Balada Gajah Sumatera

id gajah sumatera,gajah liar,balada gajah, habitat gajah, populasi gajah,gajah sumatera terancam punah, serangan gajah, pawang gajah

Arsip - Seorang pawang gajah memandikan Gajah Sumatera (Elephas maximus) yang ada di Suaka Margasatwa Padang Sugihan, Banyuasin, Sumatera Selatan. (ANTARA News Sumsel/Nova Wahyudi/17)

....Ini ternyata merupakan status terburuk dibandingkan sub-spesies gajah yang lain di Asia maupun Afrika. Saat ini jumlah gajah Sumatra di alam diperkirakan tidak lebih dari 2.400 ekor-2.800 ekor....
Kabar buruk datang dari Taman Nasional Way Kambas (TNWK) di Lampung Timur, Provinsi Lampung, ketika petugas patroli kehutanan dan kepolisian menemukan seekor gajah tergeletak tak bernyawa pada Senin (12/2).

Informasi ini dikatakan duka dan buruk bagi dunia pelestarian lingkungan hidup dan ekosistem karena gajah merupakan satwa yang sangat dilindungi. Satwa bertubuh tambun ini sangat dilindungi karena jumlahnya diperkirakan terus menyusut dan perkembangan jumlahnya juga semakin tidak mudah akibat semakin sedikitnya lokasi berupa hutan sebagai habitat asli.

Temuan bangkai gajah pertama kali disampaikan Kapolsek Labuhan Ratu AKP Siswanto mewakili Kapolres Lampung Timur AKBP Yudy Chandra Erlianto melalui keterangan pers yang disampaikan kepada Kantor Berita Antara. Disebutkan bahwa Tim Patroli Polisi Hutan dan Rhino Protection Unit (RPU) Balai Taman Nasional Way Kambas menemukan seekor bangkai gajah liar berjenis kelamin betina di Wilayah III Kuala Penet, Kecamatan Braja Selebah Lampung Timur, Provinsi Lampung.

Gajah betina berusia kira-kira 20 tahun itu ditemukan dengan ketiadaan gigi dan caling (gading) juga tidak ada. Gajah ditemukan tidak bernyawa lagi pada Senin (12/2) sekitar pukul 09.58 WIB diperkirakan telah mati dua hari sebelumnya.

Yang lebih mengejutkan, berdasarkan temuan di lapangan, penyebab kematiannya diduga akibat ditembak pemburu liar. Di tubuh gajah itu ditemukan luka tembak sebanyak lima lubang di dada dan kepala.

Polisi Sektor Labuhan Ratu terus melakukan penyelidikan untuk mengungkap pelaku yang membunuh hewan sangat dilindungi tersebut. Polisi berkoordinasi dengan pihak Taman Nasional Way Kambas dan mengumpulkan bahan keterangan dari masyarakat sekitar.

Kapolda Lampung Inspektur Jenderal Suntana juga cepat merespons kasus ini. Diapun langsung menerjunkan tim untuk membantu penyelidikan kasus ini oleh Polres Lampung Timur.

Mengingat lokasinya yang berada di kawasan TNWK, polisi tentu menggandeng polisi kehutanan (polhut). Dugaan sementara, 
dalam kasus perburuan liar ini, ada keterlibatan sindikat. Dugaan tersebut lantaran gigi dan gading gajah sudah tidak ada lagi.

Perburuan liar terhadap gajah Sumatera (Elephan maximus sumatranus) ini bertujuan untuk mengambil gadingnya. Di pasar gelap, harga gading gajah sangat mahal.

Karena itu, ada sindikat dan pemburu liar untuk mendapatkan gadingnya. Hampir setiap kematian gajah, gadingnya tidak ada lagi.

Itu pula yang memunculkan dugaan bahwa dalam setiap aksi perburuan liar terhadap gajah, pelaku tidak sendirian. Pelaku sudah memiliki jaringan untuk menguasai jalur perdagangan secara ilegal dan sangat tertutup.
   
              Terancam Punah
Secara global, kasus perburuan liar terhadap gajah juga masih merupakan persoalan yang perlu mendapat perhatian serius. Selain di Indonesia, kasus seperti itu terjadi pula Afrika dan beberapa negara lainnya, termasuk Asia.

Hal itu menyebabkan populasi gajah terus menurun. Begitu juga di Indonesia mengalami hal yang sama yang bisa dilihat dari masih terjadinya pembunuhan terhadap gajah di beberapa daerah, seperti Aceh dan Riau.

Menurut National Geographic, populasi gajah Sumatra menurun drastis dari tahun ke tahun. Itulah sebabnya, Lembaga Konservasi Dunia (IUCN) menaikan status keterancaman gajah Sumatra dari "genting" menjadi "kritis", hanya selangkah lag dari status "punah di alam".

Ini ternyata merupakan status terburuk dibandingkan sub-spesies gajah yang lain di Asia maupun Afrika. Saat ini jumlah gajah Sumatra di alam diperkirakan tidak lebih dari 2.400 ekor-2.800 ekor.

Angka itu turun 50 persen dari populasi sebelumnya, yaitu 3.000-5.000 ekor pada tahun 2007. Hilangnya habitat akibat alih fungsi hutan merupakan penyebab utama penurunan populasi gajah. Hal itu diperparah dengan perburuan lar.

Khusus untuk Lampung,  Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Wildlife Conservation Societies mencatat selama delapan tahun terakhir sebanyak 26 ekor gajah ditemukan mati di dalam kawasan hutan Taman Nasional Way Kambas Lampung Timur. Wildlife Conservation Societies (WCS) menduga kematian gajah-gajah yang sangat dilindungi ini akibat ulah pemburu liar yang mengincar gading dan giginya.

Data WCS Lampung Timur menyebutkan, pada tahun 2011 sebanyak enam ekor gajah terdiri atas lima jantan dan satu betina ditemukan mati, tahun 2012 satu ekor gajah betina serta pada 2013 tiga ekor gajah (satu jantan dan satu betina). Satu bangkai gajah tidak teridentifikasi jenis kelaminnya karena saat ditemukan tinggal tulang belulang.

Kemudian 2014 dua ekor gajah ditemukan mati (satu jantan dan satu betina). Tahun 2015 enam ekor gajah mati terdiri atas lima betina dan satu jantan. Tahun 2016 tiga ekor gajah mati, terdiri atas satu jantan dan satu betina yang satunya adalah bayi gajah yang mati diduga karena sakit.

Tahun 2017 empat ekor gajah mati, terdiri atas satu gajah betina dan tiga ekor tidak diketahui jenis kelaminnya karena tersisa tulangnya.

Terbaru di tahun 2018 ini satu ekor gajah betina berusia sekitar 20 tahun ditemukan mati di wilayah resor III Kuala Penet TNWK pada Senin (12/2) pagi.

Saat ditemukan gigi dan caling (gading) gajah betina ini hilang. Di bagian kepala dan dada gajah liar ini ditemukan beberapa bekas luka tembak.

Aktivis WCS Sugio mengemukakan, kalau melihat gajah yang ditemukan mati umumnya rusak di bagian kepalanya,  hilang gigi dan gadingnya. Kuat dugaan gajah-gajah ini mati karena diburu.

Perburuan liar itu selain akan mengurangi populasi yang sudah ada, juga memutus populasi gajah di masa depan karena dari jumlah gajah yang mati itu kebanyakan betina. Dengan demikian, perkembangbiakannya dipastikan akan semakin sulit karena semakin sedikitnya gajah betina. 

Tidak bisa dipungkiri bahwa perburuan gajah di TNWK masih sering terjadi jika melihat banyaknya gajah yang ditemukan mati secara tidak wajar setiap tahunnya di kawasan hutan itu. Bahkan tidak hanya satwa gajah yang diburu, tapi satwa kunci lainnya seperti harimau, badak, beruang dan tapir juga terancam diburu, termasuk rusa dan burung juga menjadi incaran pemburu. Motif pemburu itu bisa karena ekonomi dan hobi.

Penyebab maraknya perburuan itu diduga karena banyaknya celah masuk bagi para pemburu ar ke dalam hutan TMWK mengingat topografi hutan Way Kambas yang datar, berdampingan dengan pemukiman penduduk dan berbatasan dengan laut sehingga petugas kesulitan mengawasinya.

Ditambah lagi faktor minimnya petugas Polisi Hutan atau Polhut Balai TNWK yang tidak sebanding dengan luas hutannya. Karena itu, tampaknya perlu koordinasi yang kuat antarsemua instansi serta peningkatan patroli bersama, penegakan hukum yang tegas kepada para pelaku agar peristiwa perburuan gajah dan satwa lain di Way Kambas tidak terulang kembali.

Kepala Balai TNWK Ir Subakir membenarkan minimnya jumlah Polhut untuk melakukan patroli.  Balai TNWK hanya memiliki 50 petugas Polhut, suatu jumlah yang tidak sebanding dengan luas area hutan yang harus diawasi mencapai 125.621 hektare dengan batas pantai 73 kilometer (km) dan hutan TNWK yang diapit 37 desa.

Menyusul kematian gajah betina yang bau ditemukan, pihaknya bersama Polda Lampung dan Polres Lampung Timur melakukan olah TKP untuk mencari petunjuk penyebab kematiannya dan mengungkap pelakunya.

Olah TKP oleh Polda Lampung dan Polres Lampung Timur serta Balai TNWK untuk mencari petunjuk dan memastikan senjata yang dipakai pelaku. Diharapkan ada petunjuk dan pelaku bisa ditangkap secepatnya.

Mantan Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Lampung ini mengakui pihaknya kecolongan sehingga ada gajah TNWK mati akibat diburu. Meski demikian, dia menyangkal data WCS yang menyebutkan adanya 26 ekor gajah TNWK yang mati dalam kurun waktu delapan tahun terakhir. Namun dia enggan menyebut data gajah yang mati versi Balai TNWK.

Itulah sebabnya perlunya dilakukan pertemuan dengan WCS untuk mencocokkan datanya. Sinkronissi data memang penting, namun yang lebih penting adalah upaya bersama yang lebih keras dan tegas untuk melindungi dan menjaga kawasan TNWK agar tidak ada lagi aksi perburuan liar terhadap berbagai satwa dilindungi termasuk gajah. 

Tanpa ada upaya bersama yang lebih keras dan tegas, dikhawatirkan gajah Sumatera akan menjadi kenangan serta hanya ada dalam cerita masa lalu generasi mendatang.

(T.S023/M.M. Astro)
Pewarta :
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar