Logo Header Antaranews Sumsel

"Pahlawan" devisa itu rindu kampung halaman

Minggu, 1 September 2013 12:35 WIB
Image Print
Tenaga kerja wanita Indonesia rindu kampung halaman (FOTO ANTARA)
....Pelayan restoran membereskan piring dan peralatan makan lainnya dengan melempar serta menarik secara kasar....

Memasuki air bus GA 0860 Jakarta-Hongkong yang berangkat pukul 10.10 WIB dari Jakarta setiap hari mungkin biasa saja bagi mereka yang sering bolak balik ke negara kepulauan tersebut.

Namun, bagi tenaga kerja Indonesia yang berasal dari berbagai daerah terutama Jawa Timur tak setiap tahun bisa menikmati perjalanan pulang kampung.

Adalah Winda (29) pahlawan devisa asal Tulung Agung Jawa Timur ketika dibincangi di dalam pesawat mengatakan kalau sudah enam tahun bekerja di Hongkong tepatnya di Kowloon.

Pekerjaan sebagai pengurus rumah tangga dilakukannya sejak enam tahun lalu dan telah berganti dua kali majikan.

Saat ini, memelihara anjing dan kucing milik tuan yang asli orang Hongkong dikerjakan, katanya.

Dia mengatakan, sebenarnya pekerjaannya tidak berat karena hanya mengurus anjing dan kucing dan sekali-kali belanja bahan makanan binatang kesayangan tersebut ke pasar.

Tetapi rasa rindu kampung halaman terutama anak semata wayangnya yang tinggal dan dibesarkan suami dan mertuanya kerap melanda, ujarnya.

Tentunya, meskipun keinginan pulang kampung terus menghantuinya sepanjang tahun di Hongkong, tetapi hanya tiga tahun sekali bisa pulang.

"Saya pulang ke Indonesia tiga tahun sekali karena kalau sering pulang tidak bisa mengirim uang lebih banyak ke tanah air," tambah dia.

Setiap bulan, usai gajian uang diperolehnya langsung dikirim ke Indonesia melalui layanan "western union".

Gajinya, sebagai pengurus binatang tentu tidak besar hanya 4.000 dolar Hongkong atau sekitar Rp4 juta per bulan.

Majikan yang menjadi tempat ia mencari nafkah masih bekerja dan berangkat pagi biasanya pulang setelah pukul 22.00 waktu setempat.

Sedangkan, anak-anak mereka sudah berkeluarga ada yang tinggal di Hongkong, Jepang dan Australia.

Praktis, pasangan suami istri yang menjadi majikannya hanya pulang ketika mengantuk sehingga langsung tidur.

Karena itu, setiap hari kecuali akhir pekan tinggal di apartemen hanya bersama si anjing dan kucing.

Memang membosankan dengan aktivitas demikian tetapi, Winda mengaku mesti menyelesaikan kontrak kerja agar bisa berpindah.

Sementara pahlawan devisa yang bekerja di Macau, Hety (23) pekerja pada sebuah restoran dengan menu Italia mengaku baru satu tahun bekerja di Macau.

Sebelumnya, bekerja menjadi pengurus rumah tangga di Hongkong, katanya.

Perempuan dengan celemek dan pakaian hitam putih serta rok putih di atas lutut membagikan makanan dan minuman dengan cekatan.

Sekali-kali menjawab pertanyan-pertanyaan dari tamu.

"Saya ini, baru setahun bekerja di Macau, sebelumnya dua tahun di Hongkong dan belum pernah pulang ke Surabaya," katanya.

Bekerja di restoran "western" menjadi pilihannya setelah bebas dari majikan di Hongkong.

Gaji yang diperoleh dari menjadi pelayan restoran sebesar 6.000 dolar Hongkong atau sekitar Rp9 juta per bulan.

Namun, nilai yang mungkin bagi masyarakat Indonesia cukup tinggi tersebut tidak hanya dinikmati sendiri.

Secara rutin, mengirimi keluarga di Surabaya untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Akibatnya, sejak tiga tahun bekerja di luar negeri belum bisa pulang kampung.

Dia menjelaskan, biasanya setelah dua tahun bekerja baru bisa pulang. Ketika rindu, terpaksa hanya mengirim surat atau menelpon.

Keramahan khas Indonesia dipertahankan

Waduh! piringnya dilempar-lempar, apa gak pecah yah? kata Erika salah satu turis asal Indonesia ketika makan disalah satu restoran China-Fung Shing.

Ya, pelayan restoran tersebut membereskan piring dan peralatan makan lainnya dengan melempar serta menarik secara kasar.

Wajah yang mestinya keliatan cantik pun tampak tidak bersahabat karena tidak sedikitpun tersenyum.

Kondisi itu, hampir ditemukan pada pelayan restoran dan toko yang dijumpai di Hongkong dan Macau.

Sangat kontras dengan pelayan restoran asal Indonesia yang ramah dan menjawab setiap pertanyaan pengunjung.

Tatik (28) satu lagi berasal dari Surabaya bekerja di restoran Indonesia di kawasan Jalan Grand Hill Hongkong.

"Ibu-ibu dari Indonesia ya?, mau makan apa?" Sapanya ramah.

"Indonesian restoran" menawarkan makanan khas bangsa kita, seperti gado-gado, telur balado dan es cendol.

Sebagian pelayan merupakan penduduk asli Hongkong karena pemilik restoran tersebut memang orang China kepulauan tersebut.

Kalau koki memang asli dari Indonesia sedangkan pemiliknya bukan, katanya.

Ketika makanan yang disajikan bersisa banyak. Salah seorang wisatawan asal Indonesia meminta agar pelayan membungkuskan makanan itu.

Tati mengatakan tunggu saya akan ambilkan plastik untuk membungkus makanan tersebut.

Tiba-tiba pengunjung di meja lain meminta pelayan asli Hongkong membungkus makanan yang sisa, si pelayan langsung marah-marah dengan bahasa canton.

Kemudian dengan ramah, Tati menengahi dan mengatakan kalau layani permintaan bungkus makanan tersebut karena sayang jumlahnya banyak.

Restoran-restoran di Hongkong selalu ramai dipadati pengunjung baik waktu makan siang maupun sore hingga menjelang tengah malam.

Hendri (55) guide lokal Hongkong mengatakan kalau restoran-restoran dan kafe menjadi tempat paling menyenangkan bagi penduduk kumpul.

"Biasanya setelah pulang kerja mereka tidak langsung pulang tetapi menghabiskan waktu dengan berkumpul di restoran atau kafe," katanya.

Rumah orang Hongkong berupa "flat" yang sempit dan berbentuk petak-petak tanpa halaman.

Saat mengantuk biasanya penduduk Hongkong baru pulang ke rumah dan bangun keesokan hari menjelang berangkat kerja.

Karenanya, restoran dan kafe tidak pernah sepi sehingga pada waktu tertentu harus antre untuk bisa menikmati makanan restoran padahal dari 10 lantai gedung delapan lantai adalah tempat makan.

Berbeda dengan restoran di Macau cenderung sepi pada siang hari dan jalan-jalannya juga sepi.

Macau yang menjadi pusat perjudian terbesar kedua setelah Las Vegas kotanya sepi dan jarang sekali menemukan pejalan kaki.

Restoran pun tidak ramai meskipun saat makan siang tetapi kasino yang dilengkapi pusat perbelanjaan dipadat pengunjung.

Ketika berada di pusat perjudian "venetian" dalam satu menit saja minimal 100 orang melintas terbalik dari suasana sepi di luar kasino.

Kasino-kasino dilengkapi dengan pusat perbelanjaan modern dan toko-toko yang menawarkan produk bermerek.



Pewarta:
Editor: M. Suparni
COPYRIGHT © ANTARA 2026