
Tidak ada yang tidak mungkin bagi Lucky

Palembang (ANTARA News) - Perkataan "Tidak Ada Yang Tidak Mungkin" merupakan kumpulan kata yang kerap kali keluar dari mulut pelatih anggar nasional asal Sumatera Selatan Lucky Ramdhani.
Semula perkataan itu tidak terlalu bermakna dibenaknya sendiri, dan hanya sebatas memanfaatkannya untuk membangkitkan semangat para atlet yang dibinanya.
Namun setelah mengalami sendiri moment luar biasa pada SEA Games XXVI lalu, barulah Lucky tersadar bahwa kata-kata itu memang benar adanya.
Tentunya, sejumlah orang sukses sejagat memaknai sekulumpulan kata itu bukan tanpa alasan.
"Saya sampai merinding jika teringat, apa yang tidak mungkin itu akhirnya benar-benar terjadi," kata Lucky di Palembang, Senin.
Tim sabre putri yang merupakan binaan Lucky sejak akhir tahun 2011 berhasil meraih medali emas SEA Games XXVI, di Jakarta, beberapa waktu lalu, setelah mengalahkan juara bertahan selama empat kali berturut-turut yakni Vietnam.
Tim yang diperkuat Diah Permata Sari (Jatim), Maria (Jatim), Reni Anggraini (Sumsel), dan Amelia (Jabar) berhasil menorehkan sejarah dalam olahraga anggar Indonesia setelah mengalahkan tim peringkat tiga dunia.
Medali itu menjadi penyelamat muka Indonesia yang menjadi tuan rumah pada ajang dua tahunan itu.
"Saya tidak tahu apa yang merasuki atlet ketika itu, mereka seperti kerasukan sesuatu," ujar dia mengisahkan moment berharga dalam hidupnya itu.
Tak hanya itu, moment itu menjadi sangat berkesan karena sejak awal Pengurus Besar Ikasi tidak pernah menargetkan tim sabre putri untuk meraih medali karena medali itu tidak pernah lepas dari Vietnam dalam satu dekade terakhir.
"Yang memprediksi mungkin hanya 20 persen, tapi kami bisa membuktikan bahwa semua itu salah. Ternyata benar tidak ada yang tidak mungkin," kata dia.
Lalui Jalan Berliku
Perjuangan Lucky untuk mencapai prestasi puncak sebagai pelatih nasional sebenarnya mengalami jalan yang cukup berliku.
Semua itu bermula saat memutuskan untuk kembali ke daerah kelahiran, Sumatera Selatan, pada tahun 2001 setelah empat tahun membela Jawa Timur.
Ayah dari dua putra itu, mulai menurunkan kemampuannya kepada para junior meskipun pada PON tahun 2004 masih sempat turun sebagai atlet.
Jalan yang dilaluinya cukup terjal karena sebagai pelatih dia harus menemukan metode latihan yang tepat agar bisa meruntuhkan dominasi dua provinsi yakni Sulawesi Utara dan Jawa Barat.
Metode itu harus mampu melakukan percepatan agar dapat menyusul ketertinggalan.
"Saya harus belajar banyak hal, terkadang ternyata salah total dan harus mengulang lagi dari awal. Tapi, sejak awal berambisi menjadikan anggar Sumsel modern, ternyata itu justru menular ke seluruh Indonesia," ujar dia.
Dia pun mengakui visi untuk membawa kemajuan terhadap anggar Indonesia itu timbul setelah menyaksikan langsung kemajuan di negara-negara Eropa seperti Hungaria, Rusia, Jerman, dan Polandia.
Lucky yang sempat satu dekade memperkuat timnas Indonesia dan berhasil meraih kesuksesan pada ajang SEA Games dan Asian Games, mendapatkan beberapa kesempatan melancong ke luar negari untuk menjalani pemusatan latihan nasional.
"Pada era tahun 90-an lebih enak karena try out ke Eropa, tapi setelah negara dilanda krisis moneter memang terjadi kemunduran kualitas timnas," ujar pelatih kelahiran 15 Oktober 1973 ini.
Setelah berjuang keras selama beberapa tahun akhirnya jerih payahnya itu membuahkan hasil. Provinsi Sumatera Selatan menujukkan dominasinya pada senjata sabre dengan meraih medali emas beregu putra pada PON tahun 2004 di Palembang.
Kemudian, dominasi pada kejurnas pun sangat kentara karena atlet-atlet cadet, junior, hingga senior, mampu meraih medali emas.
Hasilnya, Lucky pun dipercaya menjadi pelatih nasional pada SEA Games tahun 2007 lalu. Namun, kegetiran sempat menyelimuti perasaannya karena gagal menyumbangkan medali.
"Perasaan tentunya senang karena akhirnya bisa dipercaya menjadi pelatih nasional. Tapi, hasil yang diharapkan saya rasa tidak sebanding dengan pengorbanan. Saya pun sempat kecewa berat, karena gagal," ujar dia.
Sepulang menjalani tugas melatih tim nasional, Lucky pun kembali melatih atlet di daerah yang telah beberapa lama ditinggalkan.
Kali ini, targetnya meraih prestasi pada PON Kaltim tahun 2008.
Prestasi yang diraih pun meningkat yakni meraih dua medali emas yakni beregu dan perorangan.
Keberhasilan itu membawa kembali Lucky untuk mengarsiteki tim nasional Indonesia untuk SEA Games tahun 2011.
"Mungkin saya sudah lebih matang secara emosional karena telah melewati sejumlah perjalanan panjang. Akhirnya, saya bisa mempersembahkan medali emas bagi Indonesia," ujar dia.
Selalu "up date" Kunci Kesuksesan Lucky
Kebiasaan Lucky yang selalu "up date" perkembangan olahraga anggar diakui menjadi faktor utama keberhasilannya.
Sebagai pelatih muda, dia memiliki energi lebih untuk menyelami seluk beluk olahraga anggar melalui pendekatan sport science. Prilaku itu terkadang tidak dilakukan oleh pelatih "tempo" dulu.
Dia pun mengakui kesempatan emas menjalani pelatihan di Jepang selama tiga bulan juga memberikan nuansa baru dalam pemikirannya.
"Saya buka internet, saya lihat video, saya berkomunikasi dengan juara-juara dunia, saya ikuti berbagai pelatihan internasional. Akhirnya, saya berubah menjadi sangat militan dan benar-benar tergila-gila dengan anggar," ujar dia.
Menurut dia, hal itu yang ditularkannya kepada atlet-atlet binaannya, semangatnya saat menjadi atlet dan semangatnya setelah menjadi pelatih.
"Mereka saya motivasi setiap hari, saya ingatkan setiap hari. Dan akhirnya mereka benar-benar percaya bahwa tidak ada yang tidak mungkin," kata dia.
Sosok Yang Pintar Berkomunikasi
Kepintaran Lucky dalam berkomunikasi dengan atlet memang patut diancungi jempol, terutama dalam mewabahkan semangat tidak mau kalah.
"Begitulah Abang (panggilan akrab Lucky, red). Jika dia bicara, seakan kami siap berperang besok. Rasanya sudah diubun-ubun," kata Eka Febrianti, atlet anggar Sumsel.
Peraih medali emas Kejurnas tahun 2011, Novi Susanti juga menyampaikan kekagumannya.
"Saya orangnya lembut, tapi Abang melatih saya hingga bercucuran air mata. Akhirnya saya bisa kuat. Sempat ada sakit hati karena selalu dimarahi, tapi Abang dengan cepat mendatangi dan bicara dari hati ke hati," ujar dia.
Sementara, atlet senior Sumsel Eka Pebrianti mengaku kagum dengan "gaya" keseharian Lucky.
"Abang sosok yang unik, dari caranya berpakaian, caranya bicara, caranya bergaul, hingga cara bercandanya sangat khas sekali. Pokoknya orangnya unik sekali," kata dia.
Sementara, Trimeini, ibunda Lucky mengaku sosok kepemimpinan sudah melekat pada dirinya sejak kanak-kanak.
Sebagai anak pertama, Lucky sangat disegani adik-adiknya, namun saat berusia dewasa mampu menempatkan diri sebagai teman.
"Memang Lucky itu sesuai dengan nama panggilannya "Abang" yang artinya kakak. Begitulah dia adanya," ujar dia.
Kisah sukses Pegawai Negeri Sipil Dispora Sumsel itu tentunya tidak terlepas dari keluarganya. Sang ayah tercinta Lukman Ahmadi merupakan pelatih anggar Sumsel sejak tahun 80-an.
Sementara empat dari lima adiknya memutuskan mengikuti jejak sebagai peanggar.
Tiga diantaranya, Rully Mauliadhani, Rian Apridhani dan Agista Andhani juga sempat beberapa kali memperkuat tim nasional.
"Setiap hari bicara anggar, pergi latihan bicara anggar, pulang ke rumah bicara anggar, tidur pun bicara anggar lagi. Itulah keseharian keluarga kami," ujar Lukman Ahmadi, ayah kandung Lucky itu. (ANT-039)
Pewarta: Oleh Dolly Rosana
Editor: AWI-SEO&Digital Ads
COPYRIGHT © ANTARA 2026
