Komunitas Ayah ASI: Anak dengan ayah suportif punya emosi lebih stabil
Kamis, 17 Oktober 2024 16:40 WIB
Tangkapan layar-Konselor Menyusui sekaligus Co-Founder Komunitas Ayah ASI Indonesia Agus Rahmat Hidayat dalam diskusi kelas orang tua hebat seri ke-10 yang diselenggarakan oleh BKKBN, diikuti dalam jaringan di Jakarta, Kamis (17/10/2024). (ANTARA/Lintang Budiyanti Prameswari)
Jakarta (ANTARA) - Co-Founder Komunitas Ayah ASI Indonesia Agus Rahmat Hidayat mengatakan bahwa anak dari sosok ayah suportif bisa memiliki emosi yang lebih stabil.
Hal tersebut disampaikan Agus dalam kelas orang tua hebat (Kerabat) seri ke-10 yang diselenggarakan oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) secara daring di Jakarta, Kamis.
“Anak-anak yang memiliki ayah hangat dan suportif itu cenderung lebih stabil secara emosional, ini menunjukkan bahwa kehangatan seorang ayah berperan penting dalam perkembangan psikologis anak,” katanya.
Ia menyampaikan pernyataan itu berdasarkan penelitian dari Psikolog lulusan Universitas Missouri, Kolombia, Amerika Selatan, Jennifer Byrd-Craven pada tahun 2012, yang menyebutkan bahwa perkembangan ayah dengan anak yang hangat dapat meningkatkan kesejahteraan di dalam keluarga.
“Keberadaan ayah juga tidak hanya membantu anak dalam mengatasi stres dan tantangan emosional, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan secara keseluruhan, jadi anak umumnya memiliki kepercayaan diri yang lebih tinggi, kemampuan sosialnya lebih baik, dan lebih siap menghadapi berbagai situasi dalam hidup mereka,” paparnya.
Ia menyampaikan hasil penelitian lain dari Baker di tahun 2011, yang menyebutkan anak dengan ayah responsif lebih baik dalam bergaul dan menunjukkan perilaku pro-sosial.
“Contoh, anak yang memiliki ayah yang aktif mendengarkan dan memberikan perhatian cenderung lebih mudah berinteraksi dengan teman-temannya,” ucapnya.
Namun, kata Agus, dari segi pekerjaan, laki-laki berpenghasilan rendah yang menjadi ayah dan memiliki pekerjaan tidak stabil berpotensi kurang terlibat dalam pengasuhan.
“Mungkin dia akan lebih fokus untuk mencari pekerjaan yang lebih baik. Hal ini membuat suami kurang terlibat dalam kehidupan anak, karena perhatian dan energi dia terbagi antara mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujar dia.
Sedangkan ayah dengan pekerjaan penuh waktu dari Senin-Jumat di waktu pagi sampai sore, lebih mungkin terlibat dalam pendidikan dan pengasuhan anak.
“Dia mungkin punya waktu yang banyak sepulang kerja, dan sumber daya lebih baik untuk terlibat dalam pendidikan serta aktivitas anak-anak, mungkin juga bisa membantu anak dalam belajar, menghadiri acara sekolah, menjadi panutan yang lebih aktif, dan lain sebagainya. Dia cukup mapan di pekerjaannya, sehingga bisa membagi waktu untuk urusan rumah,” tuturnya.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Komunitas Ayah ASI: Anak dengan ayah suportif punya emosi lebih stabil
Hal tersebut disampaikan Agus dalam kelas orang tua hebat (Kerabat) seri ke-10 yang diselenggarakan oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) secara daring di Jakarta, Kamis.
“Anak-anak yang memiliki ayah hangat dan suportif itu cenderung lebih stabil secara emosional, ini menunjukkan bahwa kehangatan seorang ayah berperan penting dalam perkembangan psikologis anak,” katanya.
Ia menyampaikan pernyataan itu berdasarkan penelitian dari Psikolog lulusan Universitas Missouri, Kolombia, Amerika Selatan, Jennifer Byrd-Craven pada tahun 2012, yang menyebutkan bahwa perkembangan ayah dengan anak yang hangat dapat meningkatkan kesejahteraan di dalam keluarga.
“Keberadaan ayah juga tidak hanya membantu anak dalam mengatasi stres dan tantangan emosional, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan secara keseluruhan, jadi anak umumnya memiliki kepercayaan diri yang lebih tinggi, kemampuan sosialnya lebih baik, dan lebih siap menghadapi berbagai situasi dalam hidup mereka,” paparnya.
Ia menyampaikan hasil penelitian lain dari Baker di tahun 2011, yang menyebutkan anak dengan ayah responsif lebih baik dalam bergaul dan menunjukkan perilaku pro-sosial.
“Contoh, anak yang memiliki ayah yang aktif mendengarkan dan memberikan perhatian cenderung lebih mudah berinteraksi dengan teman-temannya,” ucapnya.
Namun, kata Agus, dari segi pekerjaan, laki-laki berpenghasilan rendah yang menjadi ayah dan memiliki pekerjaan tidak stabil berpotensi kurang terlibat dalam pengasuhan.
“Mungkin dia akan lebih fokus untuk mencari pekerjaan yang lebih baik. Hal ini membuat suami kurang terlibat dalam kehidupan anak, karena perhatian dan energi dia terbagi antara mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujar dia.
Sedangkan ayah dengan pekerjaan penuh waktu dari Senin-Jumat di waktu pagi sampai sore, lebih mungkin terlibat dalam pendidikan dan pengasuhan anak.
“Dia mungkin punya waktu yang banyak sepulang kerja, dan sumber daya lebih baik untuk terlibat dalam pendidikan serta aktivitas anak-anak, mungkin juga bisa membantu anak dalam belajar, menghadiri acara sekolah, menjadi panutan yang lebih aktif, dan lain sebagainya. Dia cukup mapan di pekerjaannya, sehingga bisa membagi waktu untuk urusan rumah,” tuturnya.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Komunitas Ayah ASI: Anak dengan ayah suportif punya emosi lebih stabil
Pewarta : Lintang Budiyanti Prameswari
Editor : Aang Sabarudin
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Film "Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya?" soroti dampak "fatherless" dalam komunikasi keluarga
09 April 2026 6:56 WIB
Anak 7 tahun korban penyiksaan di Kebayoran Lama ternyata pernah dibakar dan dibacok ayah
11 June 2025 15:36 WIB
Ikuti jejak ayah, putra sulung Cristiano Ronaldo masuk skuad Timnas Portugal U-15
07 May 2025 7:00 WIB, 2025
Terpopuler - Pendidikan & Kesehatan
Lihat Juga
Dokter: Penggunaan insulin bantu kendalikan kadar gula darah dan cegah komplikasi
03 May 2026 7:51 WIB
Hari Pendidikan Nasional: Kilang Pertamina Plaju dorong literasi energi generasi muda
02 May 2026 20:46 WIB
Penerimaan siswa Sekolah Unggul Garuda Transformasi di kampus dunia naik 150 persen
02 May 2026 9:20 WIB
Perkuat potensi perempuan, Kilang Plaju gelar pelatihan personal branding "Kartini Masa Kini"
24 April 2026 10:52 WIB