BI dorong pemerintah daerah di Sumsel salurkan program subsidi
Minggu, 2 Oktober 2022 19:45 WIB
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan Erwin Soeriadimadja berbincang dengan pedagang Pasar Lemabang di Palembang, Minggu (1/10/22). (ANTARA/Dolly Rosana)
Palembang (ANTARA) - Bank Indonesia (BI) mendorong pemerintah daerah di Sumatera Selatan segera menyalurkan program subsidi pangan untuk meredam gejolak inflasi setelah adanya kenaikan harga Bahan Bakar Minyak.
Kepala BI Sumsel Erwin Soeriadimadja di Palembang, Minggu, mengatakan BI memberikan ruang bagi pemda-penda untuk melakukan gerakan pengendalian inflasi pangan sesuai arahan dari pemerintah pusat.
BI sebagai Ketua Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) menilai langkah yang paling tepat yakni menyalurkan secepatnya subsidi yang sudah diatur oleh Kementerian Dalam Negeri seperti subsidi ongkos angkut dan subsidi pangan dan lainnya.
Ia tak menyangkal adanya kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM berdampak pada kenaikan harga.
“Tapi seberapa dampaknya, akan dilihat pada rilis BPS besok (3 Oktober 2022),” kata dia setelah menghadiri Peluncuran Pasar Murah Beras di Pasar Lemabang Palembang.
Badan Pusat Statistik (BPS) merilis Provinsi Sumatera Selatan mengalami deflasi sebesar 0,82 persen pada Agustus 2022 karena turunnya harga sejumlah komoditas yang selama ini menjadi pemicu inflasi.
Deflasi dipicu oleh penurunan harga cabai merah, bawang merah, daging ayam ras, dan tarif angkutan udara.
Dengan terjadinya deflasi sebesar 0,82 persen itu maka inflasi Sumsel pada tahun kalender atau sepanjang Januari – Agustus 2022 mencapai 4,29 persen.
Namun, dengan adanya kenaikan harga BBM pada 3 September lalu, dipastikan akan mengerek laju inflasi di bulan tersebut.
Akan tetapi, Erwin menegaskan bahwa TPID akan terus berusaha agar inflasi tak menyentuh angka 5,0 persen hingga akhir tahun. Apalagi sebenarnya, target inflasi itu diharapkan pada kisaran 3,0 persen plus minus 1,0 persen sepanjang Januari-Desember 2022.
Untuk itu, BI terus mendorong pemda melakukan tujuh langkah Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP), yang mana enam langkah di antaranya yakni perbaikan pasokan dan dukungan anggaran pemerintah daerah.
Yang jelas, gejolak inflasi yang berpengaruh pada daya beli masyarakat ini juga dipengaruhi oleh momen menjelang akhir tahun dan kelancaran pasokan dan distribusi pangan, kata dia.
Sejauh ini berdasarkan pantauan ANTARA, gejolak harga pangan yang paling terasa pada komoditas beras. Harga beras kelompok medium bergerak dari kisaran Rp10.000 per Kg menjadi Rp12.000 per Kg.
Berdasarkan data terkini Bank Indonesia Sumsel, harga beras mengalami kenaikan tertinggi 4,31 persen (mtm) disusul cabai rawit 3,95 persen, bawang putih 1,65 persen, daging sapi 0,84 persen. Sementara komoditas seperti cabai, bawang merah, gula pasir, daging ayam dan minyak goreng justru turun.
Kepala BI Sumsel Erwin Soeriadimadja di Palembang, Minggu, mengatakan BI memberikan ruang bagi pemda-penda untuk melakukan gerakan pengendalian inflasi pangan sesuai arahan dari pemerintah pusat.
BI sebagai Ketua Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) menilai langkah yang paling tepat yakni menyalurkan secepatnya subsidi yang sudah diatur oleh Kementerian Dalam Negeri seperti subsidi ongkos angkut dan subsidi pangan dan lainnya.
Ia tak menyangkal adanya kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM berdampak pada kenaikan harga.
“Tapi seberapa dampaknya, akan dilihat pada rilis BPS besok (3 Oktober 2022),” kata dia setelah menghadiri Peluncuran Pasar Murah Beras di Pasar Lemabang Palembang.
Badan Pusat Statistik (BPS) merilis Provinsi Sumatera Selatan mengalami deflasi sebesar 0,82 persen pada Agustus 2022 karena turunnya harga sejumlah komoditas yang selama ini menjadi pemicu inflasi.
Deflasi dipicu oleh penurunan harga cabai merah, bawang merah, daging ayam ras, dan tarif angkutan udara.
Dengan terjadinya deflasi sebesar 0,82 persen itu maka inflasi Sumsel pada tahun kalender atau sepanjang Januari – Agustus 2022 mencapai 4,29 persen.
Namun, dengan adanya kenaikan harga BBM pada 3 September lalu, dipastikan akan mengerek laju inflasi di bulan tersebut.
Akan tetapi, Erwin menegaskan bahwa TPID akan terus berusaha agar inflasi tak menyentuh angka 5,0 persen hingga akhir tahun. Apalagi sebenarnya, target inflasi itu diharapkan pada kisaran 3,0 persen plus minus 1,0 persen sepanjang Januari-Desember 2022.
Untuk itu, BI terus mendorong pemda melakukan tujuh langkah Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP), yang mana enam langkah di antaranya yakni perbaikan pasokan dan dukungan anggaran pemerintah daerah.
Yang jelas, gejolak inflasi yang berpengaruh pada daya beli masyarakat ini juga dipengaruhi oleh momen menjelang akhir tahun dan kelancaran pasokan dan distribusi pangan, kata dia.
Sejauh ini berdasarkan pantauan ANTARA, gejolak harga pangan yang paling terasa pada komoditas beras. Harga beras kelompok medium bergerak dari kisaran Rp10.000 per Kg menjadi Rp12.000 per Kg.
Berdasarkan data terkini Bank Indonesia Sumsel, harga beras mengalami kenaikan tertinggi 4,31 persen (mtm) disusul cabai rawit 3,95 persen, bawang putih 1,65 persen, daging sapi 0,84 persen. Sementara komoditas seperti cabai, bawang merah, gula pasir, daging ayam dan minyak goreng justru turun.
Pewarta : Dolly Rosana
Editor : Indra Gultom
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Update harga emas Antam Jumat 6 Maret 2026: turun Rp25.000 jadi Rp3,02 juta per gram
06 March 2026 11:17 WIB
IHSG melemah Jumat ini, efek konflik Iran-AS dan lonjakan harga minyak dunia
06 March 2026 11:06 WIB
Terpopuler - Makro & Mikro
Lihat Juga
Desa Bukit Makmur raih penghargaan 15 desa terbaik nasional Program BRILiaN 2025
11 November 2025 15:18 WIB
Pusri resmikan Rumah Kompos di Desa Tebat Benawa, dukung pengembangan kopi lokal
18 July 2025 16:03 WIB
Gapki: Tanaman kelapa sawit di Sumsel butuh peremajaan untuk tingkatkan produksi
21 March 2025 11:00 WIB