
Anas-SBY, si kembar yang (kini) bertengkar

....Kini dua politisi "kembar" beda generasi itu sudah terlibat dalam perang urat syaraf secara terbuka....
Pernah ingat, tatkala Anas dijuluki SBY kecil atau SBY junior? Itu terjadi sekitar tahun 2010, baru tiga tahun yang lalu.
Kini dua politisi "kembar" beda generasi itu sudah terlibat dalam perang urat syaraf secara terbuka.
Padahal banyak kemiripan sifat dan karakter di antara keduanya, mereka juga berada di partai yang sama.
Konon, Anas pernah digadang-gadang jadi generasi penerus SBY. Sayang, dua insan yang seharusnya bersahabat dan berkolaborasi ini justru berseteru.
Susilo Bambang Yudhoyono-Anas Urbaningrum, merupakan sosok politisi sekarakter yang mengedepankan kesantunan dalam berpolitik, bertutur kata dengan sangat tertata, kalem dan sopan.
Tak hanya itu, kemiripan Anas dan SBY juga menyangkut bahasa tubuh serta gerak-gerik saat berpidato di depan publik.
Pun mengenai kecerdasan dan kepiawaian membangun citra diri positif, berdua adalah jagonya.
Siapa sangka kemesraan keduanya yang dipertontonkan di depan publik dalam empat tahun terakhir ternyata berakhir.
Kemesraan mulai berakhir saat SBY selaku Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat mengambil alih kendali organisasi.
Dalam kesempatan jumpa media usai pertemuan majelis tinggi yang diperluas di Cikeas pada 8 Februari, SBY meminta Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum untuk memfokuskan diri menghadapi persoalan hukum di KPK.
Meski intinya adalah pengambil-alihan kekuasaan, seperti biasa SBY mengemasnya dalam rangkaian kata yang santun dan implisit.
"Saya memimpin langsung gerakan penataan, pembersihan, dan penertiban, saya berikan kesempatan pada saudara Anas untuk lebih memfokuskan diri pada upaya dugaan masalah hukum yang ditangani KPK," kata SBY.
Sepuluh hari berselang, partai berlambang mercy ini menggelar Rapimnas bertema: "Memantapkan Jatidiri Partai Yang Bersih, Cerdas dan Santun" di sebuah hotel berbintang di Jakarta.
Forum ini dikesankan sedemikian rupa sebagai bagian ikhtiar memperbaiki citra partai dan bukan ajang melengserkan kepemimpinan Anas sebagai ketua umum partai.
Dan memang seremonial yang berlangsung mendukung kesan itu. Ada pidato laporan kesiapan rakernas yang disampaikan Anas, juga ada pembekalan oleh SBY, setelahnya.
Kedua tokoh yang sedang perang dingin hadir dalam satu panggung bergantian dan masih menyuguhkan performa seolah dalam hubungan yang baik-baik saja.
Lima hari kemudian, tepatnya tanggal 22 Februari di Jumat keramat KPK secara resmi menetapkan Anas Urbaningrum sebagai tersangka kasus skandal mega korupsi proyek Hambalang.
Amarah Anas membuncah, keesokan harinya mantan ketua HMI ini langsung menyatakan mundur sebagai ketua umum Partai Demokrat.
Namun, seperti seniornya SBY, dalam keadaan genting sekalipun Anas masih memberi keterangan pers dengan tutur bahasa yang tertata dan ledakan emosi yang terkendali.
"Standar etik pribadi saya mengatakan, kalau saya punya status hukum sebagai tersangka, maka saya akan berhenti sebagai Ketua Umum Partai Demokrat," kata Anas saat jumpa pers di Kantor DPP Partai Demokrat di Jakarta.
Sejurus kemudian, politisi kelahiran Kota Blitar ini melontarkan curahan hati dan serentetan ancamannya. Ia mengaku, kehadirannya dalam kongres Partai Demokrat tahun 2010 silam bagai bayi yang tak diharapkan. Tak lupa Anas menandaskan bahwa menjadi tersangka bukanlah akhir dari segalanya.
"Hari ini saya nyatakan ini baru permulaan. Ini baru awal dari langkah-langkah besar, ini baru halaman pertama. Masih banyak halaman berikutnya yang akan kita buka dan kita baca bersama untuk kebaikan kita bersama," tegas Anas.
Mantan komisioner KPU ini merasa, sejak SBY meminta dirinya fokus pada kasus hukum di KPK sesungguhnya ia telah divonis tersangka.
Maka serangkaian peristiwa politik yang menyusul setelah rapat majelis tinggi partai yang diperluas itu, menurutnya, memang telah dirancang dan dikreasikan untuk menjebloskannya menjadi tersangka kasus Hambalang.
Bayi istimewa
Bila Anas Urbaningrum menganggap dirinya bayi yang tak diharapkan, bisa jadi ia adalah bayi istimewa.
Bagaimana tidak, bayi yang satu ini mampu membuat seorang presiden kalang kabut.
Bahkan saat menjelang rangkaian ibadah umroh, SBY masih menyempatkan diri menggelar jumpa pers di Jeddah untuk menanggapi berbagai persoalan di Tanah Air, di antaranya masalah Anas.
Sejak itu tenaga dan pikiran SBY sepertinya lebih banyak tersedot untuk menyelamatkan partai dari pada memikirkan urusan Negara.
Para pengikut setia Anas bisa dipastikan datang untuk memberi dukungan, namun entah dengan kedatangan para tokoh lintas partai.
Benarkah mereka juga tulus memberi dukungan atau sekadar numpang populer karena kediaman Anas di Duren Sawit sedang menjadi magnet pemberitaan?
Dan mungkin baru kali ini rumah seorang ketua umum partai menjadi perburuan media sepanjang 24 jam selama beberapa pekan. Bahkan hampir seluruh stasiun televisi swasta menempatkan mobil SNG di kompleks kediaman Anas guna selalu memperbarui berita tentang "SBY kecil" ini secara langsung.
Kini pamor Duren Sawit telah menyamai nama Cendana (kediaman mantan Presiden Soeharto), Cikeas (kediaman SBY) dan Kebagusan (rumah Megawati Soekarnoputri) serta Ciganjur yang terkenal karena ada rumah Gus Dur di sana.
Terlepas dari siapa yang bersalah, siapa yang memulai dan siapa yang mengkhianati tapi perseteruan antara Anas Urbaningrum dan seniornya Susilo Bambang Yudhoyono amatlah disayangkan.
Berdua adalah politisi dengan kualitas papan atas, yang bila digabungkan akan menjadi kekuatan dahsyat.
Namun kini, mereka malah memilih jalan untuk berhadap-hadapan saling serang via jumpa media dengan bahasa yang penuh penekanan dan penandasan.
Tak adakah jalan lagi untuk berdamai ataukah memang tak ada lagi kepentingan untuk mereka bisa bersama. politik, telah mengubah kawan menjadi lawan, sewaktu-waktu dan tak perlu alasan baku.
Pewarta: Oleh Siti Zulaikha
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2026
