Logo Header Antaranews Sumsel

Masyarakat Sumsel andalkan TMC redakan kabut asap

Sabtu, 13 Oktober 2012 09:43 WIB
Image Print
Gubernur Sumsel Alex Noerdin menyalami para petugas BNPB pada Upacara Operasi Udara TMC (Teknologi Modifikasi Cuaca) di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, Minggu (7/10). (Foto Antarasumsel.com/Feny Selly)
....TMC atau hujan buatan masih perlu dilakukan di wilayah Sumsel, walaupun hujan alami mulai turun pada Oktober ini....

Palembang (ANTARA Sumsel) - Kebakaran hutan dan lahan yang mengakibatkan timbulnya kabut asap, selalu menjadi masalah setiap musim kemarau di berbagai provinsi di Indonesia termasuk Sumatera Selatan.

Masalah kabut asap dampak kebakaran hutan dan lahan pada musim kemarau itu tampaknya belum bisa diatasi secara alamiah.

Masyarakat yang paling menderita merasakan bencana kabut asap dari 15 kabupaten/kota di Sumsel itu adalah warga Kota Palembang.

Berbagai aktivitas warga kota yang sukses menggelar Pesta Olahraga Asia Tenggara (SEA Games) pada 2011 lalu terganggu akibat asap bahkan untuk bernapaspun sulit.

Aktivis Walhi Sumsel Hadi Jatmiko mengungkapkan, dampak kemarau panjang yang melanda wilayah Sumsel itu tidak hanya mengakibatkan terjadinya krisis air tetapi juga krisis udara bersih.
Kabut asap dari kebakaran hutan dan pembakaran lahan yang diduga dilakukan secara sengaja oleh perusahaan perkebunan dan hutan tanaman industri yang mengakibatkan terjadinya krisis udara bersih di Sumsel membuat banyak masyarakat terganggu berbagai aktivitas dan kesehatannya.

Sebagai contoh aktivitas olahraga pagi yang biasa dilakukan warga Palembang, Ibu Kota Sumsel itu seperti di kawasan Kambang Iwak yang pada akhir pekan (Sabtu-Minggu) dijadikan kawasan hari terlarang bagi kendaraan bermotor (car free day) terganggu karena pada pagi hari udara diselimuti kabut asap yang sangat pekat.

Selain itu krisis udara bersih juga mengakibatkan ribuan warga Palembang dan kabupaten Sumsel lainnya mengalami penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Berdasarkan data yang dihimpun Walhi dari Dinas Kesehatan Sumsel hingga September 2012 terdapat 17.884 penderita ISPA yang tersebar di seluruh kabupaten/kota setempat.

Melihat banyaknya masyarakat yang menderita penyakit akibat kabut asap yang akhir-akhir ini semakin pekat, Pemerintah Provinsi Sumsel berupaya mengatasi masalah tersebut dengan berbagai upaya mengerahkan jajarannya yang didukung relawan Taruna Siaga Bencana (Tagana) melakukan operasi darat pemadaman titik api.

Selain itu juga Gubernur Sumsel H.Alex Noerdin membuat kebijakan berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melakukan teknologi modifikasi cuaca (TMC) atau hujan buatan, untuk segera mengatasi kebakaran hutan dan lahan yang menjadi penyebab kabut asap di provinsi yang dipimpinnya itu.

Perlu hujan buatan
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel Yulizar Dinoto mendukung kebijakan orang nomor satu di provinsi berpenduduk sekitar tujuh juta jiwa itu.

"TMC atau hujan buatan masih perlu dilakukan di wilayah Sumsel, walaupun hujan alami mulai turun pada Oktober ini," ujar Yulizar.

Hujan buatan masih perlu karena kabut asap belum hilang dan hujannya belum sampai pada musimnya.

Kabut asap cukup pekat dampak musim kemarau yang menyelimuti udara Kota Palembang dan beberapa wilayah Sumsel lainnya, sekarang ini belum hilang sehingga perlu dilakukan hujan buatan agar gangguan terhadap aktivitas dan kesehatan masyarakat tidak semakin parah.

Pelepasan pesawat tim hujan buatan mulai dilakukan pada Minggu (7/10) siang di Bandar Udara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang.

Usaha untuk mengatasi kabut asap dampak kebakaran hutan dan lahan pada musim kemarau panjang tahun 2012 ini dilakukan di beberapa provinsi di Tanah Air karena jika mengandalkan hujan alami pada saat ini intensitas curah hujannya masih rendah dan tidak mampu memadamkan titik api yang cukup banyak dalam waktu singkat.

"Kegiatan hujan buatan tersebut tidak hanya dilakukan di Sumsel tetapi juga dilakukan di beberapa provinsi lain seperti Jambi, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat," ujar dia.

Hujan buatan mulai dilakukan Minggu (7/10) mulai dirasakan manfaatnya karena jumlah titik api sudah bisa diminimalsir dan kabut asap berangsur menipis.

Untuk menghilangkan kabut asap yang masih menyelimuti udara Kota Palembang dan beberapa wilayah Sumsel lainnya, kegiatan TMC atau hujan buatan tersebut akan rutin dilakukan sampai benar aman menurut BNPB dan BPPT, kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sumsel itu menjelaskan.

Titik Api Berkurang
Jumlah titik api di wilayah Sumatera Selatan berdasarkan pemantauan Stasiun Klimatologi Kenten Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) provinsi setempat pada Jumat turun drastis.

"Jumlah titik api di daerah ini terpantau melalui satelit berkisar 5 - 7 titik padahal pada 2 Oktober lalu masih terdeteksi 35 titik api," kata Kasi Observasi dan Informasi Stasiun Klimatologi Kenten BMKG Sumsel, Indra Purnama.

Kondisi tersebut diharapkan tidak kembali mengalami peningkatan sehingga beberapa hari ke depan kabut asap dampak kebakaran hutan dan lahan pada musim kemarau yang sekarang ini masih cukup pekat bisa berangsur hilang, kata dia.

Menurut Indra, berkurangnya titik api (hotspot) tersebut karena curah hujan pada masa pancaroba atau peralihan musim kemarau ke musim hujan Oktober ini mulai cukup tinggi.

"Intensitas curah hujan di Kota Palembang dan sebagian besar wilayah Sumsel lainnya pada bulan ini diprakirakan cukup tinggi mencapai 150 mm," ujar dia.

Selain tingginya curah hujan, berkurangnya titik api secara drastis sekarang ini kemungkinan juga dipengaruhi adanya kegiatan teknologi modifikasi cuaca (TMC) atau hujan buatan yang dilakukan pemerintah provinsi setempat bekerjasama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sejak 7 Oktober lalu, kata pejabat Stasiun Klimatologi Kenten itu. (ANT/Y009)



Pewarta:
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2026