Logo Header Antaranews Sumsel

Harga karet di Sumsel turun

Senin, 7 Oktober 2013 18:42 WIB
Image Print
Ilustrasi (FOTO ANTARA)

Palembang (ANTARA Sumsel) - Harga karet petani yang dipasarkan melalui lelang di Desa Regan Agung, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, Senin, tercatat antara Rp10.400 hingga Rp11.060 per kilogram.

Harga tersebut turun jika dibandingkan kondisi dua pekan sebelumnya mencapai kisaran Rp11.265 per kilogram, kata Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Dinas Perkebunan Sumatera Selatan (Sumsel), Benyamin, di Palembang, Senin.

Ia menjelaskan bahwa berdasarkan informasi dari Unit Produksi dan Pemasaran Benih (UPPB) Lavender Kecamatan Banyuasin III harga bahan olah karet (Bokar) umur satu minggu tertinggi Rp11.060 per kg, atau turun dibandingkan sebelumnya mencapai Rp11.265/kg.

Sedangkan harga slab giling umur satu bulan hasil lelang Koperasi Unit Desa (KUD) Serasan Jaya, Kabupaten Muaraenim, lebih tinggi mencapai Rp15.769,- slab tipis Rp15.253 per kg.

Sementara harga tertinggi slab usia dua mingguan Rp14.099 per kg, katanya.

Berdasarkan informasi dari pasar lelang di beberapa daerah di Sumsel bahwa sejak sebulan terakhir harga bokar umur satu minggu memang belum stabil disesuaikan dengan perkembangan harga di tingkat pabrik di Palembang.

Menurut Benyamin, kenaikan harga bokar petani yang dijual melalui pasar lelang tersebut karena menyesuaikan perkembangan perdagangan komoditas itu di pasaran tingkat pabrik di Palembang.

Sementara, harga bahan olah karet kualitas 90 persen di tingkat pabrik di Sumatera Selatan hingga saat ini tercatat Rp24.429 per kilogram, atau naik dibandingkan tiga hari sebelumnya kisaran Rp24.402 per kg.

Sekretaris Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Sumsel H Awie Aman di Palembang menjelaskan hari ini (Senin, red) harga karet ada sedikit lebih baik dibandingkan sebelumnya.

Menurut dia, kenaikan harga bahan olah karet kualitas 90 persen itu disesuaikan dengan perkembangan harga di tingkat pabrik anggota Gapkindo di daerah ini.

Di samping itu, juga disesuaikan dengan perkembangan harga di luar negeri, karena sebagian besar hasil bokar diekspor ke sejumlah negara konsumen.

Komoditas karet sampai saat ini masih tetap menjadi andalan penyumbang devisa terbesar ekspor nonmigas Sumatera Selatan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Sumsel, dari total nilai ekspor nonmigas provinsi itu periode Januari-Juli 2013 mencapai 2,00 miliar dolar Amerika Serikat, karet menyumbang 1,68 miliar dolar, disusul minyak sawit mentah dan produk turunannya 98,25 juta dolar dan batu bara peringkat tiga tercatat 96,94 juta dolar AS, sedangkan selebihnya komoditas lain seperti produk kayu, udang dan kopi.

Menurut Awie, di Sumsel hingga saat ini terdapat belasan perusahaan pengolahan karet anggota Gapkindo baik beroperasi di wilayah Palembang maupun di daerah lain di Sumatera Selatan dan menampung hasil petani melalui para pedagang pengumpul.



Pewarta:
Editor: AWI-SEO&Digital Ads
COPYRIGHT © ANTARA 2026