Rawa bukan lahan tidur
Minggu, 30 Juni 2019 19:25 WIB
Misman (kaus biru) saat berada di rawa Belimau, bagian dari DAS SKM (Ist)
Samarinda (ANTARA) - Keberadaan rawa yang oleh pemerintah dan sebagian besar masyarakat dinyatakan sebagai lahan tidur, bertolak belakang dengan pendapat pemerhati sungai karena rawa merupakan bagian dari daerah aliran sungai (DAS) yang keberadaannya jangan sampai dirusak.
"Lahan tidur adalah lahan yang boleh dialihfungsikan untuk tujuan tertentu. Tapi rawa yang masuk dalam DAS merupakan kawasan pengurang banjir dan pelbagai fungsi lain," ujar Ketua Gerakan Memungut Sehelai Sampah Sungai Karang Mumus (GMSS-SKM) Samarinda, Misman di Samarinda, Minggu.
Rawa yang banyak tersebar di Provinsi Kaltim, khususnya di Kota Samarinda, lanjutnya, memiliki banyak fungsi, antara lain bisa dijadikan kawasan pertanian sawah yang bisa mewujudkan swasembada pangan guna menjawab persoalan impor beras yang selama ini masih terjadi.
Jika rawa bisa dimanfaatkan secara ramah untuk pertanian tanaman pangan terutama padi, tentu hal ini tidak menghilangkan fungsi rawa sebagai penampung air, sehingga ketika hujan turun, maka air tidak langsung mengalir ke sungai, tapi bertahan never hari atau beberapa pekan di rawa, kemudian secara perlahan mengalir ke sungai.
Namun yang terjadi selama ini, rawa yang tersebar di DAS Sungai Karang Mumus (SKM) dianggap sebagai lahan tidur dan tidak produktif, sehingga rawa kemudian ada yang dijadikan perumahan dan permukiman secara tidak ramah dengan cara diuruk.
Akibat pengurukan ini, tentu daerah resapan air menjadi berkurang, sehingga ketika hujan deras, Samarinda langsung banjir. Untuk perumahan yang diuruk tinggi memang tidak banjir, namun bagi kawasan lain di sekitarnya yang lebih rendah tentu yang kena imbasnya.
Fungsi lain dari rawa adalah sebagai ekosistem yang menjadi tempat tumbuh dan berkembangnya berbagai hewan dan tumbuhan khas rawa, sehingga aneka vegetasi ini yang akan menyerap pelbagai racun air sebelum akhirnya dialirkan ke sungai secara alami agar air sungai tidak tercemar.
Ia juga mengatakan bahwa Samarinda masih bisa diselamatkan dari banjir yang lebih besar lagi di masa mendatang, diantaranya cara yang harus diselamatkan adalah dengan tidak membiarkan rawa diuruk, kemudian DAS di sepanjang SKM ditanami pohon untuk penyerap air hujan sekaligus sebagai hutan kota.
"Di Samarinda masih banyak rawa yang masih bisa diselamatkan. Jika pemerintah masih melakukan pembiaran seperti dulu terhadap rawa, maka rumah-rumah dan bangunan akan terus tumbuh. Bahkan jalur hijau SKM juga akan terus tumbuh rumah, maka perlu ketegasan pemerintah menyelamatkan lingkungan jika tidak ingin ada bencana lebih besar lagi," jelas Misman. ***2***
"Lahan tidur adalah lahan yang boleh dialihfungsikan untuk tujuan tertentu. Tapi rawa yang masuk dalam DAS merupakan kawasan pengurang banjir dan pelbagai fungsi lain," ujar Ketua Gerakan Memungut Sehelai Sampah Sungai Karang Mumus (GMSS-SKM) Samarinda, Misman di Samarinda, Minggu.
Rawa yang banyak tersebar di Provinsi Kaltim, khususnya di Kota Samarinda, lanjutnya, memiliki banyak fungsi, antara lain bisa dijadikan kawasan pertanian sawah yang bisa mewujudkan swasembada pangan guna menjawab persoalan impor beras yang selama ini masih terjadi.
Jika rawa bisa dimanfaatkan secara ramah untuk pertanian tanaman pangan terutama padi, tentu hal ini tidak menghilangkan fungsi rawa sebagai penampung air, sehingga ketika hujan turun, maka air tidak langsung mengalir ke sungai, tapi bertahan never hari atau beberapa pekan di rawa, kemudian secara perlahan mengalir ke sungai.
Namun yang terjadi selama ini, rawa yang tersebar di DAS Sungai Karang Mumus (SKM) dianggap sebagai lahan tidur dan tidak produktif, sehingga rawa kemudian ada yang dijadikan perumahan dan permukiman secara tidak ramah dengan cara diuruk.
Akibat pengurukan ini, tentu daerah resapan air menjadi berkurang, sehingga ketika hujan deras, Samarinda langsung banjir. Untuk perumahan yang diuruk tinggi memang tidak banjir, namun bagi kawasan lain di sekitarnya yang lebih rendah tentu yang kena imbasnya.
Fungsi lain dari rawa adalah sebagai ekosistem yang menjadi tempat tumbuh dan berkembangnya berbagai hewan dan tumbuhan khas rawa, sehingga aneka vegetasi ini yang akan menyerap pelbagai racun air sebelum akhirnya dialirkan ke sungai secara alami agar air sungai tidak tercemar.
Ia juga mengatakan bahwa Samarinda masih bisa diselamatkan dari banjir yang lebih besar lagi di masa mendatang, diantaranya cara yang harus diselamatkan adalah dengan tidak membiarkan rawa diuruk, kemudian DAS di sepanjang SKM ditanami pohon untuk penyerap air hujan sekaligus sebagai hutan kota.
"Di Samarinda masih banyak rawa yang masih bisa diselamatkan. Jika pemerintah masih melakukan pembiaran seperti dulu terhadap rawa, maka rumah-rumah dan bangunan akan terus tumbuh. Bahkan jalur hijau SKM juga akan terus tumbuh rumah, maka perlu ketegasan pemerintah menyelamatkan lingkungan jika tidak ingin ada bencana lebih besar lagi," jelas Misman. ***2***
Pewarta : M.Ghofar
Editor : Aang Sabarudin
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
BPBD Muratara gencarkan pencarian korban perahu karam dan terbawa arus
21 April 2024 14:55 WIB, 2024
Terpopuler - Lintas Daerah
Lihat Juga
Tim SAR evakuasi tujuh pendaki Gunung Nokilalaki Sigi yang kehabisan logistik
13 September 2026 16:44 WIB
Keluarga penumpang Kapal Virgo Transport 8 cemas menanti evakuasi di Pelabuhan Trisakti
13 September 2026 16:35 WIB
Kecelakaan Kapal Virgo Transport 8 di Laut Jawa: 6 meninggal, 97 selamat
13 September 2026 16:32 WIB
Kapal Pertamina selamatkan 16 korban KMP Virgo Transport 08 di Laut Jawa
13 September 2026 16:29 WIB
Pemadaman kebakaran Gunung Bromo lewat water bombing terkendala cuaca buruk
13 September 2026 16:21 WIB
Basarnas kerahkan helikopter cari korban kecelakaan Kapal Virgo Transport 8 di Laut Jawa
13 September 2026 12:52 WIB
Tim SAR pusatkan pencarian lima jurnalis hilang di radius terdekat Gunung Anak Krakatau
11 September 2026 21:26 WIB
Lima penerbangan Palembang-Jakarta dibatalkan, dampak erupsi Anak Krakatau
06 September 2026 9:35 WIB