Ribuan Ikan Dewa dilepas ke habitatnya
Senin, 24 Februari 2020 21:09 WIB
Pelepasan ribuan ikan dewa di Sungai Ciliwung, Desa Cipayung, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. (ANTARA/M Fikri Setiawan)
Megamendung, Bogor (ANTARA) - Balai Riset Perikanan Air Tawar dan Penyuluhan Perikanan (BRPBATPP) Bogor melepas ribuan bibit ikan dewa ke habitatnya, di Sungai Ciliwung, Desa Cipayung, Kawasan Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, karena keberadaannya sudah mulai langka.
"Kita restocking, artinya, ikan dewa dilepasliarkan di habitatnya yang kondisinya sudah mulai berkurang," ujar peneliti sekaligus Kepala Instalasi Riset Plasma Nutfah BRPBATPP, Cijeruk Bogor, Otong Zenal Arifin, Senin.
Ribuan anak ikan dewa itu didatangkan dari Instalasi Riset Plasma Nutfah BRPBATPP, Cijeruk Bogor, tempat ia membudidayakan ikan yang juga dikenal sebagai ikan tor soro atau ikan kancra.
Untuk memberikan peluang besar ikan dewa bisa tetap hidup, ia bersama mahasiswa terlebih dahulu membersihkan sungai dari sampah.
Menurutnya, ikan yang menjadi adat persembahan bagi para bangsawan dan raja di Sumatera Utara pada masa lalu itu memang merupakan penghuni asli sungai yang aliran airnya cukup deras.
Namun, belakangan, keberadaannya di sungai tersisih dengan adanya ikan-ikan introduksi seperti ikan lele dan nila.
Otong mengatakan, berdasarkan penelitian sebanyak 80 persen ikan lokal hilang akibat adanya ikan-ikan introduksi.
Di samping sebagai konservasi, ikan dewa juga memiliki nilai ekonomi yang terbilang tinggi.
Khusus di daerah Sumedang, harga jual ikan tersebut bisa mencapai Rp1 juta untuk ukuran tujuh Ons karena ikan keramat ini dipercaya sebagian etnis memiliki keutamaan tersendiri.
"Potensi bisnisnya sangat tinggi. Dari nilai jual sudah tinggi. Kemudian, ini ikan yang relatif dipelihara,” kata Otong.
Faktor lainnya, pertumbuhannya relatif lama. Untuk mencapai ukuran seberat satu kilogram, membutuhkan waktu sekitar tiga tahun. Padahal untuk ikan air tawar lainnya, seperti ikan mas hanya membutuhkan waktu sekitar enam bulan.
Sementara itu, Kordinator Himpunan Mahasiswa Perikanan Indonesia (Himapikani) Wilayah II (Jawa Barat, DKI dan Banten), Yakub Ricky Rahmawan menyebutkan bahwa pelepasan ikan dewa untuk mengoptimalkan jumlah populasinya di sungai.
"Ikan dewa yang endemik di Sungai Ciliwung ini terus menurun populasinya karena ekosistemnya rusak. Hingga hari ini kami dari Himapikani Wilayah II melepas 5.000 ekor ikan dewa," kata Yakub.
"Kita restocking, artinya, ikan dewa dilepasliarkan di habitatnya yang kondisinya sudah mulai berkurang," ujar peneliti sekaligus Kepala Instalasi Riset Plasma Nutfah BRPBATPP, Cijeruk Bogor, Otong Zenal Arifin, Senin.
Ribuan anak ikan dewa itu didatangkan dari Instalasi Riset Plasma Nutfah BRPBATPP, Cijeruk Bogor, tempat ia membudidayakan ikan yang juga dikenal sebagai ikan tor soro atau ikan kancra.
Untuk memberikan peluang besar ikan dewa bisa tetap hidup, ia bersama mahasiswa terlebih dahulu membersihkan sungai dari sampah.
Menurutnya, ikan yang menjadi adat persembahan bagi para bangsawan dan raja di Sumatera Utara pada masa lalu itu memang merupakan penghuni asli sungai yang aliran airnya cukup deras.
Namun, belakangan, keberadaannya di sungai tersisih dengan adanya ikan-ikan introduksi seperti ikan lele dan nila.
Otong mengatakan, berdasarkan penelitian sebanyak 80 persen ikan lokal hilang akibat adanya ikan-ikan introduksi.
Di samping sebagai konservasi, ikan dewa juga memiliki nilai ekonomi yang terbilang tinggi.
Khusus di daerah Sumedang, harga jual ikan tersebut bisa mencapai Rp1 juta untuk ukuran tujuh Ons karena ikan keramat ini dipercaya sebagian etnis memiliki keutamaan tersendiri.
"Potensi bisnisnya sangat tinggi. Dari nilai jual sudah tinggi. Kemudian, ini ikan yang relatif dipelihara,” kata Otong.
Faktor lainnya, pertumbuhannya relatif lama. Untuk mencapai ukuran seberat satu kilogram, membutuhkan waktu sekitar tiga tahun. Padahal untuk ikan air tawar lainnya, seperti ikan mas hanya membutuhkan waktu sekitar enam bulan.
Sementara itu, Kordinator Himpunan Mahasiswa Perikanan Indonesia (Himapikani) Wilayah II (Jawa Barat, DKI dan Banten), Yakub Ricky Rahmawan menyebutkan bahwa pelepasan ikan dewa untuk mengoptimalkan jumlah populasinya di sungai.
"Ikan dewa yang endemik di Sungai Ciliwung ini terus menurun populasinya karena ekosistemnya rusak. Hingga hari ini kami dari Himapikani Wilayah II melepas 5.000 ekor ikan dewa," kata Yakub.
Pewarta : M Fikri Setiawan
Editor : Aang Sabarudin
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Wali Kota Palembang Ratu Dewa gandeng Baznas susun program untuk masyarakat marginal
05 March 2026 4:39 WIB
Wujudkan identitas lokal, Ratu Dewa tata ikon Kota Palembang dengan nilai filosofis
03 March 2026 19:11 WIB
Pemkot Palembang santuni 500 anak yatim, sekaligus peringati satu tahun Ratu Dewa-Prima Salam
21 February 2026 12:49 WIB
Ratu Dewa sebut biaya lampu Jembatan Musi VI capai Rp6 miliar, minta warga turut menjaga
22 January 2026 23:34 WIB
Terpopuler - Wisata
Lihat Juga
Pengunjung destinasi wisata Al Quran Akbar Palembang meningkat selama momentum Isra Mi'raj
19 January 2026 6:35 WIB