Logo Header Antaranews Sumsel

Sanggar belajar anak perkampungan kumuh

Sabtu, 16 Juni 2012 17:06 WIB
Image Print
Sanggar belajar (Foto Nila Fuadi)
....Keberadaan sanggar ini tentunya sangat membantu anak-anak karena mendapat tambahan belajar di luar sekolah secara gratis....

Palembang (ANTARA Sumsel) - Sanggar belajar "Soekarno" dengan fasilitas terbatas mendidik anak-anak yang bermukim di perkampungan kumuh kawasan Lima Ulu Kecamatan Seberang Ulu I Palembang, Sumatera Selatan.

Maryamah pengelola Sanggar Belajar Soekarno di Palembang, Sabtu mengatakan sejak tahun 2011 mereka mendirikan sanggar belajar di perkampungan kumuh itu.

Sebanyak 20 anak-anak usia sekolah dasar dan SMP rutin belajar di sanggar tersebut dan gratis dengan dikukung tenaga pengajar mahasiswa-mahasiswi dari sejumlah perguruan tinggi negeri dan swasta di Kota Palembang.

Mahasiswa-mahasiswi tersebut secara sukarela mengajari anak-anak yang bermukim di perkampungan di atas rawa itu secara sukarela.

Ia mengatakan, anak-anak belajar biasanya pukul 15.00 - sampai 17.00 WIB dengan bimbingan mahasiswa-mahasiswi yang mendedikasikan waktu luang mereka untuk berbagi ilmu.

Sejumlah pelajaran yang biasanya disampaikan kepada anak-anak adalah bahasa Inggris, matematika dan juga bernyanyi.

Riski (9) salah satu peserta sanggar belajar menambahkan sangat senang bisa belajar bersama kawan-kawan sekampungnya dan diajari kakak-kakak mahasiswa.

Biasanya, setelah sempat istirahat seusai pulang sekolah mereka datang ke sanggar yang lokasinya berada di bawah rumah panggung itu.

Dia mengatakan, selain rutin belajar bahasa dan berhitung mereka juga bisa minta diajari membahas pekerjaan rumah dari sekolah.

Keberadaan sanggar ini tentunya sangat membantu mereka karena mendapat tambahan belajar di luar sekolah secara gratis.

Sementara sanggar belajar tersebut berada di kawasan Lima Ulu Lorong Terusan I RT 42 RW 48 berada di bawah rumah milik pengelola sanggar.

Di sanggar tersebut hanya tersedia papan tulis dan spidol serta sedikit buku-buku bacaan, sehingga mereka masih sangat kekurangan fasilitas pendukung.

Sanggar itu didirikan bersama program rumah sehat cerdas Serikat Rakyat Miskin Indonesia, dan Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi di perkampungan kumuh yang belum seminggu menikmati saluran air bersih dari perusahaan air minum setempat. (Nila)



Pewarta:
Editor: M. Suparni
COPYRIGHT © ANTARA 2026