
BKKBN Sumsel target tambah peserta MKJP

"Penggunaan alat kontrasepsi jenis pil dan suntik harus mulai dikurangi dengan cara mengajak aseptor KB beralih ke metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP), dan akan lebih baik jika nantinya peserta baru langsung menggunakannya," Kepala Seksi Advokas
Palembang (ANTARA Sumsel) - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Provinsi Sumatera Selatan menargetkan penambahan peserta baru metode kontrasepsi jangka panjang pada 2014.
Target itu untuk menyikapi stagnannya capaian program penekanan jumlah penduduk dalam sepuluh tahun terakhir, kata Kepala Seksi Advokasi, Informasi, dan Komunikasi BKKBN Sumsel Mukminin di Palembang, Sabtu.
"Penggunaan alat kontrasepsi jenis pil dan suntik harus mulai dikurangi dengan cara mengajak aseptor KB beralih ke metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP), dan akan lebih baik jika nantinya peserta baru langsung menggunakannya," katanya.
Ia mengemukakan, penggunaan MKJP yakni berupa implant dan Intra Uterine Device (IUD) ini dipandang sangat efektif dalam menekan angka pertambahan penduduk mengingat memiliki rentan waktu cukup lama dalam memproteksi dibandingkan dengan jenis pil atau suntik.
Pemasangan alat kontrasepsi jenis IUD dapat berfungsi hingga 10 tahun dan implant untuk masa 3 tahun sehingga mengurangi potensi "drop out" pemakaian kontrasepsi.
"Pemakaian alat kontrasepsi jenis suntik dan pil membutuhkan kedisplinan pemakai mengingat masa waktu hanya sekitar tiga bulan. Keadaan ini berbeda dengan MKJP karena aseptor tidak perlu repot-repot memakan obat secara reguler sehingga peluang terjadi kehamilan bisa ditekan," ujarnya.
Dalam dua tahun terakhir, BKKBN Sumsel gencar mempromosikan MKJP sehingga secara langsung berdampak positif dengan pencapaian target dalam menekan angka pertambahan penduduk.
"Semula Sumsel dikenal sebagai Ratu Suntik di Indonesia, namun dengan gencarnya sosialisasi dengan diikuti pelayanan medis grastis telah mampu mengubah julukan itu," katanya.
Pada tahun 2013, Sumsel mampu melampaui target pencapaian peserta baru MKJP sebesar 13 persen setelah mencatat angka 59.709 orang. Sementara, pada 2012 mencatat sebanyak 10.710 orang melakukan pemasangan IUD dan 37.870 orang memakai implant.
Program Kependudukan dan Keluarga Berencana sendiri belum berjalan dengan semestinya berdasarkan hasil Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 mengingat terjadi peningkatan jumlah total angka kelahiran atau Total Fertility Rate (TFR).
Angka TFR tercatat 2,6 per wanita usia subur (dalam 10 wanita usia subur terdapat 26 anak yang terlahirkan) atau menyamai catatan SDKI 2007 (stagnasi).
Pewarta: Oleh Dolly Rosana
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2026
