Jakarta (ANTARA) - Sebuah museum berdiri di kompleks perkantoran Manggala Wanabhakti, teduh di bawah kanopi lebat yang disusun dari banyak pohon. Berdiri di sini, rasanya polusi Jakarta jauh dari pikiran.

Memasuki gedung museum, pengunjung akan disuguhi hamparan koleksi kehutanan yang dihimpun selama berpuluh-puluh tahun. Desain interior museum ini mengingatkan pada era 80-an. Sekilas, desain ubinnya yang berbentuk heksagonal dan berwarna oranye cerah, mengingatkan pada rumah lebah. Pilihan desain tersebut senada dengan tema kehutanan yang diusung museum ini.

Satu objek menjadi pusat perhatian di museum berlantai dua ini, yaitu sebuah pohon jati yang menjulang setinggi 15 meter, menyentuh langit-langit museum yang didesain sedemikian rupa, agar cahaya Matahari menyentuh lantai museum.

Di sekeliling pohon jati itu ada berbagai hewan hasil taksidermi, seperti harimau sumatera, penyu sisik, otter, trenggiling, buaya muara, soa-soa, beruang madu, macan dahan, lutung jawa, cendrawasih, dan kijang. Ada satu harimau sumatera yang diletakkan paling dekat dengan pohon jati itu. Oleh para staf museum, dia dipanggil 'Panjul'.

Masih di bagian tengah museum tersebut, terletak sedikit lebih jauh dari pohon jati ikonik itu, terdapat sebuah potongan kayu besar yang berusia 336 tahun. Di samping kiri dan kanannya, ada dua daftar yang cukup unik, yaitu peristiwa-peristiwa nasional serta kehutanan yang terjadi semasa pohon itu hidup, mulai dari kecambah hingga akhirnya ditebang.

Pohon itu mulai berkecambah pada tahun 1644, jauh sebelum museum itu dilahirkan, dan ditebang pada 1982, sebelum akhirnya dipajang di museum kehutanan itu. Artinya, selama hidupnya, pohon satu ini ada dalam masa Perang Makassar, Perang Diponegoro, kelahiran R.A. Kartini, pendudukan Jepang, kemerdekaan Indonesia, hingga pemilihan umum ketiga.

Tepat di sisi kanan pintu masuk, terdapat deretan potongan kayu dari pohon. Sejumlah potongan itu, antara lain, kapur, meranti, mahoni, jati, gaharu, dan damar.

Lanjut ke bagian kanan museum dari pintu masuk lagi, terdapat sebuah pohon di dalam bilik kaca dengan enam segi. Di salah satu seginya, terdapat satu plakat bertuliskan ‘manfaat sebuah pohon’. Di dalamnya ada berbagai produk hasil bagian pohon tertentu. Ada berbagai jenis minyak yang menjadi bahan baku kosmetik, madu, kertas, korek api, dan getah.

Di dekat vitrin tersebut terdapat sebuah gunungan wayang berukuran besar dan berwarna warni yang jadi salah satu contoh produk dari hutan yang bernilai seni. Ada juga vitrin panjang yang menyimpan berbagai sampel hasil hutan non-kayu, seperti resin, kerajinan dari rotan dan bambu, kokon, ulat sutera, dan benang sutera. Di salah satu ujung vitrin, ada juga miniatur perahu yang cukup detail.


Segudang karya dan sejarah 

Sebuah sudut khusus mempertontonkan karya-karya seni lainnya yang sarat akan cerita. Relief Arjuna Wiwaha, Patung Hanoman, Garuda Wisnu, serta Patung Kodok menjadi beberapa karya seni dari kayu yang dapat pengunjung amati.

Uniknya, di samping ukiran-ukiran klasik itu, ada sebuah manekin yang dipakaikan mahkota dan busana berwarna biru serta bawahan berupa batik. Manekin itu dibuat semakin heboh dengan banyaknya aksen dan aksesoris yang diciptakan dari berbagai bahan bekas serta bahan alami. Sebuah plakat di sampingnya menjelaskan bahwa busana itu berasal dari sebuah parade kostum pada tahun 2014, yaitu Wanabhakti Fashion Street.

Dalam museum ini, tak hanya hasil hutan bergaya Jawa saja yang ditampilkan. Di satu sudut lantai 1 museum, pengunjung diperlihatkan berbagai peralatan rumah tangga berbasis kayu dari sejumlah wilayah di Indonesia, antara lain, Papua, Kalimantan, dan Sumatera.

Selain peralatan rumah tangga tradisional, ada juga hasil-hasil lain yang diperlihatkan, antara lain, jaket dari kulit kayu, yaitu baju lantung. Ada juga peralatan berburu, seperti bumbung racun, mandau, dan tameng dengan motif ukiran yang apik, dayung dengan ukiran, serta lukisan tradisional di potongan kulit kayu terap.

Karya berbasis alam yang lainnya adalah koleksi bertema sutera alam, yang menunjukkan benda-benda terkait mulai dari alat pembuatannya, kokon, hingga sejumlah kain sutera dengan berbagai warna dan corak.

Museum ini juga menyimpan miniatur-miniatur sejumlah jenis hutan, seperti hutan jati, hutan lindung, dan hutan bakau, serta tulang-belulang dari binatang, semisal buaya dan badak. Di lantai museum, ada juga hasil hutan yang ukurannya lebih besar dan bersifat komersil, seperti kayu lapis dan jati.

Tak luput dalam koleksinya, ada juga poster-poster besar berisi deskripsi berbagai taman nasional di Indonesia disertai grafis yang memukau, seakan mengajak pengunjung untuk berwisata ke sana.

Koleksi lain yang tak kalah menarik adalah sejarah dari kehutanan Indonesia itu sendiri, dimulai dari era VOC (Veredigne Oost Indiche Compagnie) yang meminta izin dari Raja Mataram untuk memakai hutan Indonesia. Ada berbagai buku berbahasa Belanda tentang pengelolaan hutan lestari, peta-peta hutan di Indonesia, peralatan ukur Indonesia, juga seragam yang digunakan penjaga hutan di masa lalu.

Selain dari Belanda, ada juga pedoman tradisional dari Indonesia. Adalah awig-awig, sebuah kearifan lokal dari Bali, yaitu tata cara berkehidupan, termasuk hidup berdampingan dengan alam, yang harus dipatuhi oleh warga Desa Tenganan. Awig-awig terdiri atas 40 lembar daun lontar, berisi 61 pasal, dan biasanya disimpan dalam wadah kotak kayu nangka dengan ukiran khas Bali.

Hutan, selain menjadi tempat yang memberikan kehidupan, juga menjadi medan untuk memperjuangkan kemerdekaan. Hal ini bisa dilihat dari koleksi Pasukan Wanara, yaitu pasukan Indonesia yang terdiri dari para rimbawan yang bergerilya di belantara Indonesia pada 1948. Di sini, foto para pejuang dipajang, dan ada juga koleksi peta gerilya, surat-surat perintah, dan kliping dari koran tentang Pasukan Wanara.


Melestarikan lingkungan, mulai yang terkecil

Pada 24 Agustus 1983, museum kehutanan itu diresmikan oleh Presiden Soeharto. Namanya berubah dari Museum Manggala Wanabhakti ke Museum Ir. Djamaludin Suryohadikusumo setelah melalui berbagai pemindahan manajemen serta penggabungan Kementerian Kehutanan dan Kementerian Lingkungan Hidup pada era Presiden Joko Widodo.

Kurator Museum Ir. Djamaludin Suryohadikusumo, Siti Jahidah Fina, mengatakan koleksi-koleksi museum itu sebagian besar disumbang oleh Menteri Kehutanan Indonesia yang pertama, yaitu Soedjarwo. Selain koleksi berupa benda-benda, museum itu juga menyimpan ribuan buku, dokumentasi, serta artikel seputar hutan, kehutanan, dan lingkungan di Indonesia di lantai 2.

Sementara itu, Edukator Museum Ir. Djamaludin Suryohadikusumo, Trimulya Rizkinda, menjelaskan bahwa kini, museum tersebut menerima kunjungan-kunjungan khusus, yang didominasi oleh sekolah-sekolah, mulai dari tingkat SD sampai SMA. Pihak museum memanfaatkan kunjungan museum ini untuk mengajarkan berbagai hal, selain sejarah hutan Indonesia, juga upaya-upaya untuk melestarikan kekayaan nusantara tersebut.

Melalui cara-cara yang sangat sederhana, seperti memanfaatkan limbah plastik dan membuang sampah pada tempatnya, lingkungan bisa tetap lestari.

Selain itu, mereka pernah bekerja sama dengan pihak terkait untuk mengadakan tur iklim bagi dua sekolah. Tur itu adalah upaya untuk mengedukasi siswa tentang perubahan iklim serta isu lingkungan di Indonesia, seperti kebakaran hutan.

Dalam berbagai kunjungan khusus, mereka membawa para siswa ke arboretum yang berada di kompleks Manggala Wanabhakti. Meski bukan bagian dari museum, tempat itu menjadi sebuah wahana bagi pengunjung untuk mengenal berbagai jenis pohon. Setiap tahunnya, bibit pohon baru ditanam di area itu sehingga selama puluhan tahun arboretum ada, area itu semakin lebat dan rindang.

Mereka berharap pelajaran sederhana semacam itu bisa membantu menumbuhkan kesadaran pada anak-anak bahwa merawat hutan Indonesia tidak harus melalui cara-cara rumit.

Indonesia memiliki harta berlimpah di sektor kehutanan, yang bisa dijaga melalui cara-cara simpel, bahkan bisa dilakukan sejak dini.










 

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Menilik "pusaka hijau" di Museum Kehutanan

Pewarta : Mecca Yumna Ning Prisie
Editor : Syarif Abdullah
Copyright © ANTARA 2024