Logo Header Antaranews Sumsel

Pedagang hewan kurban mengeluh sepi pembeli

Senin, 15 Oktober 2012 16:29 WIB
Image Print
Seorang petugas memeriksa mulut kambing untuk memastikan hewan kurban tersebut bebas dari penyakit kuku dan mulut sehingga direkomendasikan untuk diperjualbelikan, di Palembang, Sumatera Selatan, Senin (15/10). (Foto Antarasumsel.com/Nila Fu'adi)

Palembang (ANTARA Sumsel) - Pedagang hewan kurban di Kota Palembang, Sumatera Selatan mengeluhkan masih sepi pembeli meski Hari Raya Idul Adha semakin dekat.

Anwar (42), salah seorang pedagang hewan kurban di Palembang, Senin, mengatakan sampai kini atau sepuluh hari mendekati hari raya kurban penjualan hewan baik sapi maupun kambing cenderung sepi.

Padahal biasanya dua pekan sebelum hari raya haji terjadi peningkatan signifikan penjualan hewan kurban.

Menurut dia, tahun lalu penjualan sapi untuk kurban mencapai 200 ekor sedangkan kambing 300 ekor.

Namun tahun ini persediaan 35 ekor sapi dan 48 ekor sapi sama sekali belum habis.

Ia mengatakan, pihaknya memperkirakan sepekan sebelum hari raya kurban penjualan hewan ternak itu akan meningkat sehingga mereka mampu menghabiskan stok.

Selain itu, penambahan stok hewan juga telah mereka siapkan untuk kambing diperkirakan mencapai 100 ekor dan sapi menjadi 70 ekor.

Dia menjelaskan, harga hewan kurban yang mereka jual tersebut bervariasi untuk kambing berkisar Rp1.250.000 sampai Rp4 juta per ekor sedangkan sapi mencapai Rp20 juta per ekor.

Kambing yang mereka jual tersebut bervariasi, seperti kambing etawa, jumblo sementara sapi bali, benggala dan brahma.

Kepala Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan Kota Palembang Sudirman Tegoeh menambahkan, sampai kini pihaknya memastikan dari 52 titik penjualan hewan kurban belum ditemukan penyakit yang berbahaya, seperti kuku dan mulut.

Pemeriksaan secara rutin dilakukan petugas kesehatan hewan dengan mendatangi lapak pedagang.

Dia menambahkan, kambing dan sapi yang dijual pedagang tersebut dalam kondisi sehat tidak terjangkit penyakit.

Kalaupun ada hewan yang kurang sehat paling karena stres atau masuk angin sehingga langsung diberi antibiotik sehingga segera disembuhkan. (Nila)



Pewarta:
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2026