Bisnis parfum lokal mulai berkembang
Selasa, 1 Juni 2021 14:25 WIB
Bisnis parfum lokal mulai berkembang terdukung Gernas BBI (Farah Parfum)
Jakarta (ANTARA) - Bisnis parfum lokal mulai berkembang dengan segmen pasar yang terus meluas, dan terdukung oleh program pemerintah Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI).
Marketing Manager Farah Parfum Hana dalam keterangannya, Selasa, mengatakan pangsa parfum di pasar domestik sangat potensial dan menjadi peluang bagi pelaku UMKM untuk menggarap segmen pasar parfum lokal mengingat pangsa parfum di pasar domestik diperkirakan cukup besar dan terus berkembang.
“Selain itu program pemerintah untuk mengajak masyarakat berbelanja produk lokal juga semakin mendorong bisnis parfum lokal berkembang,” katanya.
Usaha Farah Parfum dirintis sejak 2017 dan menjadi satu dari sedikit wewangian brand lokal asal Jakarta. Sebagai nilai tambah, kata Hana, usahanya itu menjadi satu-satunya “inspired parfum” di Indonesia yang memiliki sertifikat BPOM.
“Produk ‘inspired parfum’ dan harga yang terjangkau ini menjadi andalan usaha kami sehingga bisa dimiliki semua kalangan, ini menjadi nilai tambah,” katanya.
Ia menambahkan bersaing dalam bisnis wewangian di Indonesia harus pandai-pandai mencari celah. Oleh karena itu dukungan dari pemerintah melalui Gernas BBI menjadi kabar baik.
Selain ini banyak investor tertarik untuk menekuni bisnis yang cukup menggiurkan ini bahkan perusahaan yang menekuni bisnis parfum ini tidak hanya produsen lokal, tetapi juga banyak perusahaan importir yang mengimpor parfum dari luar negeri.
Karena itu tidak mengherankan jika persaingan bisnis parfum di Indonesia semakin ketat, seiring semakin banyaknya jumlah pelaku yang menekuni bisnis ini.
“Pertarungan tidak hanya terjadi antara produk lokal dan impor, tetapi juga kerap terjadi sesama produk parfum impor,” katanya.
PT Talenta Data Indonesia (PT. TDI) pada 2019 melakukan studi dan menemukan jumlah perusahaan importir yang pernah menekuni bisnis parfum impor di Indonesia telah lebih dari 60 perusahaan dengan jumlah merek parfum impor lebih dari 200 merek yang beredar di pasar domestik.
Cukup banyak merek parfum impor yang sukses meraih pangsa pasar di Indonesia, namun tidak sedikit juga merek parfum impor tersebut yang gagal bersaing untuk merebut pangsa pasar di pasar domestik.
Hana menambahkan agar bisa bersaing di pasar parfum lokal pihaknya merilis produk dupe parfum dari brand impor kelas high end.
Upaya ini sekaligus memberikan alternatif kepada masyarakat untuk dapat memiliki parfum beraroma brand impor namun dengan harga yang terjangkau.
“Masyarakat sangat meminati beberapa brand ini dan semakin banyak dicari terlebih saat digencarkan Gernas BBI dan program-program melalui marketplace,” katanya.
Marketing Manager Farah Parfum Hana dalam keterangannya, Selasa, mengatakan pangsa parfum di pasar domestik sangat potensial dan menjadi peluang bagi pelaku UMKM untuk menggarap segmen pasar parfum lokal mengingat pangsa parfum di pasar domestik diperkirakan cukup besar dan terus berkembang.
“Selain itu program pemerintah untuk mengajak masyarakat berbelanja produk lokal juga semakin mendorong bisnis parfum lokal berkembang,” katanya.
Usaha Farah Parfum dirintis sejak 2017 dan menjadi satu dari sedikit wewangian brand lokal asal Jakarta. Sebagai nilai tambah, kata Hana, usahanya itu menjadi satu-satunya “inspired parfum” di Indonesia yang memiliki sertifikat BPOM.
“Produk ‘inspired parfum’ dan harga yang terjangkau ini menjadi andalan usaha kami sehingga bisa dimiliki semua kalangan, ini menjadi nilai tambah,” katanya.
Ia menambahkan bersaing dalam bisnis wewangian di Indonesia harus pandai-pandai mencari celah. Oleh karena itu dukungan dari pemerintah melalui Gernas BBI menjadi kabar baik.
Selain ini banyak investor tertarik untuk menekuni bisnis yang cukup menggiurkan ini bahkan perusahaan yang menekuni bisnis parfum ini tidak hanya produsen lokal, tetapi juga banyak perusahaan importir yang mengimpor parfum dari luar negeri.
Karena itu tidak mengherankan jika persaingan bisnis parfum di Indonesia semakin ketat, seiring semakin banyaknya jumlah pelaku yang menekuni bisnis ini.
“Pertarungan tidak hanya terjadi antara produk lokal dan impor, tetapi juga kerap terjadi sesama produk parfum impor,” katanya.
PT Talenta Data Indonesia (PT. TDI) pada 2019 melakukan studi dan menemukan jumlah perusahaan importir yang pernah menekuni bisnis parfum impor di Indonesia telah lebih dari 60 perusahaan dengan jumlah merek parfum impor lebih dari 200 merek yang beredar di pasar domestik.
Cukup banyak merek parfum impor yang sukses meraih pangsa pasar di Indonesia, namun tidak sedikit juga merek parfum impor tersebut yang gagal bersaing untuk merebut pangsa pasar di pasar domestik.
Hana menambahkan agar bisa bersaing di pasar parfum lokal pihaknya merilis produk dupe parfum dari brand impor kelas high end.
Upaya ini sekaligus memberikan alternatif kepada masyarakat untuk dapat memiliki parfum beraroma brand impor namun dengan harga yang terjangkau.
“Masyarakat sangat meminati beberapa brand ini dan semakin banyak dicari terlebih saat digencarkan Gernas BBI dan program-program melalui marketplace,” katanya.
Pewarta : Hanni Sofia
Editor : Indra Gultom
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pesan Gernas BBI/BBWI di Palembang, "Belajar dan Berwisata ke Sumsel Bae"
27 May 2024 8:42 WIB, 2024
OJK sebut penyaluran kredit UMKM di Sumsel capai Rp39,75 triliun di Q1 2024
26 May 2024 22:01 WIB, 2024
Wapres Ma'ruf Amin sebut tak ada makan enak di Sumbar, yang ada enak sekali
12 April 2022 20:09 WIB, 2022
Terpopuler - Info Bisnis
Lihat Juga
PT Bumi Andalas Permai dukung budidaya kepiting bakau di Desa Sungai Batang OKI
12 February 2026 14:15 WIB
KAI Palembang catat 29.253 tiket Lebaran 2026 terjual, 50 persen dari kapasitas
10 February 2026 19:44 WIB