Panitia kurban diimbau tidak mencuci jeroan di sungai
Sabtu, 10 Agustus 2019 9:11 WIB
Petugas kehesehatan hewan di Kabupaten Kulon Progo, DIY, memeriksa kesehatan hewan kurban di lokasi penampungan. (ANTARA/Sutarmi)
Kulon Progo (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengimbau kepada panitia kurban untuk memastikan alat untuk menyembelih hewan kurban harus tajam dan dan tidak boleh mencuci jeroan di sungai.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan (Keswan) Dinas Pertanian dan Pangan Kulon Progo Drajat Purbadi di Kulon Progo, Sabtu, mengatakan cara pemotongan hewan harus dengan alat yang tajam.
"Panitia kurban harus memastikan alat pisau yang akan digunakan untuk menyembelih hewan kurban harus tajam," kata Drajat.
Kemudian, lanjut Drajat, penyembelihan hewan kurban harus dilakukan satu kali gerakan, tidak boleh pisau lepas dari batang lehernya. Artinya, saat satu gerakan tidak segera putus urat nadinya, tidak boleh pisau tidak menempel lagi.
"Jadi harus benar-benar diusahakan satu kali tarikan pisau bisa memutus urat nadi hewan kurban tersebut," imbaunya.
Terkait perlakuan terhadap daging kurban, Drajat mengatakan perlu adanya sanitasi yang bagus, dan ada alas yang bersih untuk memotong daging. Kemudian, pencucian jeroan tidak boleh dicuci di sungai karena mengandung bakteri.
Dampak mencuci jeroan di sungai, yakni sungai pusat bakteri akan mencemari jeroan yang dicuci. Kemudian, isi jeoran sendiri akan mencemari perairan umum dan sungai.
"Kebiasaan masyarakat mencuci jeroan atau brodot ke sungai ini masih terjadi sampai saat ini. Ini yang perlu kami sosialosasikan supaya mereka tidak mencuci di sungai. Kami sudah mengirim surat ke Kantor Kementerian Agama untuk mensosialisasikan hal tersebut kepada takmir masjid," katanya.
Selain itu, kata Drajat, pihaknya sudah meminta kepada setiap koordinator petugas kesehatan hewan intruksikan bila ditemukan cacing hati, maka hati yang terkena cacing hati tidak boleh dikonsumsi.
"Kami minta masyarakat membuang hati yang terkena cacing hati," katanya.
Sementara itu, pedagang besar sapi kurban di Kecamatan Lendah, Syamsudin mengatakan kebanyakam cacing hati mayoritas ditemukan di sapi lokal. Terkadang, kondisi sapi yang sehat, hatinya terkena. Hal berbeda dengan sapi dari madura, potensi terkena cacing hati sangat kecil.
"Terkadang, sapi yang diperiksa mata hingga bulunya tampak sehat, ternyata terkena cacing hati," katanya.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan (Keswan) Dinas Pertanian dan Pangan Kulon Progo Drajat Purbadi di Kulon Progo, Sabtu, mengatakan cara pemotongan hewan harus dengan alat yang tajam.
"Panitia kurban harus memastikan alat pisau yang akan digunakan untuk menyembelih hewan kurban harus tajam," kata Drajat.
Kemudian, lanjut Drajat, penyembelihan hewan kurban harus dilakukan satu kali gerakan, tidak boleh pisau lepas dari batang lehernya. Artinya, saat satu gerakan tidak segera putus urat nadinya, tidak boleh pisau tidak menempel lagi.
"Jadi harus benar-benar diusahakan satu kali tarikan pisau bisa memutus urat nadi hewan kurban tersebut," imbaunya.
Terkait perlakuan terhadap daging kurban, Drajat mengatakan perlu adanya sanitasi yang bagus, dan ada alas yang bersih untuk memotong daging. Kemudian, pencucian jeroan tidak boleh dicuci di sungai karena mengandung bakteri.
Dampak mencuci jeroan di sungai, yakni sungai pusat bakteri akan mencemari jeroan yang dicuci. Kemudian, isi jeoran sendiri akan mencemari perairan umum dan sungai.
"Kebiasaan masyarakat mencuci jeroan atau brodot ke sungai ini masih terjadi sampai saat ini. Ini yang perlu kami sosialosasikan supaya mereka tidak mencuci di sungai. Kami sudah mengirim surat ke Kantor Kementerian Agama untuk mensosialisasikan hal tersebut kepada takmir masjid," katanya.
Selain itu, kata Drajat, pihaknya sudah meminta kepada setiap koordinator petugas kesehatan hewan intruksikan bila ditemukan cacing hati, maka hati yang terkena cacing hati tidak boleh dikonsumsi.
"Kami minta masyarakat membuang hati yang terkena cacing hati," katanya.
Sementara itu, pedagang besar sapi kurban di Kecamatan Lendah, Syamsudin mengatakan kebanyakam cacing hati mayoritas ditemukan di sapi lokal. Terkadang, kondisi sapi yang sehat, hatinya terkena. Hal berbeda dengan sapi dari madura, potensi terkena cacing hati sangat kecil.
"Terkadang, sapi yang diperiksa mata hingga bulunya tampak sehat, ternyata terkena cacing hati," katanya.
Pewarta : Sutarmi
Editor : Aang Sabarudin
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Seorang warga OKU alami luka serius, diserang beruang saat bekerja di kebun karet
16 April 2026 18:02 WIB
Terpopuler - Lintas Daerah
Lihat Juga
Razia syariat Islam di Aceh Barat, 33 warga terjaring langgar aturan busana muslim
30 April 2026 7:33 WIB
Prakirakan cuaca Kota Jakarta Rabu 29 April 2026: Potensi diguyur hujan ringan sore hari
29 April 2026 5:33 WIB
Cerita haru jamaah haji termuda asal Bali, baru tahu didaftarkan saat masih SD
26 April 2026 8:42 WIB
Prakiraan cuaca Sumatera Utara Jumat 24 April 2026: Didominasi berawan hingga hujan sedang
24 April 2026 10:45 WIB