
Linmar sangat cintai Taekwondo

Palembang, (ANTARA News) - Nada suara yang mengebu-gebu penuh dengan motivasi saat bercerita, setidaknya itulah gambaran kecintaan pelatih taekwondo Sumatera Selatan Linmar Budianto pada olahraga bela diri asal Korea itu.
Bagi dia, taekwondo merupakan bagian terpenting dalam hidupnya meskipun hanya dua tahun berkecimpung sebagai atlet. Cedera lutut yang cukup parah di usia 18 tahun memaksa pria 45 tahun itu pensiun dini.
Namun, terpaksa berhenti tak lantas membuat Linmar berputus asa, dia pun mulai mengeluti bidang kepelatihan dan resmi menjadi pelatih daerah pada tahun 1991.
Menurut dia, terdapat kepuasan tersendiri saat menyaksikan para atlet binaan bisa menjadi juara. Suatu perasaan yang sejatinya tidak dirasakan oleh semua orang.
"Rasanya melayang dan tidak semua orang merasakan saat menyaksikan atlet binaan sendiri bisa menang," ujar Linmar di Palembang, Rabu.
Perasaan itulah yang kiranya yang membawa Linmar kembali menggeluti olahraga taekwondo setelah sempat pergi selama kurang lebih sepuluh tahun. Permasalahan intern dalam organisasi membuatnya hengkang setelah tidak menemukan solusi terbaik.
"Usai pra PON tahun 1999, saya putuskan pergi. Tapi, entah mengapa garis tanggan membawa saya kembali dan kali ini jauh lebih militan," ujar Linmar di Palembang, Kamis.
Nama Linmar memang sudah dikenal dikancah olahraga bela diri taekwondo Sumsel dan nasional. Dia sempat berhasil membawa sejumlah atlet berprestasi pada PON tahun 1996, namun permasalahan intern dalam organisasi memaksanya pergi pada tahun 1999.
Sejumlah atlet binaannya yang lolos ke PON Jatim tahun 2000 tidak dikirim tanpa alasan yang jelas. Justru yang dikirim atlet lain dengan memakai jatah atlet miliknya.
"Sudahlah itu cerita lalu," kata pria keturunan ini.
Linmar pun mengaku sempat tenggelam dalam kekecewaan mendalam, dan akhirnya memutuskan untuk fokus 100 persen berbisnis, meskipun telah menjadi pengusaha sukses kala itu.
Usaha memasukkan sejumlah barang pada beberapa hotel berbintang di Provinsi Sumatera terbilang sukses dijalaninya. Kekayaan berupa materi pun kian berlimpah.
Meskipun demikian, dia mengaku gersang karena ada satu tempat bagi olahraga taekwondo di dalam hatinya.
"Ada rasa yang tidak bisa dikatakan. Rasanya melayang dan benar-benar luar biasa saat bisa menang. Itulah yang tidak saya dapatkan di luar. Semua hanya ada di taekwondo," ujar dia.
Seiring dengan perjalanan waktu, akhirnya kepengurusan taekwondo di Sumsel pun berubah, dan Linmar pun seakan terketuk untuk kembali berbuat bagi olahraga yang sangat dicintainya itu.
Cita-citanya tetap sama yakni ingin mencetak atlet berprestasi di kancah nasional dan internasional.
Rela Tinggalkan Bisnis
Namun, keinginan kerasnya itu berpengaruh buruk pada bisnis yang telah dirintis sejak tahun 90-an. Kali ini, Limar benar-benar total, yakni sebagai pelatih dan sekaligus pengurus yang mengurusi semua kebutuhan organisasi dan atlet.
"Banyak orang heran atas langkah yang saya ambil. Kini, saya benar-benar total untuk taekwondo. Bisnis pun ditinggalkan, dan kini hanya satu toko yang tersisa. Itu pun dipertahankan karena untuk menopang hidup," ujar dia.
Namun, di satu sisi langkah berani Linmar itu pun berdampak positif pada prestasi olahraga taekwondo Sumsel.
Setelah tidak terdengar dalam satu dekade terakhir, kini lambat laun prestasi Sumsel pun meningkat.
Sejak dipegang Linmar di tahun 2009 lalu, sejumlah prestasi mampu diraih meskipun masih harus mengakui dominasi provinsi lain.
Teranyar, para atlet binaannya berhasil meraih 7 medali emas pada Bali Open 2011 dari 13 yang diperebutkan.
"Rasanya tidak bisa berkata-kata. Campur aduk," ujar dia.
Kini Linmar membidik empat tiket ke PON pada ajang pra kualifikasi di Bali, 12-17 Desember mendatang.
Sejumlah atlet telah masuk dalam program atlet andalan KONI Sumsel, sementara atlet-atlet muda racikannya telah mampu berbicara pada ajang kejurnas junior.
"Pada dua PON terakhir Sumsel absen, jadi cukup realistis jika saya hanya menargetkan empat jatah pada Pra PON nanti," kata dia.
Sosok Yang Pintar Melobi
Tak hanya andal dalam melatih, Linmar juga sosok yang pintar melobi.
Prestasi mencoloknya, yakni berhasil memboyong atlet taekwondo nasional Rizal Samsir ke Palembang.
Peraih medali emas SEA Games lalu itu, secara terang-terangan mengungkapkan kepindahannya itu karena memandang sosok Linmar. Bahkan, sejumlah atlet nasional lainnya juga berharap menjadi atlet Sumsel.
Memang tujuan Linmar memboyong atlet nasional bukan untuk prestasi instan semata, tapi untuk menguatkan pondasi taekwondo Sumsel mengingat cita-citanya adalah menjadi nomor satu di Indonesia.
"Saya sudah memiliki suatu rencana. Untuk jadi yang terbaik, tidak bisa secara total mengandalkan putra daerah. Kita harus memadukan, jadi saat ini 50 persen atlet daerah dan 50 persen atlet nasional. Nanti, persen atlet nasional akan dikurangi secara bertahap," ujar dia.
Kehadiran atlet nasional itu sangat penting, untuk memperbaiki kualitas teknik dan mental para atlet di daerah.
"Jangan dilihat sisi negatifnya, tapi sisi positif dari kepindahan itu. Yang diinginkan adalah ilmunya," ujar dia.
Kepiawaian dalam melobi juga dibuktikan Linmar dengan mendapatkan bantuan dari Perusahaan Negara PTPN VII berupa Hall Indoor Taekwondo.
Arena taekwondo itu cukup membuat takjub sebagian orang karena sudah berstandar internasional dan dilengkapi ruangan pusat administrasi dan pendingin ruangan.
"Siapapun yang ke sana pasti akan heran kenapa PTPN mau menyediakan. Asal tahu saja saya melobi hingga dua tahun lebih," ujar dia.
Jika Linmar bercita-cita membawa Sumsel menjadi yang terbaik di Indonesia, tentunya dibutuhkan sikap konsisten dan tekad yang kuat. Dibutuhkan kesabaran untuk mencapai prestasi itu, karena tidak bisa diraih dalam hitungan jari.
Linmar pun menyadari hal itu, dan berkaca dengan pelatih sukses asal Sumsel seperti Lukman Ahmady (anggar) untuk memotivasi diri. Lukman berhasil menjadi juara umum Pra PON 2011 setelah menggeluti olahraga itu sejak tahun 1987.
"Jalan ke depan memang terjal, beragam masalah akan dihadapi. Tapi saya yakin jika kemauan kita kuat maka pasti Tuhan akan memberikan jalan," ujar dia. (ANT-039)
Pewarta:
Editor: Yudi Abdullah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
