
BPS: Industri manufaktur Sumsel tergerus

Palembang (ANTARA Sumsel) - Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan produksi industri manufaktur besar sedang di Sumatera Selatan tergerus pada triwulan III/2016 sebesar 1,27 persen, atau menurun jika dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 3,85 persen.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel, Yos Rusdiansyah di Palembang, Rabu, mengatakan, dari lima produksi industri manufaktur besar sedang (IBS) yang ada di Sumsel terdapat dua jenis mengalami kenaikan pertumbuhan, sedangkan tiga lainnya terjadi penurunan.
Penurunan pertumbuhan produksi IBS utamanya disebabkan oleh penurunan pertumbuhan industri kertas dan barang kertas sebesar minus 7,92 persen.
"Kelangkaan bahan baku masih menjadi kendala utama yang menyebabkan penurunan produksi pada industri ini," kata dia.
Selain itu, penurunan pertumbuhan juga terjadi pada industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia, diikuti industri karet yang meliputi barang dari karet dan plastik masing-masing sebesar 0,47 dan 1,75 persen.
Meski mengalami penurunan pertumbuhan yang disebabkan oleh ketidakstabilan harga dibandingkan triwulan sebelumnya, namun angka pertumbuhan untuk kedua jenis IBS ini tidak mencapai nilai negatif.
Sementara jenis IBS yang tetap mengalami kenaikan pertumbuhan adalah industri makanan dan minuman sebesar 20,51 persen dan 14,76 persen.
Kenaikan pertumbuhan yang cukup tinggi ini disebabkan peningkatan produksi barang-barang hasil industri makanan dan minuman seperti minyak kelapa sawit mentah (CPO) oleh perusahaan-perusahaan industri CPO di Sumsel.
Hal serupa juga terjadi pada produksi Industri Manufaktur Mikro Kecil (IMK)yang tercatat tumbuh sebesar 1,48 persen, tapi jika dibadingkan pada triwulan sebelumnya mengalami penurunan 2,62 persen.
Meski demikian, kata Yos, pertumbuhan IBS Sumsel masih lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan nasional sebesar 0,89 persen.
"Jika dibandingkan antara pertumbuhan Sumsel dan Nasional, terdapat beberapa perbedaan pola pertumbuhan untuk beberapa jenis IBS seperti industri minuman dan industri bahan kimia," kata dia.
Namun, perbedaan tersebut tidak mempengaruhi pola pertumbuhan secara keseluruhan yang sama-sama menunjukkan perlambatan selama triwulan III ini.
Sejalan dengan pertumbuhan triwulanan, secara year on year, produksi IBS nasional juga mengalami perlambatan pertumbuhan dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 5,54 persen menjadi 5,07 persen.
"Pertumbuhan ini masih lebih tinggi dari pertumbuhan yoy Sumsel yang hanya sebesar 1,93 persen," kata dia.
Pewarta: Dolly Rosana
Editor: Ujang
COPYRIGHT © ANTARA 2026
