Palembang, Sumsel (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Provinsi Sumatera Selatan mengalami deflasi sebesar 0,04 persen secara bulanan (month to month/mtm) pada April 2026 dibandingkan Maret 2026.
Kepala BPS Sumsel Moh Wahyu Yulianto di Palembang, Sumsel, Senin, mengatakan angka tersebut lebih rendah jika dibandingkan dengan nasional yang sebesar 0,13 persen mtm.
"Angka ini juga lebih rendah dibandingkan inflasi dengan periode April 2025 sebesar 1,39 persen," katanya.
Ia menjelaskan dari sebelas kelompok pengeluaran itu rata-rata mengalami kenaikan.
Namun, terdapat dua kelompok yang mengalami penurunan, yaitu kelompok makanan, minuman, tembakau mengalami deflasi 0,18 persen dengan andil 0,05 persen, serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami deflasi 1,40 persen dengan andil 0,13 persen.
Jika dilihat dari pantauan dari 425 komoditas, 190 komoditas mengalami kenaikan dan terdapat 78 komoditas yang mengalami penurunan.
Komoditas yang mengalami penurunan mempunyai andil ataupun konsumsi yang lebih tinggi dibandingkan komoditas yang mengalami kenaikan.
"Komoditas penyumpang deflasi April 2026 terbesar adalah emas perhiasan, daging ayam ras, telur ayam ras, dan angkutan antar kota," jelasnya.
BPS juga mencatat untuk inflasi tahunan (year on year/yoy) di Sumsel mengalami inflasi sebesar 1,63 persen.
Hal ini juga mengalami penurunan jika dibandingkan periode Maret 2026 yang 3,09 persen.
Dari sebelas kelompok pengeluaran, rata-rata mengalami kenaikan dengan kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi dengan andil sebesar 0,29 persen.
Disusul, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan andil 1,02 persen.
Sumsel alami deflasi 0,04 persen pada April 2026
Senin, 4 Mei 2026 20:04 WIB
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Selatan Moh Wahyu Yulianto. ANTARA/Ahmad Rafli Baiduri
Pewarta : Ahmad Rafli Baiduri
Editor : Dolly Rosana
Copyright © ANTARA 2026