
Semangat para santri menghapal Al-Quran

....Namuni dari pukul 06.00 hingga 08.00 WIB para santri diberikan waktu istirahat dan melakukan kegiatan pribadi....
Palembang (ANTARA Sumsel) - Meski masih belia tapi semangat sejumlah santri yang menghapal kita suci Al- Quran di Rumah Tahsin dan Tahfidz Kamiliyah Kota Palembang tidak kalah dengan penghapal dewasa .
Di Rumah tahsin dan tahfidz Kamiliyah yang beralamat di jalan RE Martadoinata Lorong Yayasan 2 Sekojo Palembang, Kamis, sekitar 55 orang santri cilik belajar untuk mengenal lebih dekat dan menghapal Al Quran.
Sepuluh orang di antara 55 santri lainnya memilih untuk mondok untuk menghapal Al-quran di sana. Saat ini rumah Tahfidz dan Tahsin tersebut memiliki lima orang pengajar yang sebagian besar merupakan hafidz dan hafidzah.
Pojok Pondokan di kompleks kecil Rumah Tahsin dan Tahfidz Kamiliyah sore menjelang berbuka riuh dengan alunan ayat Al-Quran dari suara santri-santri itu.
"Mereka sedang nderes (kegiatan melancarkan hapalan baca Al-Quran) ," ujar Hj.Sulala Al Katiri (48 tahun) yang merupakan pengelola rumah tahfidz tersebut.
Tiap Sore dan malam hari sebanyak sepuluh santri yang mondok tak henti untuk terus meningkatkan hapalan dan mutu bacaan.
Santri memulai kegiatan khususnya selama Ramadan ini pada pukul 02.30 WIB.
"Mereka shalat tahajud dan langsung menghapal Al-Quran baru kemudian sahur," tukas dia.
Usai sahur atau jelang subuh kesepuluh santri tersebut melakukan 'nderes' dan berzikir usai shalat subuh.
"Namun dari pukul 06.00 hingga 08.00 para santri diberikan waktu istirahat dan melakukan kegiatan pribadi," ujarnya.
Keseharian para santri penghapal Quran cilik itu pun tergolong padat dan dekat dengan Al Quran.
Menurut Sulala seumur mereka yang umumnya hanya tahu bermain, tapi di rumah Tahfidz dididik untuk lebih banyak tahu tentang kita suci Al-Quran lebih banyak dari teman-teman seusia mereka pada umumnya.
"Semangat mereka luar biasa, mengingat mereka juga dari beragam latar belakang," terangnya.
Ia mengisahkan salah satu di antara mereka ada yang bahkan harus berjalan dua kilometer baru mendapatkan kendaraan untuk sampai ke rumah tahfidz. Ada juga yang bahkan datang dari daerah dengan kondisi
yatim namun orang tuanya mengingini mereka untuk lebih banyak memahami agama Islam.
Sulalah menjelaskan, mengapa menghapal Quran karena begitu penting selain manfaat ilmu, penghapal atau biasa disebut hafidz (pria) dan Hafidzah (perempuan) di akhirat kelak dapat memberikan syafaat kepada sepuluh keluarga terdekatnya. Salah satu di antara penghapal cilik tersebut sudah berhasil menghapal 30 juz dengan lancar.
Mengingat mempertahankan hapalan jauh lebih sulit ketimbang menghapalnya, Sulalah senantiasa mengingatkan anak-anak didiknya untuk menggunakan ayat dan surat yang mereka hapal di setiap shalatnya.
"Ramadhan ini bahkan kami praktikkan pada shalat tarawih dan witir," ujarnya. (Feny Selly)
Pewarta:
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2026
