Bank Mandiri jemput tabungan pedagang pasar
Selasa, 6 September 2016 20:16 WIB
Ilustrasi-Nasabah melakukan transaksi pembukaan rekening tabungan di sebuah Bank. (Foto Antarasumsel.com/Nova Wahyudi/16/den)
Palembang (ANTARA Sumsel) - Bank Mandiri Sumatera Selatan memiliki program khusus untuk menghindarkan para pedagang pasar dari jasa ilegal `bank keliling` dengan menjemput uang tabungan nasabah di sejumlah pasar Kota Palembang.
Head of Region Bank Mandiri II Sumatera Bagian Selatan Toto Supriadi di Palembang, Selasa, mengatakan program ini merupakan misi perusahaan untuk menyelamatkan masyarakat kalangan bawah dari jeratan para rentenir.
Rentenir kerap beredar di pasar tradisional dengan menawarkan kemudahan dalam meminjam tapi suku bunga yang tinggi saat pengembalian dana.
"Mulanya agak sulit, tapi ketika dijelaskan bahwa petugas akan datang ke pasar mengambil langsung uang tabungan dalam satu pekan sebanyak satu kali, sejumlah pedagan mulai tertarik," kata dia.
Ia mengatakan selama ini mereka menabung dengan penjual jasa "bank keliling" rata-rata perhari Rp5.000 hingga Rp50.000.
Kemudian uang yang dikumpulkan itu akan diambil beberapa bulan mendatang untuk sejumlah keperluan seperti pulang kampung saat Lebaran, biaya pendidikan anak, dan lainnya.
"Biasanya saat mengambil uang simpanan akan dikenai sejumlah biaya. Inilah bedanya dengan perbankan yang hanya mengutip biaya administrasi sekadarnya, selain itu resiko sangat kecil. Berbeda jika menambung dengan jasa `bank keliling` yang ada kemungkinan dilarikan," kata dia.
Tak hanya menabung, Bank Mandiri juga menerapkan hal serupa untuk ansuran kredit dengan melakukan penjemputan setoran.
"Ada pedagang yang meminjam uang ke Bank Mandiri, jika dihitung per bulan angsurannya Rp250.000. Jika dibayarkan sekali maka akan berat, tapi jika dijadikan per hari maka hanya membayar Rp7.500, tentunya ini tidak memberatkan," kata dia.
Untuk meningkatkan kepercayaan nasabah bahwa dana yang disetor telah diterima bank, maka petugas akan menyerahkan struk bukti penyetoran dan bisa langsung dicetak di buku rekening jika mendatangi kantor cabang.
"Edukasi ke masyarakat terkait pentingnya menabung pada lembaga resmi terus dilakukan Bank Mandiri, harapannya masyarakat juga dapat mengurangi kebiasaan konsumtifnya dengan menabung," kata dia.
Berdasarkan hasil data Bank Dunia tahun 2011, akses penduduk Indonesia terhadap bank masih tergolong rendah jika dibandingkan negara-negara tetangga yakni hanya 19,6 persen. Sebagai pembanding, Malaysia 66,7 persen, Fhilipina 26,5 pesen, Thailand 77,7 persen, Vietnam 21,4 persen, India 35,2 persen, China 63,8 persen, Rusia 48,2 persen, Brazil 55,9 persen.
Head of Region Bank Mandiri II Sumatera Bagian Selatan Toto Supriadi di Palembang, Selasa, mengatakan program ini merupakan misi perusahaan untuk menyelamatkan masyarakat kalangan bawah dari jeratan para rentenir.
Rentenir kerap beredar di pasar tradisional dengan menawarkan kemudahan dalam meminjam tapi suku bunga yang tinggi saat pengembalian dana.
"Mulanya agak sulit, tapi ketika dijelaskan bahwa petugas akan datang ke pasar mengambil langsung uang tabungan dalam satu pekan sebanyak satu kali, sejumlah pedagan mulai tertarik," kata dia.
Ia mengatakan selama ini mereka menabung dengan penjual jasa "bank keliling" rata-rata perhari Rp5.000 hingga Rp50.000.
Kemudian uang yang dikumpulkan itu akan diambil beberapa bulan mendatang untuk sejumlah keperluan seperti pulang kampung saat Lebaran, biaya pendidikan anak, dan lainnya.
"Biasanya saat mengambil uang simpanan akan dikenai sejumlah biaya. Inilah bedanya dengan perbankan yang hanya mengutip biaya administrasi sekadarnya, selain itu resiko sangat kecil. Berbeda jika menambung dengan jasa `bank keliling` yang ada kemungkinan dilarikan," kata dia.
Tak hanya menabung, Bank Mandiri juga menerapkan hal serupa untuk ansuran kredit dengan melakukan penjemputan setoran.
"Ada pedagang yang meminjam uang ke Bank Mandiri, jika dihitung per bulan angsurannya Rp250.000. Jika dibayarkan sekali maka akan berat, tapi jika dijadikan per hari maka hanya membayar Rp7.500, tentunya ini tidak memberatkan," kata dia.
Untuk meningkatkan kepercayaan nasabah bahwa dana yang disetor telah diterima bank, maka petugas akan menyerahkan struk bukti penyetoran dan bisa langsung dicetak di buku rekening jika mendatangi kantor cabang.
"Edukasi ke masyarakat terkait pentingnya menabung pada lembaga resmi terus dilakukan Bank Mandiri, harapannya masyarakat juga dapat mengurangi kebiasaan konsumtifnya dengan menabung," kata dia.
Berdasarkan hasil data Bank Dunia tahun 2011, akses penduduk Indonesia terhadap bank masih tergolong rendah jika dibandingkan negara-negara tetangga yakni hanya 19,6 persen. Sebagai pembanding, Malaysia 66,7 persen, Fhilipina 26,5 pesen, Thailand 77,7 persen, Vietnam 21,4 persen, India 35,2 persen, China 63,8 persen, Rusia 48,2 persen, Brazil 55,9 persen.
Pewarta : Dolly Rosana
Editor : Ujang
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Peringati Hari Pelanggan Nasional, RCEO BRI Region 4 Palembang sapa nasabah di Palembang
08 September 2025 13:58 WIB
Fakta Sidang: Teller bank BUMN di Palembang korupsi uang kas untuk umrah senilai Rp5,2 miliar
16 April 2025 22:08 WIB
BRI pastikan data nasabah aman, merespons dugaan serangan ransomware
19 December 2024 10:05 WIB, 2024
Terpopuler - Makro & Mikro
Lihat Juga
Desa Bukit Makmur raih penghargaan 15 desa terbaik nasional Program BRILiaN 2025
11 November 2025 15:18 WIB
Pusri resmikan Rumah Kompos di Desa Tebat Benawa, dukung pengembangan kopi lokal
18 July 2025 16:03 WIB
Gapki: Tanaman kelapa sawit di Sumsel butuh peremajaan untuk tingkatkan produksi
21 March 2025 11:00 WIB