Warga Kertapati Palembang tekuni usaha ikan asap
Sabtu, 9 Agustus 2014 19:06 WIB
Pedagang menunjukkan salah satu jenis ikan asap/salai. (Foto Antarasumsel.com/13/Feny Selly/Aw)
Palembang (ANTARA Sumsel) - Warga Kecamatan Kertapati Palembang, Sumatera Selatan, menekuni usaha ikan asap atau yang dikenal dengan ikan salai yang akhir-akhir ini semakin digemari masyarakat dalam dan luar kota setempat.
Pantauan Antara di kawasan permukiman penduduk Keramasan Kertapati dan jalan poros jembatan Musi II akses jalan lintas timur Sumatera antara Palembang-Lampung dan Palembang-Jambi, Sabtu, jumlah warga yang menekuni usaha ikan asap itu semakin banyak.
Kelompok masyarakat yang membuat ikan olahan atau diawetkan dengan cara tradisional pengasapan itu tampak dengan mudah dijumpai di kawasan Kecamatan Kertapati itu.
Salah seorang perajin ikan salai di kawasan jalan poros jembatan Musi II Palembang, Marwiyah mengatakan, lima tahun lalu perajin ikan salai di daerah ini hanya dirinya dan beberapa orang tetangganya saja.
Namun sekarang ini jumlahnya terus bertambah yang datang dari berbagai kawasan karena ikan salai tidak hanya diminati masyarakat Kota Palembang dan daerah Provinsi Sumatera Selatan lainnya, tetapi masyarakat dari provinsi lain yang biasa melalui jalan lintas timur tersebut.
Dengan tingginya peminat ikan salai, mendorong masyarakat ramai-ramai untuk menekuni usaha pembuatan ikan yang diawetkan dengan proses pengasapan itu, katanya.
Dia menjelaskan, ikan yang dijadikan bahan baku untuk diproses menjadi ikan salai dan sangat diminati masyarakat yakni ikan gabus, patin, dan ikan lais.
Ikan yang telah diproses menjadi ikan salai itu dijual dengan harga berkisar Rp25.000 hingga Rp65.000 per kilogramnya.
Melihat tingginya minat masyarakat terhadap produk yang dihasilkan dengan cara tradisional itu, pihaknya berupaya mengembangkannya dengan cara membuat kios yang lebih baik, namun upaya tersebut belum bisa diwujudkan dalam waktu dekat karena terbentur dana.
"Saya berniat untuk mengembangkan usaha tersebut dengan cara proses produksi yang lebih baik dan tempat berdagang yang nyaman, tidak di emperan atau di kios seadanya di pinggir jalan lintas poros jembatan Musi II ini," ujar Marwiyah.
Sementara Bank Sahabat Sampoerna Cabang Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel) menyatakan siap membantu pengembangan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) termasuk perajin ikan salai yang memiliki prospek bisnis yang cukup cerah.
"Untuk membantu pengembangan UMKM, kami siapkan plafon kredit mulai Rp500 juta hingga Rp5 miliar," kata Kepala Cabang Bank Sahabat Sampoerna Palembang, Kemas Afandi.
Dia menjelaskan bagi pebisnis yang akan memanfaatkan kredit usaha tersebut diberikan kemudahan membayar cicilan hingga lima tahun.
"Sebagai gambaran, kredit Rp500 juta cicilan per bulannya ditetapkan sebesar Rp45.602.370 untuk jangka waktu satu tahun sedangkan jangka waku lima tahun ditetapkan cicilan sebesar Rp12.426.280 per bulan," katanya.
Menurut dia, pihaknya membuka diri bagi pelaku UMKM di Kota Palembang dan beberapa daerah Sumsel lainnya yang membutuhkan dukungan dana atau modal untuk pengembagan usaha.
"Bank Sahabat Sampoerna hadir sebagai sahabat di tengah masyarakat Sumsel yang sedang giat membangun, kami siap membantu masyarakat yang memerlukan dukungan modal usaha serta pengelolaan keuangan," ujar Afandi.
Pantauan Antara di kawasan permukiman penduduk Keramasan Kertapati dan jalan poros jembatan Musi II akses jalan lintas timur Sumatera antara Palembang-Lampung dan Palembang-Jambi, Sabtu, jumlah warga yang menekuni usaha ikan asap itu semakin banyak.
Kelompok masyarakat yang membuat ikan olahan atau diawetkan dengan cara tradisional pengasapan itu tampak dengan mudah dijumpai di kawasan Kecamatan Kertapati itu.
Salah seorang perajin ikan salai di kawasan jalan poros jembatan Musi II Palembang, Marwiyah mengatakan, lima tahun lalu perajin ikan salai di daerah ini hanya dirinya dan beberapa orang tetangganya saja.
Namun sekarang ini jumlahnya terus bertambah yang datang dari berbagai kawasan karena ikan salai tidak hanya diminati masyarakat Kota Palembang dan daerah Provinsi Sumatera Selatan lainnya, tetapi masyarakat dari provinsi lain yang biasa melalui jalan lintas timur tersebut.
Dengan tingginya peminat ikan salai, mendorong masyarakat ramai-ramai untuk menekuni usaha pembuatan ikan yang diawetkan dengan proses pengasapan itu, katanya.
Dia menjelaskan, ikan yang dijadikan bahan baku untuk diproses menjadi ikan salai dan sangat diminati masyarakat yakni ikan gabus, patin, dan ikan lais.
Ikan yang telah diproses menjadi ikan salai itu dijual dengan harga berkisar Rp25.000 hingga Rp65.000 per kilogramnya.
Melihat tingginya minat masyarakat terhadap produk yang dihasilkan dengan cara tradisional itu, pihaknya berupaya mengembangkannya dengan cara membuat kios yang lebih baik, namun upaya tersebut belum bisa diwujudkan dalam waktu dekat karena terbentur dana.
"Saya berniat untuk mengembangkan usaha tersebut dengan cara proses produksi yang lebih baik dan tempat berdagang yang nyaman, tidak di emperan atau di kios seadanya di pinggir jalan lintas poros jembatan Musi II ini," ujar Marwiyah.
Sementara Bank Sahabat Sampoerna Cabang Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel) menyatakan siap membantu pengembangan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) termasuk perajin ikan salai yang memiliki prospek bisnis yang cukup cerah.
"Untuk membantu pengembangan UMKM, kami siapkan plafon kredit mulai Rp500 juta hingga Rp5 miliar," kata Kepala Cabang Bank Sahabat Sampoerna Palembang, Kemas Afandi.
Dia menjelaskan bagi pebisnis yang akan memanfaatkan kredit usaha tersebut diberikan kemudahan membayar cicilan hingga lima tahun.
"Sebagai gambaran, kredit Rp500 juta cicilan per bulannya ditetapkan sebesar Rp45.602.370 untuk jangka waktu satu tahun sedangkan jangka waku lima tahun ditetapkan cicilan sebesar Rp12.426.280 per bulan," katanya.
Menurut dia, pihaknya membuka diri bagi pelaku UMKM di Kota Palembang dan beberapa daerah Sumsel lainnya yang membutuhkan dukungan dana atau modal untuk pengembagan usaha.
"Bank Sahabat Sampoerna hadir sebagai sahabat di tengah masyarakat Sumsel yang sedang giat membangun, kami siap membantu masyarakat yang memerlukan dukungan modal usaha serta pengelolaan keuangan," ujar Afandi.
Pewarta :
Editor : Yudi Abdullah
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
PT Bintang Harapan Palma digugat KLHK, Saksi Ahli : Kebakaran gambut sebabkan bencana asap, rusak ekosistem dan banjir bandang
21 May 2025 20:52 WIB
Rest area KM 86 Tol Cipali terpaksa ditutup setelah muncul asap dari tanah
07 April 2025 16:19 WIB, 2025
Terpopuler - Makro & Mikro
Lihat Juga
Desa Bukit Makmur raih penghargaan 15 desa terbaik nasional Program BRILiaN 2025
11 November 2025 15:18 WIB
Pusri resmikan Rumah Kompos di Desa Tebat Benawa, dukung pengembangan kopi lokal
18 July 2025 16:03 WIB