Jakarta (ANTARA) - Pergerakan harga Bitcoin tertahan di kisaran 85 ribu dolar AS dalam sepekan terakhir meski pasar kripto secara umum menunjukkan penguatan.

Analis Reku Fahmi Almuttaqin mengatakan sentimen positif dari pelonggaran tarif dagang Amerika Serikat (AS) serta data inflasi yang membaik belum cukup kuat mendorong reli lanjutan aset kripto terbesar itu. Para investor masih memantau data ekonomi AS lebih lanjut.

“Data penjualan ritel AS yang akan dirilis pada 16 April ini menjadi salah satu variabel yang cukup diantisipasi oleh para investor. Data yang akan mencerminkan tingkat kepercayaan diri konsumen di AS di tengah perkembangan kebijakan ekonomi dan outlook ke depan yang ada tersebut dapat memberikan gambaran terhadap risiko resesi dan inflasi yang membayangi ekonomi saat ini,” ujar Fahmi dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.

Menurut dia, minggu ini Bitcoin kemungkinan masih akan mencoba untuk menembus garis tren sideways yang apabila terjadi berpotensi memicu kenaikan lanjutan ke level 95 ribu dolar AS.

“Akan tetapi, potensi penurunan dari level yang ada saat ini hingga menyentuh area 74 ribu dolar AS cukup terbuka," kata dia.

Fahmi menambahkan, perkembangan data suplai uang beredar M2 pada 22 April ini juga akan menjadi variabel yang menarik untuk diperhatikan investor.


“Saat ini, data M2 bulan Februari yang dirilis 25 Maret lalu berada di angka 21.671 miliar dolar AS yang merupakan salah satu angka tertingginya sepanjang masa. Berlanjutnya peningkatan suplai uang beredar dapat mendorong pertumbuhan aset-aset berisiko ketika situasi dirasa telah lebih kondusif,” imbuhnya.

Di sisi lain, indeks dolar (DXY) yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap sekumpulan mata uang lain saat ini berada pada level terendahnya sejak April 2022.

“Kondisi dolar AS yang melemah dapat memicu investor AS untuk mencari aset alternatif seperti Bitcoin maupun altcoin dengan kekuatan likuiditas dan kapitalisasi pasar yang cukup solid. Tidak jarang situasi tersebut dapat mengindikasikan awal dari potensi akan dimulainya kembali reli di pasar kripto seperti yang pernah terjadi pada akhir tahun 2017 lalu,” tambahnya.

Di tengah situasi yang ada, Fahmi menghimbau investor untuk tidak terlalu khawatir dengan prospek pasar kripto ke depan, sebab beberapa indikator menyatakan potensi yang ada masih cukup solid, bahkan potensi kembali terjadinya reli besar juga cukup terbuka.

Oleh karena itu, ia mendorong investor untuk tetap bijak dan mempertimbangkan strategi investasi bertahap seperti dollar cost averaging (DCA).

Menurut dia, strategi ini dapat dimaksimalkan dengan fitur-fitur seperti Packs dan Rebalancing yang tersedia di platform Reku, guna membantu investor menyesuaikan alokasi aset secara otomatis sesuai kondisi pasar.

“Misalnya di fitur Packs di Reku, investor bisa berinvestasi pada berbagai crypto blue chip dengan performa terbaik dalam sekali swipe untuk memudahkan diversifikasi. Terlebih, fitur Packs yang dilengkapi dengan sistem Rebalancing akan membantu investor menyesuaikan alokasi investasinya sesuai dengan kondisi pasar secara otomatis. Dengan begitu, strategi DCA yang dilakukan dapat lebih mudah, praktis, dan optimal,” ucapnya.