Pertamina resmi sebagai operator wilayah kerja 'Southeast' Sumatera
Kamis, 6 September 2018 18:42 WIB
Dokumen - Pekerja migas (ANTARA FOTO)
Jakarta (ANTARA News Sumsel) - Pertamina melalui anak usahanya PT Pertamina Hulu Energi resmi alih kelola 100 persen wilayah kerja Southeast Sumatra ) dari operator lama CNOOC SES Ltd.
"Seremoni alih kelola dilakukan di Pulau Pabelokan, Kepulauan Seribu yang menjadi salah satu lokasi penting dalam operasi lepas pantai di WK SES," demikian siaran pers Humas PT Pertamina yang diterima di Jakarta, Kamis.
Selanjutnya WK SES dioperasikan oleh PHE Offshore Southeast Sumatra (PHE OSES) sebagai operator baru.
Acara tersebut dihadiri oleh Direktur Hulu PT Pertamina (Persero) Dharmawan Samsu, PTH Direktur Utama PHE Huddie Dewanto, dan Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi.
Seremoni alih kelola ditandai dengan pemakaian atribut Pertamina oleh Pekerja yang kini menjadi Pekerja PHE OSES dan penyerahan dokumen alih kelola kepada PHE OSES.
WK SES merupakan salah satu penghasil minyak dan gas bumi terbesar di Indonesia. Hingga Agustus 2018, tercatat produksi minyak dan gas bumi di WK SES sebesar 31.120 barel per hari (bph) dan 137,5 juta standard kaki kubik per hari (mmscfd).
"WK SES memiliki nilai strategis dalam industri migas di tanah air dalam mendukung pencapaian target produksi nasional untuk mencapai ketahanan energi nasional," kata Direktur Hulu PT Pertamina (Persero) Dharmawan Samsu.
Hasil produksi gas lapangan SES digunakan untuk pembangkit listrik milik PLN di Cilegon. Sedangkan produksi minyak dari WK SES sebelum alih kelola diekspor seluruhnya.
Namun, setelah alih kelola oleh PHE OSES, seluruh produksi minyak akan diproses sepenuhnya di kilang-kilang Pertamina untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar dalam negeri.
Untuk memastikan kelancaran alih kelola pasca-terminasi, Pertamina melalui anak usahanya, PHE telah melakukan kajian operasi dan Quality, Health, Safety, Security dan Environment (QHSSE) serta beberapa kali melakukan kunjungan lapangan.
"WK SES merupakan lapangan yang telah mature, sehingga berbagai kajian terkait QHSSE penting agar PHE bisa mengimplementasikan operational excellence di lapangan SES," ujar PTH Direktur Utama PHE Huddie Dewanto.
Wilayah Kerja SES merupakan salah satu pioneer dalam kontrak bagi hasil (PSC) lepas pantai di Indonesia. Kontrak bagi hasil WK SES ditandatangani pertama kali pada 6 September 1968 atau kini telah berusia 50 tahun. Selama beroperasi, WK SES pernah mengalami masa puncak produksi pada Juli 1991 dengan produksi harian sebesar 244.340 bph.
Pada 20 April 2018, Pertamina mendapatkan penugasan pemerintah untuk mengelola 8 WK yang habis masa kontraknya di tahun 2018. Seratus persen participating interest delapan blok tersebut, salah satunya WK SES diserahkan kepada Pertamina, dimana secara jangka panjang lapangan yang sudah cukup lama dikelola tersebut, diharapkan dapat memberikan nilai positif bagi ketahanan energi nasional.
Seperti diungkapkan Kepala SKK Migas, dengan sistem kontrak kerja sama gross split, PHE OSES diharapkan dapat berproduksi dengan lebih efektif dan efisien.
Komitmen Pasti tiga tahun WK SES sebesar 130 juta dolar AS, baik untuk kegiatan eksploitasi maupun eksplorasi diharapkan dapat menambah cadangan terbukti juga meningkatkan produksi.
Dalam empat tahun terakhir, tercatat produksi di WK SES stabil dan cenderung menurun di kisaran 31 ribu bph karena adanya natural decline.
"Seremoni alih kelola dilakukan di Pulau Pabelokan, Kepulauan Seribu yang menjadi salah satu lokasi penting dalam operasi lepas pantai di WK SES," demikian siaran pers Humas PT Pertamina yang diterima di Jakarta, Kamis.
Selanjutnya WK SES dioperasikan oleh PHE Offshore Southeast Sumatra (PHE OSES) sebagai operator baru.
Acara tersebut dihadiri oleh Direktur Hulu PT Pertamina (Persero) Dharmawan Samsu, PTH Direktur Utama PHE Huddie Dewanto, dan Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi.
Seremoni alih kelola ditandai dengan pemakaian atribut Pertamina oleh Pekerja yang kini menjadi Pekerja PHE OSES dan penyerahan dokumen alih kelola kepada PHE OSES.
WK SES merupakan salah satu penghasil minyak dan gas bumi terbesar di Indonesia. Hingga Agustus 2018, tercatat produksi minyak dan gas bumi di WK SES sebesar 31.120 barel per hari (bph) dan 137,5 juta standard kaki kubik per hari (mmscfd).
"WK SES memiliki nilai strategis dalam industri migas di tanah air dalam mendukung pencapaian target produksi nasional untuk mencapai ketahanan energi nasional," kata Direktur Hulu PT Pertamina (Persero) Dharmawan Samsu.
Hasil produksi gas lapangan SES digunakan untuk pembangkit listrik milik PLN di Cilegon. Sedangkan produksi minyak dari WK SES sebelum alih kelola diekspor seluruhnya.
Namun, setelah alih kelola oleh PHE OSES, seluruh produksi minyak akan diproses sepenuhnya di kilang-kilang Pertamina untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar dalam negeri.
Untuk memastikan kelancaran alih kelola pasca-terminasi, Pertamina melalui anak usahanya, PHE telah melakukan kajian operasi dan Quality, Health, Safety, Security dan Environment (QHSSE) serta beberapa kali melakukan kunjungan lapangan.
"WK SES merupakan lapangan yang telah mature, sehingga berbagai kajian terkait QHSSE penting agar PHE bisa mengimplementasikan operational excellence di lapangan SES," ujar PTH Direktur Utama PHE Huddie Dewanto.
Wilayah Kerja SES merupakan salah satu pioneer dalam kontrak bagi hasil (PSC) lepas pantai di Indonesia. Kontrak bagi hasil WK SES ditandatangani pertama kali pada 6 September 1968 atau kini telah berusia 50 tahun. Selama beroperasi, WK SES pernah mengalami masa puncak produksi pada Juli 1991 dengan produksi harian sebesar 244.340 bph.
Pada 20 April 2018, Pertamina mendapatkan penugasan pemerintah untuk mengelola 8 WK yang habis masa kontraknya di tahun 2018. Seratus persen participating interest delapan blok tersebut, salah satunya WK SES diserahkan kepada Pertamina, dimana secara jangka panjang lapangan yang sudah cukup lama dikelola tersebut, diharapkan dapat memberikan nilai positif bagi ketahanan energi nasional.
Seperti diungkapkan Kepala SKK Migas, dengan sistem kontrak kerja sama gross split, PHE OSES diharapkan dapat berproduksi dengan lebih efektif dan efisien.
Komitmen Pasti tiga tahun WK SES sebesar 130 juta dolar AS, baik untuk kegiatan eksploitasi maupun eksplorasi diharapkan dapat menambah cadangan terbukti juga meningkatkan produksi.
Dalam empat tahun terakhir, tercatat produksi di WK SES stabil dan cenderung menurun di kisaran 31 ribu bph karena adanya natural decline.
Pewarta : Afut Syafril Nursyirwan
Editor : Indra Gultom
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pertamina Patra Niaga perluas SPBU Nelayan di wilayah 3T melalui program BBM Satu Harga
30 April 2026 7:53 WIB
Optimalkan aset produktif, Bank Sumsel Babel gelar lelang serentak di tiga wilayah
28 April 2026 14:24 WIB
BMKG: Waspada gelombang tinggi hingga 2,5 meter di Samudera Hindia barat Kepulauan Nias
19 April 2026 9:04 WIB
Menaker Yassierli target perluasan wilayah dan kuota Program Magang Nasional 2026
09 April 2026 17:39 WIB
PM Spanyol Pedro Sanchez tegaskan serangan terhadap UNIFIL di Lebanon harus dihentikan
07 April 2026 6:36 WIB
Prakiraan cuaca Jakarta Jumat 3 April 2026: Seluruh wilayah alami hujan ringan
03 April 2026 7:35 WIB
Austria ikuti jejak Spanyol dan Italia tolak permintaan militer Amerika Serikat
03 April 2026 7:04 WIB
Menlu Iran desak negara-negara regional usir pasukan asing dari wilayah Teluk
15 March 2026 19:24 WIB
Daftar wilayah banjir Jakarta Minggu ini: Pela Mampang jadi titik terdalam hingga 150 cm
08 March 2026 8:13 WIB
Terpopuler - Info Bisnis
Lihat Juga
Kopi Tebat Benawa, saat tradisi dan inovasi Pusri bertemu di kaki Gunung Dempo
22 April 2026 16:45 WIB