek kereta api digarap PT Len Industri yang bekerja sama dengan Mitsubshi Heavy Indonesia dan Sumitomo Corporation.

Sehari kemudian, Senin (5/2), jalur kereta Bandara Soekarno-Hatta di Jalan Parimeter Selatan longsor akibat hujan deras yang mengguyur Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi.

Longsoran tanah dan beton menimbun sebuah mobil yang melintas di terowongan di bawah jalur kereta dan membuat penumpangnya terjebak di dalam kendaraan selama berjam-jam.

Satu penumpang akhirnya meninggal, sedangkan satu penumpang lain luka-luka, akibat kejadian di jalur kereta bandara yang sebelumnya dikerjakan PT Waskita Karya.
   
              Sepanjang 2017
Selain lima kejadian pada 2018, kecelakaan dalam proyek infrastruktur pada 2017 juga terjadi. Tercatat, ada tujuh kejadian sepanjang 2017.
 
Pada Jumat, (4/8) dua pekerja di Palembang Sumatera Selatan meninggal setelah terjatuh dari tiang penyangga proyek LRT yang menjadi pijakannya di Jalan Demang Lebar Daun Kecamatan IT I.

Kecelakaan kedua yang terjadi pada 2017 adalah Jembatan Overpass Tol Bogor-Ciawi-Sukabumi (Bocimi) di Desa Cimande Hilir, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor yang ambruk pada Jumat (22/9) Seorang pekerja proyek pembangunan jembatan itu meninggal tertimpa runtuhan cor beton badan jembatan.

Pada Selasa (17/10), tiga orang luka akibat tiang proyek LRT di Jalan Kelapa Nias Raya, Kelurahan Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara jatuh menimpa rumah warga sekitar pukul 01.50 WIB.

Masih di bulan yang sama, Minggu (29/10), satu pekerja konstruksi Jalan Tol Pasuruan-Probolinggo di di Desa Curukgondang, Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur meninggal akibat konstruksi jembatan di Stasiun 4 roboh pada pukul 09.45 WIB.

November 2017 seolah menjadi bulan dengan jumlah kecelakaan proyek terbanyak. Terdapat tiga kecelakaan pada bulan tersebut.

Pertama, terjadi pada Jumat (3/11) setelah pembatas beton proyek Mass Rapid Transit (MRT) seberat tiga ton jatuh di Jalan Wijaya II, Jakarta Selatan sehingga menimpa pengendara sepeda motor dan menyebabkan luka ringan.

Kejadian kedua adalah beton proyek LRT di Jalan MT Haryono, Cawang yang jatuh pada Rabu (15/11) dan menimpa mobil. Berselang sehari kemudian, Kamis (16/11), sebuah "crane" ambruk di Kilometer 15 Jalan Tol Jakarta-Cikampek.

Tidak ada korban pada dua kejadian itu, tetapi "crane" ambruk di Jalan Tol Jakarta-Cikampek mengakibatkan kemacetan di ruas tol.
(T.D018/A.F. Firman)
Pewarta :
Editor: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar