Logo Header Antaranews Sumsel

Bobot rusa kutub di Arktik menyusut akibat perubahan iklim

Selasa, 13 Desember 2016 03:16 WIB
Image Print
Rusa kutub (Reuters)

Oslo (Antara/Reuters) - Bobot rusa kutub, yang biasa digambarkan sebagai penarik kereta Santa Claus, di pulau Arktik dekat Kutub Utara menyusut akibat perubahan iklim, kata ilmuwan, Senin.

Perubahan iklim menyebabkan ketersediaan makanan hewan itu pada musim dingin berkurang, tambahnya.

Bobot normal rusa kutub dewasa di Svalbard, kepulauan di bagian utara Norwegia, turun dari 55 kilogram pada 1990-an menjadi 48kg akibat suhu tinggi, katanya.

"Musim panas lebih hangat baik untuk pertumbuhan rusa kutub, tetapi suhu musim dingin menjadi keras," kata Prof Steven Albon, ekolog dari Lembaga James Hutton, Skotlandia, ketua regu peneliti Norwegia.

Suhu kurang rendah pada musim dingin berdampak pada salju sering turun seperti layaknya hujan hingga membuat dataran beku. Hal itu menyulitkan rusa mendekati tetumbuhan untuk dimakan.

Akibatnya, banyak hewan kelaparan dan rusa kutub betina sering melahirkan bayi prematur.

Namun, pada musim panas, tanaman tumbuh subur sehingga memastikan rusa betina hamil pada musim gugur. Masa kehamilan biasanya berlangsung hingga tujuh bulan.

Meski demikian, populasi rusa kutub liar bertambah dari 800 ekor pada 1990-an menjadi 1.400.

"Sejauh ini populasinya bertambah, tetapi ukurannya menjadi lebih kecil," kata Albon merujuk ke rusa kutub di Svalbard, sekitar 1.300 kilometer dari Kutub Utara.

Tingginya jumlah rusa mengakibatkan kompetisi antarhewan untuk memperebutkan makanan di musim dingin meningkat.

Ia menunjukkan salah satu buku anak-anak terkenal, "Santa Klaus" karangan Raymond Briggs, terlihat sebuah kereta ditarik oleh dua rusa kutub.

"Jika rusa kutub semakin kecil dan lemah, apakah dua ekor mampu menarik kereta tersebut?" kata Albon mempertanyakan.

Suhu di Arktik meningkat lebih cepat jika dibandingkan dengan rata-rata dunia. Hal itu terjadi di tengah tingginya kadar gas rumah kaca di atmosfer.

Sebagian besar penelitian terkait pemanasan global di sekitar Svalbard banyak meneliti beruang kutub yang memangsa anjing laut di lautan ketimbang rusa kutub yang banyak mendiami dataran, atau serigala Arktik dan burung ptarmigan Svalbard.

Jumlah serigala Arktik sedikit meningkat karena mereka mampu bertahan di musim dingin ekstrem dengan memangsa rusa kutub, kata Eva Fuglei, seorang peneliti dari Institut Kutub Norwegia dan "Fram Centre" yang tidak terlibat dalam riset rusa kutub.

"Semua rusa kutub yang lemah, sakit, tua, dan anak-anak tewas," katanya.

Akan tetapi, hal itu menunjukkan serigala harus berjuang bertahan hidup pada musim dingin berikutnya karena hanya rusa kutub sehat yang bertahan.

(Uu.KR-GNT)



Pewarta:
Editor: Ujang
COPYRIGHT © ANTARA 2026