PLTU MT Sumsel-8 terapkan teknologi superkritikal
Selasa, 12 November 2024 11:39 WIB
Pembangkit Listrik Tenaga Uap Mulut Tambang Sumsel-8 atau PLTU Tanjung Lalang. ANTARA/HO-Humas PT Bukit Asam
Jakarta (ANTARA) - PT Huadian Bukit Asam Power (HBAP), yang merupakan perusahaan patungan antara PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dan China Huadian Hongkong Company Ltd (CHDHK), mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Uap Mulut Tambang Sumsel-8 (PLTU Tanjung Lalang) berkapasitas terpasang 2x660 MW dengan menggunakan teknologi superkritikal untuk menekan emisi.
"Dengan teknologi ini dan sesuai jenis batu bara yang tersedia, uap air dipanaskan pada suhu dan tekanan yang sangat tinggi pada kondisi superkritikal," ujar Wakil Direktur Utama HBAP Dody Arsadian melalui keterangan di Jakarta, Selasa.
Penggunaan teknologi itu menyebabkan tidak adanya proses perubahan fase yang jelas (dari air ke uap), dikarenakan air selalu berada dalam keadaan superkritikal, yang artinya proses pemanasan dan penguapan terjadi secara terus-menerus.
Teknologi superkritikal juga dapat mengurangi jumlah bahan bakar batu bara yang digunakan dan emisi yang dihasilkan.
Dody menyebut hal itu menjadikannya lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan PLTU berteknologi konvensional.
Menurutnya, PLTU berteknologi superkritikal mampu menghasilkan lebih banyak energi dengan jumlah bahan bakar yang lebih sedikit.
Penggunaan teknologi tersebut, sejalan dengan visi jangka panjang HBAP menjadi penyedia tenaga listrik kelas dunia yang terpercaya dan berorientasi kepada nilai-nilai keberlanjutan.
PLTU Tanjung Lalang diharapkan dapat beroperasi lebih baik dan memberikan dampak positif yang luas bagi masyarakat, serta mendukung pemenuhan kebutuhan energi di sistem kelistrikan Sumatera.
PLTU Tanjung Lalang juga dilengkapi dengan electrostatic precipitator (ESP), yaitu peralatan untuk menangkap partikel (debu gas buang/sisa pembakaran) dengan menggunakan prinsip elektrostatis.
Selain itu, PLTU Tanjung Lalang menerapkan teknologi flue gas desulphurization (FGD) yang mencampur emisi gas hasil pembakaran batu bara dengan reaksi kimia, dengan bahan pengikat berupa kapur basah (CaCO3), sehingga kandungan sulfur dioksida (SO2) yang dilepaskan ke atmosfer menjadi rendah.
Fly ash dan bottom ash (FABA) atau abu sisa proses pembakaran batu bara di PLTU Tanjung Lalang pun tengah dikembangkan pemanfaatannya untuk mendukung pembangunan berkelanjutan dalam sirkular ekonomi. FABA tersebut saat ini telah dimanfaatkan untuk bahan baku semen.
"Pemanfaatan lainnya yang tengah dikembangkan, yakni untuk bahan baku material bangunan, material pencegah air asam tambang, media tanam, dan sebagainya," kata Dody.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: PLTU MT Sumsel-8 terapkan teknologi superkritikal
"Dengan teknologi ini dan sesuai jenis batu bara yang tersedia, uap air dipanaskan pada suhu dan tekanan yang sangat tinggi pada kondisi superkritikal," ujar Wakil Direktur Utama HBAP Dody Arsadian melalui keterangan di Jakarta, Selasa.
Penggunaan teknologi itu menyebabkan tidak adanya proses perubahan fase yang jelas (dari air ke uap), dikarenakan air selalu berada dalam keadaan superkritikal, yang artinya proses pemanasan dan penguapan terjadi secara terus-menerus.
Teknologi superkritikal juga dapat mengurangi jumlah bahan bakar batu bara yang digunakan dan emisi yang dihasilkan.
Dody menyebut hal itu menjadikannya lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan PLTU berteknologi konvensional.
Menurutnya, PLTU berteknologi superkritikal mampu menghasilkan lebih banyak energi dengan jumlah bahan bakar yang lebih sedikit.
Penggunaan teknologi tersebut, sejalan dengan visi jangka panjang HBAP menjadi penyedia tenaga listrik kelas dunia yang terpercaya dan berorientasi kepada nilai-nilai keberlanjutan.
PLTU Tanjung Lalang diharapkan dapat beroperasi lebih baik dan memberikan dampak positif yang luas bagi masyarakat, serta mendukung pemenuhan kebutuhan energi di sistem kelistrikan Sumatera.
PLTU Tanjung Lalang juga dilengkapi dengan electrostatic precipitator (ESP), yaitu peralatan untuk menangkap partikel (debu gas buang/sisa pembakaran) dengan menggunakan prinsip elektrostatis.
Selain itu, PLTU Tanjung Lalang menerapkan teknologi flue gas desulphurization (FGD) yang mencampur emisi gas hasil pembakaran batu bara dengan reaksi kimia, dengan bahan pengikat berupa kapur basah (CaCO3), sehingga kandungan sulfur dioksida (SO2) yang dilepaskan ke atmosfer menjadi rendah.
Fly ash dan bottom ash (FABA) atau abu sisa proses pembakaran batu bara di PLTU Tanjung Lalang pun tengah dikembangkan pemanfaatannya untuk mendukung pembangunan berkelanjutan dalam sirkular ekonomi. FABA tersebut saat ini telah dimanfaatkan untuk bahan baku semen.
"Pemanfaatan lainnya yang tengah dikembangkan, yakni untuk bahan baku material bangunan, material pencegah air asam tambang, media tanam, dan sebagainya," kata Dody.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: PLTU MT Sumsel-8 terapkan teknologi superkritikal
Pewarta : Maria Cicilia Galuh Prayudhia
Editor : Aang Sabarudin
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Limbah minyak di Batam diduga dari Kapal MT Pablo terbakar di Perairan Malaysia
03 May 2023 15:40 WIB, 2023
Enam kapal dikerahkan evakuasi kapal tanker MT. Young Yong kandas di perairan Batam
11 November 2022 13:01 WIB, 2022
KSOP lakukan pemindahan muatan kapal tanker kandas di perairan Kepri
01 November 2022 13:17 WIB, 2022
Terpopuler - Info Bisnis
Lihat Juga
KAI Palembang catat 29.253 tiket Lebaran 2026 terjual, 50 persen dari kapasitas
10 February 2026 19:44 WIB