Kerugian matinya ikan Danau Maninjau capai Rp35,28 miliar
Minggu, 2 Januari 2022 14:13 WIB
Bangkai ikan di Danau Maninjau. Ari (Antara/Yusrizal)
Lubukbasung (ANTARA) - Petani keramba jaring apung (KJA) Danau Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat mengalami kerugian sekitar Rp35,28 miliar akibat kematian ikan secara massal 1.764 ton selama Januari sampai Desember 2021.
Kepala Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan Agam, Rosva Deswira di Lubukbasung, Minggu, mengatakan nilai kerugian Rp35,28 miliar itu dari kematian ikan secara massal 1.764 ton dan harga ikan tingkat petani Rp20 ribu per kilogram.
"Ikan tersebut milik ratusan petani keramba jaring apung di Danau Danau Maninjau," katanya.
Ia mengatakan ke 1.764 ton ikan itu mati secara tiga tahap. Tahap pertama pada Januari 2021 sebanyak 15 ton.
Sedangkan tahap kedua pada Mai 2021 sebanyak 44 ton dan tahap tiga pada Desember 2021 sebanyak 1.705 ton.
"Kematian ikan paling banyak terjadi periode Desember 2021 tersebar di seluruh nagari atau desa ada di daerah itu," katanya.
Ia mengakui kematian ikan ini akibat curah hujan cukup tinggi disertai angin kencang melanda daerah itu, sehingga terjadi pembalikan air dasar ke permukaan danau. Akibatnya oksigen di Danau Maninjau berkurang dan ikan menjadi pusing dan mati.
Beberapa menit setelah itu, tambahnya, bangkai ikan mengapung ke permukaan danau. "Air danau tercemar akibat sebagian petani membuang bangkai ikan ke dalam danau," katanya.
Sebelumnya, pihaknya telah menghimbau petani agar tidak menebar bibit ikan mulai September sampai Januari, karena resiko kematian cukup tinggi saat itu.
Namun petani tidak mengindahkan imbauan itu dan tetap menebar bibit ikan.
Kepala Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan Agam, Rosva Deswira di Lubukbasung, Minggu, mengatakan nilai kerugian Rp35,28 miliar itu dari kematian ikan secara massal 1.764 ton dan harga ikan tingkat petani Rp20 ribu per kilogram.
"Ikan tersebut milik ratusan petani keramba jaring apung di Danau Danau Maninjau," katanya.
Ia mengatakan ke 1.764 ton ikan itu mati secara tiga tahap. Tahap pertama pada Januari 2021 sebanyak 15 ton.
Sedangkan tahap kedua pada Mai 2021 sebanyak 44 ton dan tahap tiga pada Desember 2021 sebanyak 1.705 ton.
"Kematian ikan paling banyak terjadi periode Desember 2021 tersebar di seluruh nagari atau desa ada di daerah itu," katanya.
Ia mengakui kematian ikan ini akibat curah hujan cukup tinggi disertai angin kencang melanda daerah itu, sehingga terjadi pembalikan air dasar ke permukaan danau. Akibatnya oksigen di Danau Maninjau berkurang dan ikan menjadi pusing dan mati.
Beberapa menit setelah itu, tambahnya, bangkai ikan mengapung ke permukaan danau. "Air danau tercemar akibat sebagian petani membuang bangkai ikan ke dalam danau," katanya.
Sebelumnya, pihaknya telah menghimbau petani agar tidak menebar bibit ikan mulai September sampai Januari, karena resiko kematian cukup tinggi saat itu.
Namun petani tidak mengindahkan imbauan itu dan tetap menebar bibit ikan.
Pewarta : Altas Maulana
Editor : Aang Sabarudin
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Harga ikan nila naik di Agam dampak kematian massal di Danau Maninjau
27 November 2022 17:06 WIB, 2022
45 ton ikan Danau Maninjau mati akibat angin kencang dan hujan lebat
18 November 2022 15:08 WIB, 2022
Dua bunga raflesia arnoldi mekar sempurna di hutan Danau Maninjau Sumbar
11 July 2022 23:40 WIB, 2022
Ikan Danau Maninjau mati menjadi 130 ton dan petani rugi Rp2,6 miliar
15 February 2022 11:52 WIB, 2022
Terpopuler - Lintas Daerah
Lihat Juga
Sebanyak 17 penumpang longboat selamat, kapal mati mesin di Perairan Maluku Tenggara
27 January 2026 7:34 WIB