Logo Header Antaranews Sumsel

Alex Noerdin janji perbaiki menu makanan wisma atlet

Minggu, 15 Januari 2012 16:54 WIB
Image Print

Palembang, (ANTARA News) - Gubernur Sumatera Selatan H Alex Noerdin berjanji memperbaiki menu makanan atlet anggar yang sedang menjalani desentralisasi di Wisma Atlet Jakabaring, Palembang, menyusul 28 atlet anggar keluar dari penginapan itu karena merasa tidak mendapatkan nutrisi sesuai standar olahragawan.

"Saya baru tahu jika ada atlet anggar keluar dari Wisma Atlet Jakabaring. Jika benar karena makanan yang tidak sesuai dengan standar atlet, saya berjanji akan segera dibenahi," ujar Alex, di Palembang, Minggu.

Alex menyatakan telah mengutus stafnya untuk melakukan pemantauan ke Wisma Atlet Jakabaring, agar permasalahan itu segera diselesaikan.

"Jika karena makanan, maka ke depannya tidak boleh terjadi lagi. Atlet tentunya harus mendapatkan makanan yang sesuai standar mereka," ujar dia.

Pelatih anggar Sumsel, Lucky Ramdhani mengatakan, seluruh atlet anggar yang menjalani desentralisasi di Wisma Atlet Jakabaring, sementara ini dikembalikan ke rumah masing-masing sejak sepekan terakhir.

Hal itu terpaksa dilakukan setelah dua atletnya terserang penyakit tyfus, yaitu Ade Indra dan Dwi Oktaria.

Bahkan, pelatih kepala, Lukman Ahmadi juga mengalami nasib serupa.

"Tiga anggota tim anggar Sumsel ini terkena sakit tifus dalam waktu bersamaan. Setelah kami teliti, salah satu penyebabnya karena nutrisi yang didapatkan di Wisma Atlet Jakabaring tidak seimbang dengan porsi latihan berat sedang dijalani saat ini," ujar Lucky.

Dia menerangkan, Ade dan Lukman terpaksa menjalani rawat inap di RS AK Gani, sedangkan Dwi menjalani perawatan intensif di rumah.

"Lukman sendiri saat ini sudah kembali ke rumah setelah dirawat selama satu minggu. Sedangkan Ade hingga saat ini masih berada di rumah sakit, dan Dwi sudah berangsur-angsur pulih," ujar dia.

Ia menerangkan, sakit yang diderita dua atlet itu disebabkan ketidaksesuaian antara pola makan dan aktivitas yang dilakukan.

Para atlet itu tetap menjalani latihan di Hall Bank Mandiri Rivai sebanyak dua kali dalam satu hari, pagi dan sore, sementara diharuskan menginap di Wisma Atlet Jakabaring, sejak 9 Desember lalu.

"Untuk latihan sore, pulangnya malam dan terkadang makanan di wisma atlet sudah habis. Selain itu, menu keseharian juga tidak sesuai standar atlet. Kami juga sudah mengajukan permohonan untuk mendapatkan tempat latihan di Jakabaring, tapi hingga kini tidak ada tanggapannya," ujar pelatih nasional itu pula.

Atlet anggar Sumsel, Rully Maulidhani, juga mengeluhkan menu makanan yang disajikan di Wisma Atlet itu.

"Berdasarkan pengalaman saya menjalani pemusatan latihan nasional, menu atlet tidak seharusnya demikian. Beban latihan atlet itu tinggi, tapi nutrisi yang diterima tidak sesuai dengan kebutuhan," kata atlet SEA Games XXVI tahun 2011 ini.

Peraih medali emas PON Kaltim ini, juga mengeluhkan cara pengelola yang meremehkan masalah itu.

"Beberapa kesempatan makanan kami diganti dengan nasi bungkus, dengan alasan karena atlet anggar pulangnya malam. Apa demikian solusinya, makanan atlet diganti nasi bungkus. Jika dipikir-pikir, memang lebih bagus makanan di rumah sendiri," ujar dia lagi.

Sebanyak 28 atlet anggar Sumsel menjalani pemusatan latihan Program Performa Tinggi menuju PON XVIII di Riau dengan menginap di wisma eks SEA Games lalu.

Tim Anggar merupakan peraih tiket PON terbanyak di Sumsel, disusul atletik dengan 19 orang, dan pencak silat dengan 18 orang, dan menembak dengan 15 orang.

Manajer Program Performa Tinggi (HPP) Evalina DS mengakui terjadi persoalan seputar pelayanan kepada atlet karena kurangnya koordinasi antarpihak terkait.

"Persoalan itu terjadi di awal-awal saat atlet HPP baru menempati Wisma Atlet. Beberapa kali atlet yang pulang latihan malam tidak kebagian makan karena katering lupa menyisihkan. Hal itu hanya sekadar persoalan salah komunikasi saja. Persoalan ini segera diatasi," kata dia.

Menanggapi keluhan menu makanan yang tidak proporsional, Eva menyatakan, menu yang disajikan itu sudah melalui supervisi ahli gizi HPP di bawah koordinasi Prof Dr dr Fauziah Nuraini.

"Namanya pindah tempat baru dan yang dilayani lebih banyak butuh penyesuaian, mengingat karakter atlet dan pelatih yang dilayani ini kan berbeda-beda," kata Eva.

Program Performa Tinggi berada di bawah naungan KONI Sumsel, dan mendapatkan bantuan pendanaan dari Pemprov Sumsel melalui hibah ke Lembaga Pembinaan Pengembangan Peningkatan dan Prestasi Olahraga (LP4OR) dengan jumlah puluhan miliar rupiah.

Program itu diusung untuk membina atlet-atlet muda putra daerah agar berprestasi pada PON tahun 2016 mendatang. (ANT/dl*B014)



Pewarta:
Editor: Yudi Abdullah
COPYRIGHT © ANTARA 2026